12 September 2008

SAAT SI KECIL MASTURBASI

Menurut engkong Sigmund Freud, anak usia 4-6 tahun memasuki Fase Phallus yang ditandai dengan kenikmatan tertentu saat tangan anak meraba atau menyentuh alat kelaminnya sendiri. Ia juga merasakan kenikmatan saat alat genitalnya bergesekan dengan sesuatu.
Pasti deh kita sebagai orang tua (terutama kita2 yang masih baru nih jadi orangtua...)kaget jugakan...masa kecil-kecil sudah masturbasi... Karena kaget atau panik plus khawatir, kita akan meresponnya dengan mencela, mengingatkan dengan keras, mengancam, dan tidak sedikit pula yang memarahi si anak. Dengan kata lain, orangtua akan sebisa mungkin mencoba meyakinkan anaknya untuk tidak sekali-kali bermasturbasi.
Sebagai orangtua tentu kita dituntut untuk sebijaksana mungkin jika kita mengetahui anak kita "mempermainkan" alat kelaminnya. Kita jangan terburu-buru mencela, menghukum, dan menyebutkan tindakannya salah besar. Dan jangan pula memarahinya! Karena hal itu semakin membuatnya merasa bersalah, takut dsb. Menurut penelitian kedokteran, masturbasi merupakan aktivitas seksual yang WAJAR, NORMAL DAN TIDAK MEMBAHAYAKAN KONDISI KESEHATAN PELAKUNYA. Kalaupun ada anggapan pelaku masturbasi sering dihinggapi perasaan bersalah, takut dan merasa berdosa, itulah sebenarnya yang menjadi ancaman terhadap kesehatan jiwa si pelaku, bukan pada tindakan masturbasinya.
Kegiatan mempermainkan anak kelamin pada balita merupakan tahapan yang PASTI akan dialaminya dalam perkembangan seksualnya. Menghukumnya sama artinya dengan Anda tidak memperbolehkan anak balita Anda melewati satu tahapan penting dalam kehidupan seksualnya. Terimalah hal itu sebagai kewajaran dan kenormalan.
Lalu apa yang harus kita lakukan?
Kita dapat mengalihkan perhatiannya dengan memberinya berbagai kegiatan yang menyibukkannya, seperti bermain dengan mainan kesukaannya, mewarna atau menggambar, olahraga dan berbagai kegiatan yang menyita perhatiannya. Namun, itupun tidak akan menghentikan secara total aktivitas "mempermainkan alat genitalnya.
Pengertian, kesadaran, cinta dan kasih sayang orangtua akan jauh lebih bermakna dibandingkan, celaan, kritik keras, caci maki maupun kemarahan yang diberikan kepada anak kita tersayang.

Semoga tulisan ini bermanfaat, terutama buat Mama Arya.

5 komentar:

  1. GREAT! Bunda, buku apa yang di baca? he he... :)

    Satu faktor untuk mengalihkan kegitan tersebut adalah, Mari dampingi anak kita [saya blm punya anak, nikah aja blm] selalu. Karena dalam kesendirian lah anak akan berfikir yang tidak tidak. Jangan biarkan anak sendiri.

    Lebih dekat lah dengan anak, dan 'selalu ada' lah setiap saat.. :)

    Salam... :)

    BalasHapus
  2. setuju sekali dgn tulisan diatas.dan tindakan yg kita lakukan sbg ortu.karena melarang/memarahi bukan tindakan yg tepat.

    BalasHapus
  3. Oh gitu ya...Anak kecil juga bisa martubasi ya!!!
    Iya emang klo anak kecil dilarang atau dimarahin malah tambah jadi...Jadinya harus sabaaaarrrrr!!!

    BalasHapus
  4. wah bagus nih bun postingannya, jadi tau deh..sekarang
    makasih

    BalasHapus
  5. waduuuuh manfaaat banget nih postingan, trims ya mbak...

    BalasHapus