27 Juli 2008

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL, 23 JULI 2008

SEBUAH PERENUNGAN DI HARI ANAK NASIONAL

Di hari tersebut, aku pun melakukan perenungan atas apa yang terjadi, baik pada diriku sendiri dan kejadian-kejadian yang aku temui seputar relasi orangtua dan anak. Uraian ini untuk mengingatkanku kembali bahwa masih banyak kekurangan-kekuranganku saat menjalani hari-hariku bersama putri kecilku...


"Ya Allah, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik, sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." (QS. Ali Imron: 38)

Saat kita merencanakan suatu kehamilan, maka kita juga melakukan persiapan secara lahir dan batin. Doa pun kita panjatkan agar Alloh memudahkan kita mengemban tugas yang sangat mulia, yaitu sebagai ibu.

Betapapun tinggi gelar kesarjanaan kita, begitu hebat karir kita, namun kita harus tetap mengemban amanah yang dititipkan Alloh di dalam rahim kita yang selanjutnya terlahir menjadi generasi baru, dan menjadi kewajiban kita untuk merawat dan mendidiknya sepenuh hati. Kita harus benar-benar mempersiapkan hati kita, batin kita untuk menjadi ibu. Siap mendengarkan tangis anak kita. Siap melayani anak kita, disaat kita sedang capek sekalipun.

Sekian banyak tanggung jawab harus kita jadikan sebagai karunia yang besar dan bukan sebagai beban. Memang... bukan pekerjaan yang mudah...

Belajar menjadi ibu tentu pada guru yang terbaik. Dan, guru yang terbaik itu adalah pengalaman kita sendiri... Mungkin bagi sebagian perempuan, menjadi ibu sering lebih asing daripada menjadi pengacara, dokter, direktur atau artis.

Pekerjaan menjadi ibu seringkali menjadi nomer dua setelah pekerjaan atau karir (disadari atau tidak, diakui atau tidak...)

Kegagalan atau keberhasilan seorang ibu tidaklah diukur dari seberapa tinggi anaknya dapat bersekolah, seberapa banyak gelar yang diraihnya atau seberapa banyak uang yang dapat dihasilkan dari pekerjaan anaknya kelak. Karena kalau demikian, berarti ia menjadikan anaknya sebagai objek. Lalu bagaimana seorang ibu menghadapi seorang anak? Jika anaknya hanya seorang, bagaimana ia menyiasati kecenderungannya untuk tidak terlalu melindungi anak semata wayangnya? Jika anaknya lebih dari seorang, bagaimana ia berusaha melawan sifat manusiawinya untuk lebih menyayangi anak yang penurut dan "membenci" anak yang berulah? Bagaimana seorang ibu memberikan keleluasaan pada anak untuk mengenali dunia dengan caranya sendiri tanpa terlalu banyak dikte darinya? Bagaiamana seorang ibu dapat menjadi teman dialog anak-anaknya tanpa tercemari kepentingannya sendiri?

Jawabannya ada pada kemampuan seorang ibu untuk menahan diri. Semakin besar kemampuannya menahan diri, semakin berhasillah seorang ibu berproses menjadi ibu sejati...

Seringkali sebagai orangtua kita merasa superior di hadapan anak-anak kita dan tanpa sadar telah menanamkan sindrom superioritas kita sebagai orangtua, karena orangtua lebih dewasa, lebih berpengalaman, lebih tahu salah dan benar. Sehingga anak mutlak harus patuh pada kita...
Sementara anak sesuai perkembangannya tentu ada masanya menentang orangtua, menolak otoritas orangtua... Apa yang harus dilakukan?
Bagaimana jika anak sedemikian "nakalnya" sehingga kita hampir selalu pada ambang batas kesabaran? Bagaimana jika anak tak pernah mendengarkan peringatan kita, tidak hanya sekali atau dua kali, tapi berulangkali? Apakah ketika kita meninggikan volume suara untuk mengungkapkan kekesalan kita anak kita tidak "terluka"?
Maka hanya satu jawabannya yaitu kesabaran...

Termasuk kesabaran untuk mengendalikan nafsu keibuan yang mengharuskan anak-anak kehilangan masa kanak-kanaknya dengan berbagai daftar les yang semuanya belum tentu menyenangkan bagi anak-anak... Lebih mengerikan lagi jika anak tidak pernah merasakan nikmatnya belajar, karena sejak usia yang sangat dini, ia hanya tahu bahwa yang namanya belajar adalah dengan konsentrasi penuh, tidak boleh main, dan pengalaman ketegangan antara keberhasilan dan kegagalan yang tak ada habisnya...

Menjadi orangtua tentu sudah tahu resikonya bahwa ia akan direpoti oleh anaknya. Namun, keegoisan kita terkadang membuncah sehingga tak sadar kita telah banyak menuntut pada anak. Menuntut agar ia menjadi anak yang hebat, anak nomer satu, anak manis, patuh pada orangtua, dsb yang intinya menjadi anak yang tidak ngrepoti orangtuanya. Padahal, tak ada seorang pun yang mau lahir di dunia hanya menjadi biang kerepotan orang lain.

Willy Breinholst pernah menulis sebuah perenungan seorang anak balita bernama Yakob yang sering membuat repot orangtuanya.

Kata Yakob, "Aneh deh, pada waktu mereka pulang dari kantor, dan pada waktu mereka menjemputku dari kelompok bermain, dan pada waktu mereka berjalan tergesa-gesa di pasar swalayan bersamaku, dan pada waktu mereka sampai di rumah...aku tidak boleh terlalu merepotkan sebab mereka pasti akan marah..."

Padahal Yakob hanya minta sesuatu yang sangat sederhana, yakni kesediaan mama dan papanya untuk mendengarkan ocehannya. Ia ingin sekali bercerita tentang segala hal yang dialaminya di kelompok bermain. Ia juga ingin mamanya sejenak membacakan buku cerita kepadanya. Tetapi, ocehan dan keinginannya itulah yang sering menjadikannya anak yang merepotkan.

Kata yakob, "Aku bukanlah balon sehingga mama bisa mengempeskan aku, menyimpanku di rak, dan...meniupku kalau mama membutuhkan..."
Anak dapat menarik-narik tangan dan hati kita tanpa peduli apakah uang, tenaga, dan kelapangan hati orangtua masih tersisa. Anak amat potensial untuk meminta sesuatu, bahkan yang tidak ada. Karenanya, anak adalah ujian bagi kadar cinta orangtuanya...
Orangtua hanya perlu menyediakan waktu bagi anak-anaknya...

7 komentar:

  1. Betul,Bun...Dan perlu hati yang 'luas' untuk cinta yang tak bertepi...
    Thx untuk posting ini,membangkitkan semangat kembali...

    BalasHapus
  2. Terimakasih bun... tulisannya bermanfaat bgt utk aku yg lagi belajar jd ibu ini...:)

    BalasHapus
  3. waaaaaaaah.. doa yang selalu aku panjatin tuh bund.. maklum.. pengen banget punya momongan.. hehehe.. =)))

    BalasHapus
  4. setuju bun.. sebenernya permintaan anak itu sederhana kok, hanya ingin dianggap keberadaannya (bukan u/ di jadikan objek).
    Tapi ya terkadang ada aja cobaan & rintangan spy kita bs menjadi org tua yg baik u/ anak2 kita ya bun.. makanya sy seneng bc2 ttg parenting ini sbg 'suplemen' spy sy tetep bersemangat berusaha menjadi ibu yg baik terutama di kala kita lagi kurang bersemangat ya bun..:)

    BalasHapus
  5. Subhanallah..bisa jadi bekal buat ntar kalo udah jadi ibu *insyaAllah*, salam kenal Bun.. :)

    BalasHapus
  6. anak-anak
    sebuah amanah yang luar biasa dariNYA...
    mudah2an bibirnya kan selalu basah dengan doa2 kepada kedua orangtuanya...

    BalasHapus
  7. nice posting Mom..bener yah krn kita udh punya anak,kadang aku sendiri suka over worried klo anak sakit...namanya bru jadi Ibu.
    Tp ada yg gk kumengerti klo ada Ibu yg meninggalkan anaknya ato menyuruh anaknya bekerja sedang dia hongkang2 kaki.

    Tfs yah Mom

    BalasHapus