30 Maret 2008

PRINSIP MENUMBUHKAN KEMANDIRIAN

Ada beberapa hal penting yang dapat digunakan untuk menumbuhkan kemandirian pada anak, antara lain:

1. Menghargai anak sebagai pribadi.
Dalam penilaian orang dewasa anak sering "dianggap" melakukan kesalahan. Ini dapat "mematikan" keinginan anak untuk melakukan sesuatu. Disini orang tua perlu mendengarkan dan menanggapi mereka, perasaan-perasaan mereka diterima dan diberi tempat yang wajar, membesarkan hatinya bila anak melakukan sesuatu.

2. Kurangi kekhawatiran tentang anak-anak
Seringkali anak dapat melakukan sesuatu lebih dari apa yang kita duga. Banyak orangtua yang merasa kasihan dan tidak tega melihat anaknya mengerjakan sesuatu sendiri. Anak akan terhambat perkembangannya untuk mandiri bila orangtua belum mampu mengubah pikiran dan pandangannya atas dasar rasa kasihan sehingga menyebabkan orangtua terbiasa melakukan sesuatu untuk melayani anak. Sebaiknya anak diajari bagaimana melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Ini memerlukankesabaran dan ketrampilan orangtua. Perlakuan anak sebagai pribadi yang mampu segala-galanya sesuai dengan tanggung jawab dan kemampuan mereka.

3. Memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kebutuhan, dan kecakapannya.
Orangtua tidak membebani anak-anak dengan aturan-aturan hidup dan kerja keras yang mengandung sanksi-sanksi berat, tidak memaksakan aktivitas tertentu pada anak, tapi dengan menciptakan suasana dan fasilitas yang mendukung sehingga anak mendapat keleluasaan dan dukungan dalam beraktivitas.

4. Patokan etis yang jelas
Dalam keluarga hendaknya ada patokan tata kelakuan yang jelas, mana yang salah, mana yang benar. Adanya disiplin keluarga yang konsisten serta pasti.Tapi, tetap tertuang harapan agar anak-anak hidup dan bekerja berdasarkan keyakinan sendiri dan tidak mentaati peraturan dari orangtua secara buta. Anak-anak diberi keleluasaan untuk berinisiatif.

Menumbuhkan Kemandirian Pada Anak

"Kita bisa belajar berbagai hal dari anak-anak, misalnya bagaimana kita harus bersikap sabar". (Franklin P. John)

Di setiap detik kehidupan yang kita rasakan semakin menyajikan banyak hal, situasi, masalah, kesulitan, hambatan dan tantangan baru. Dari kondisi demikian, setiap anggota masyarakat dihadapkan pada persaingan yang semakin ketat dalam meraih kesuksesan. Salah satu hal yang dapat membantu kita untuk hidup secara efektif dan produktif adalah kemandirian. Namun, kemandirian itu tidak muncul begitu saja pada diri setiap individu. Hal ini harus dibina sejak dini dan dimulai dari lingkungan keluarga.

PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN ANAK

Early Childhood (1-3 tahun)
Pada masa awal anak-anak (early childhood), biasanya sudah mulai terlihat jelas naluri mereka untuk mengerjakan sesuatu sendiri. Menurut Erik H. Erickson, pada usia ini (1-3 tahun) anak mempelajari apakah yang diharapkan dari dirinya, apakah hak-hak dan kewajibannya dan apa saja pembatasan-pembatasan yang dikenakan pada dirinya. Dalam hal ini, "kemampuan" dan "kebebasan" yang telah diperoleh anak akan mendorongnya terus untuk melanjutkan perkembangannya ke arah kemandirian. Dalam usia sekitar satu tahun terlihat jelas naluri "do everything themselves" . Sampai sekitar umur 3 tahun, kita akan merasakan betapa kerasnya kemauan anak untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Kemauannya sangat keras seolah-olah dia yang "menguasai dunia". Dalam hal ini, kita sebagai orang dewasa (orang tua) seringkali berpikir bahwa anak kecil masih belum bisa apa-apa, ditambah lagi kekhawatiran kita akan akibat dari perilaku anak kecil kita, sehingga kita sering berkata "jangan", "nggak boleh", "tidak" dsb. Hal ini justru membuat anak kesal, berontak, ingin protes (ngambeg) karena frustasi. Ia akan menentang apa saja yang menghalangi keinginannya. Nilai kemauan ini berkembang baik dari diri anak sendiri maupun dari orang lain apa yang diharapkan dan apa yang boleh diharapkan.

Hal yang perlu mendapat perhatian dari orangtua bahwa:
1. Dalam usia ini anak belum mengerti secara utuh dan juga belum menyadari tingkah lakunya.
2. Anak belum bisa melindungi dirinya sendiri dari akibat perbuatannya.
3. Anak bisa sangat keras kepala sehingga campur tangan orangtua akan membuatnya merasa dihalangi sehingga mereka kesal dan berontak (menjerit, meronta, menendang).

Peran orangtua, pengasuh (lingkungan) yang diharapkan:
1. Berilah kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk "bergerak". Anak harus didorong untuk mengalami situasi-situasi yang menuntut otonomi dalam melakukan pilihan bebas.
2. Melindungi dari bahaya di sekitarnya, misalnya menjauhkan benda-benda tajam, benda yang mudah terbakar, meledak dll. Lingkungan harus aman bagi anak-anak.
3. Tidak menakut-nakuti dan tidak mudah memarahinya karena anak bisa tidak kreatif , takut melakukan sesuatu dan kurang mandiri yang ujung-ujungnya akan merepotkan orangtua juga. Selain itu anak tidak akan berkembang ke tahap-tahap kemandirian berikutnya.
4. Bimbinglah anak dengan banyak memberikan penjelasan dengan bahasa yang sesuai dengan usianya. Beritahu akibat positif atau negatif dari apa yang dilakukannya.

Play Age (3-5 tahun)

Pada usia pra sekolah ini, kemampuan berbahasa (berbicara) dan berfantasi menirukan perbuatan orang lain dan melakukan permainan-permainan tertentu seperti symbolic plan. Seiring dengan meningkatnya kemampuan berbahasa, berfantasi dan rasa ingin tahunya, anak semakin mampu menangkap kejadian atau peristiwa di sekitarnya. Namun karena tidak disertai tingkat inteligensi yang memadai, seringkali ia salah mengerti dan menafsirkan terhadap perlakuan orang lain. Hal ini menimbulkan rasa cemas pada dirinya karena sering dianggap "salah". Dalam kondisi seperti ini orangtua tidak boleh "mematikan" kemauan anak, tapi lebih mendorong anak untuk lebih mengambil peran. Bila lingkungan (terutama orang tua) bersikap menyalahkan, anak akan merasa malu, rendah diri dan takut melakukan suatu tindakan. Otomatis, hal ini akan mengurangi kemandiriannya di kelak kemudian hari).

School Age (6-12 tahun)

Dorongan kemandirian anak semakin jelas. kemampuan kegiatannya mulai berorientasi ke tugas dan kepuasan untuk mencapai hasil akhir yang baik. Keinginannya berperan di dalam rumah mulai meluas keluar rumah. Kepatuhan dan kedekatan pada orang tua mulai "berkurang" digantikan oleh teman sebaya, guru, dll. Ia lebih kagum pada orang lain atau figur idola. Kepatuhan sangat penting dalam pembinaan dan kepatuhan erat sekali dengan penegakan disiplin.

29 Maret 2008

Kepada Anakku

Tanganku sibuk sepanjang hari
Aku tak punya banyak waktu luang
Bila kau ajak aku bermain
Kujawab, "Ibu tak sempat, Nak!"
Aku mencuci baju, menjahit, memasak...
Semua Untukmu...

Tapi bila kau tunjukkan buku ceritamu,
Atau mengajakku berbagi canda,
Kujawab, "Sebentar, Sayang..."

Dimalam hari kutidurkan kamu,
Kudengarkan doamu, kupadamkan lampu
Lalu berjingkat meninggalkanmu

Kalau saja aku tinggal barang satu menit lagi,
Sebab hidup itu singkat...tahun-tahun bagai berlari,
Bocah cilik tumbuh begitu cepat...

Kamu tak lagi berada di sisi ibu,
Membisikkan rahasia-rahasia kecilmu,
Buku-buku dongengmu entah dimana,
Tak ada lagi ajakan bermain,
Tak ada cium selamat malam,
Tak lagi kudengar doamu,
Semua milik masa lalu...

Tanganku, dahulu sibuk...
Sekarang diam...
Hari-hari terasa panjang membentang.
Kalau saja aku bisa kembali ke masa lalu,
Menyambut hangat disisiku
Memberi waktu dari hatiku...!!!


Gabriella Mistral