26 Juni 2016

RATUSAN LENTERA MENGHIAS FESTIVAL DAMAR KURUNG 2016


foto dari FB Damar Kurung Fest
Setiap tahun Festival Damar Kurung dihelat. Mulai tahun 2012 hingga sekarang. Tempatnya pun berpindah-pindah. Untuk tahun ini lokasi Festival Damar Kurung berada di Kampong Kebomas Jalan Sunan Giri Gang 3 Kebomas Gresik Jawa Timur. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, pada tanggal 17 – 19 Juni 2016 akan dinyalakan ratusan damar kurung. Menurut penggagas Festival Damar Kurung ini, Novan Effendy yang akrab dipanggil Cak Opang, festival ini selain bertujuan untuk menghormati jasa Mbah Masmundari, juga bertujuan untuk mengingatkan masyarakat terutama warga Gresik akan keberadaan damar kurung yang kini sudah mulai terlupakan. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga sebagai salah satu upaya mengembalikan tradisi warga muslim Gresik dalam menyambut malam Lailatul Qodar. Jaman dulu,ketika menjelang malam Lailatul Qodar, warga muslim Gresik mempunyai tradisi menggantungkan lentera damar kurung di depan rumah.


Dari mana ratusan damar kurung itu?
Seperti pada postingan sebelumnya Pesantren Damar Kurung  merupakan rangkaian dari Festival Damar Kurung yang berdimensi edukasi kepada generasi muda agar menyukai kegiatan melukis dengan gaya damar kurung sebagai karya seni yang unik dan identik dengan ciri khas Kota Gresik. Nah, hasil karya peserta saat Pesantren Damar Kurung juga ikut menyemarakkan Festival Damar Kurung, termasuk lukisannya Kayla dkk nih. Lha lukisan Athiyah gimana nih, bisa ikutan apa enggak? Jawabannya sudah pasti tidak lah, lha wong gambar Athiyah berupa telur bulat-bulat doang, hehehehe...

Selain itu, untuk menyukseskan acara ini Mas Novan Effendy juga menggerakkan ratusan anak-anak sekolah untuk membuat damar kurung. Karya anak-anak dipandang lebih original dan natural. Adapun anak-anak yang digerakkan untuk melukis damar kurung tahun ini adalah anak dari sekolah di sekitar kawasan Kecamatan Kebomas dan kota untuk lebih efisien. Semoga tahun depan bisa lebih banyak lagi anak yang diikutsertakan dalam festival ini, lebih-lebih kalau seluruh kecamatan di kabupaten Gresik ini ikut berperan serta pasti akan lebih spektakuler. Dan keuntungan lainnya tentunya semakin banyak anak dan generasi muda yang mengenal damar kurung dan selanjutnya turut menjaga kelestarian seni budaya khas Gresik ini.
Sebagian damar kurung yang hampir siap dipasang

Apa sih Damar Kurung itu?
Bagi orang atau warga Gresik sudah familier ya...(tapi nggak yakin juga sih semua warga Gresik sudah tahu apalagi familier...para pendatang dan kaum mudanya banyak yang kurang tahu kayaknya)

Damar Kurung merupakan salah satu karya seni yang berupa hiasan atau motif-motif yang unik yang dilukis pada sarung lampion dengan media kertas, berbentuk segi empat berkerangka kayu/bambu. Hiasan atau motif yang tertuang dalam kertas itu berupa cerita kehidupan sehari-hari masyarakat Gresik. Penjelasan lain ada di postingan sebelumnya disini.Dan satu lagi yang tidak boleh ketinggalan yaitu lampu dop berwarna kuning untuk menerangi lampion khas Gresik ini.


Behind the scene

Pelaksanaan Festival Damar Kurung initidak akan terlaksana tanpa ada berbagai pihak yang membantu. Ada beberapa relawan yang turut berjibaku menyukseskan acara ini. Seperti membuat kerangka yang berbentuk kubus menempelkan hasil lukisan pada kerangka dan masih banyak lagi.
Para relawan bekerjasama untuk menyukseskan acara Festival Damar Kurung

Agenda Acara Festival Damar Kurung 2016

 Acara yang berlangsung selama 3 hari ini bertajuk :"DEKADE SEPENINGGAL MASMUNDARI". Berbagai kegiatan dapat kita saksikan dan kita ikuti disini seperti Dialog Kolektif Kampong, Art Performing, Contemporary Dance, Pameran Arsip, Pemutaran Dokumenter, Story Telling, Mural Damar Kurung & Street Art. Adapun agenda terjadwal dapat kita lihat di bawah ini:

Agenda acara di hari pertama:
Foto dari FB Damar Kurung Fest
 Agenda acara di hari kedua:
Foto dari FB Damar Kurung Fest
Adapun hari ketiga acaranya sebagai berikut:
Foto dari FB Damar Kurung Fest

Creative Market
Festival Damar Kurung ini tidak hanya melulu pameran damar kurung saja, tapi juga berperan dalam memberdayakan ekonomi masyarakat. Buktinya disini juga disediakan tenant-tenant kepada masyarakat sekitar yang ingin berjualan di area ini.
Ini beberapa tenant yang sempat saya abadikan:
Sebagian tenant yang ada
Anak-anak pun semangat turut menjaga tenant
Amplop karakter dari bahan flanel
Banyak lho jenis makanan dan minuman yang ada, tinggal pilih deh...
Ada pula tenant yang menjual damar kurung dan merchandise-nya


Mumpung ada kesempatan kami pun tak melewatkan untuk membeli merchandise damar kurung.

Perhatianku pun tertuju pada tenant yang satu ini. Membaca nama menu minumannya membuatku penasaran. Ada es eson, es gelis, es letrek, es seru, es lekoh (semuanya kata-kata khas Gresik bangeeett...). Aku pun membeli 3 cup dengan jenis minuman yang berbeda.
Kedai Gresikan
Pendukung Acara Damar Kurung Fest 
Acara ini didukung oleh banyak pihak. Tentu hal yang sangat membanggakan ketika setiap elemen masyarakat ikut berpartisipasi dalam melestarikan budaya khas gresik ini, apalagi jika didukung oleh pemerintah setempat. Adapun beberapa pendukung acara ini adalah : gresikkuseru, Serikat Mural Surabaya, Ayo Rek, Damar Kurung Institute, Majelis Pendidikan Kader Muhammadiyah Gresik, Menara (NGO: Study and research Center of Arab Ancestry in Indonesia), X-Go (perupa seni jalanan di Surabaya), Dhurung Elmo, Indonesia Mengajar, Hysteria. Ada juga dari media masa seperti: InfoGresik, Senigresik.com, GoodNews from Indonesia, M98,9. Tak ketinggalan Komunitas Dongeng Surabaya. Sebagai warga Gresik (meski pendatang) saya berharap Festival Damar Kurung ini ke depannya disupport penuh oleh pemerintah daerah setempat dan juga perusahaan-perusahaan yang ada di Gresik sebagai salah satu bagian dari program CSR mereka, seperti dari Semen Gresik, PT. Petrokimia, PT.Smelting, dll.



Kunjunganku ...
Pingin banget sebenarnya mengikuti acara-acara yang ada selama tiga hari. Namun itu tidak terwujud karena beberapa hal, apalagi acaranya malam hari. Tapi aku cukup senang bisa ke datang ke acara ini di suasana dan waktu yang berbeda. Dan memang aku sengaja begitu biar aku bisa tahu perbedaannya, karena aku sendiri jujur baru tahu kalau tiap tahun ternyata ada festival seperti ini. So, aku datang di hari kedua tapi saat sore hari sebelum maghrib, karena niatnya waktu itu mau ke festival ini sambil ngabuburit sekalian mencari takjil buat berbuka puasa. Karena masih sore cahaya dari damar kurung masih kalah dengan sisa-sisa cahaya matahari di siang hari.
Suasana Festival Damar Kurung di sore hari
Sudah mulai ada pengunjung tapi masih sedikit
Ratusan damar kurung sudah dinyalakan
Harus mengabadikan moment ini

Para pedagang mulai menata dagangannya
Selain itu di tembok rumah warga pun banyak dihiasi dengan karya seni mural.

Saat menyusuri arena Damar Kurung Fest ini, mataku tertuju pada sebuah bangunan unik yang designnya mirip damar kurung dan ternyata inilah Damar Kurung Insitute. Namun sayangnya aku tidak masuk ke dalamnya karena waktu itu putri kecilku sudah memintaku untuk terus berjalan melihat-lihat orang-orang yang berjualan.

Mabes Damar Kurung Institute
Hari semakin senja, damar kurung pun mulai nampak cahayanya. Menghiasi langit Kampong Kebomas menjelang berbuka puasa. Dan aku pun mengakhiri perjalanan di sore itu.


Di hari ketiga, aku datang pada waktu malam hari setelah sholat Tarawih.Ternyata suasana malam di antara damar kurung sangatlah indah. Kami pun merasa ecxited banget. Pengunjung pun sudah mulai berjubel. Mereka pun tak melewatkan moment ini berfoto bersama maupun selfie dengan latar belakang damar kurung ini.

Aku dan Athiyah

Pengunjungnya banyak banget
Kebetulan sekali malam ini acaranya adalah story telling dari Komunitas Kumpul Dongeng Surabaya. Kami pun asyik mengikuti acara ini. Apalagi Sang Pendongeng Nasional sekaligus Master Trainer Mendongeng dari Sanggar Chandrakirana Surabaya dihadirkan disini. Siapa lagi kalau bukan Ki Heru Cokro. Anak-anak dan semua pengunjung pun seolah tersedot ke acara ini. Anak-anak diajak mendengarkan dongeng sekaligus aktif mengikuti alur ceritanya dengan menyanyi bersama, berjingkrak, melompat, teriak dan tertawa. Athiyah pun tak mau pulang meski waktu sudah hampir jam 10 malam.

Doneng bersama Komunitas Kumpul Dongeng Surabaya

Sungguh asyik mendengarkan dongeng di bawah temaram cahaya damar kurung


Ki Heru Cokro sedang mendongeng

Setelah acara aku pun minta berfoto bersama Ki Heru Cokro yang disambut dengan senang hati oleh penulis buku Mendongeng dengan Mata Hati ini.

Malam ini begitu berkesan bagi kami. Cahaya damar kurung dalam Festival Damar Kurung 2016 ini memberikan kebahagiaan orang-orang yang berada disana. Bahkan malam itu, rembulan pun seolah malu-malu menyaksikan gemerlapnya damar kurung.

Rembulan di atas lentera
Sampai jumpa lagi tahun depan, aku akan selalu merindukan cahayamu.
NYALAKAN LENTERA, BIARKAN GRESIK BERCAHAYA.