29 April 2009

THE 10th AWARD for KAYLA

Kayaknya ada musim award lagi nih... barusan beberapa hari yang lalu dapat award, sekarang sudah dapat lagi nih, makasih ya buat kak Ida yang super baik dan cantik... Semoga Kayla dikirimin terus awardnya, he he he (ngarep.com)
Ini dia awardnya...



ini rulesnya:

1. The winner can put the logo on his/her awesome blog.
2. Link the person you received your award from.
3. Nominate at least 7 other blogs.
4. Put links of those blogs on yours.
5. Leave a message on the blogs of those you've nominated

Tagnya buat: adik Nia, Talitha, Ke2Nai, bunda anin, neng zeeva, daffa, raihan

SAAT ANAK MOGOK SEKOLAH

Sudah beberapa minggu ini Kayla mogok sekolah. Kami sebagai orangtua terus berupaya "menangani" masalah ini. Sampai-sampai beberapa posting terakhir selalu berkaitan dengan hal tersebut.
Nah, sekarang aku posting beberapa catatan yang barangkali bisa jadi bahan sharing buat para orangtua yang menghadapi hal serupa. Catatan ini hasil aku browsing, sharing dengan teman dan tentunya pengalaman aku sendiri. Meski aku belum berhasil dengan sempurna "mengatasi" mogok sekolah ini, namun Kayla sudah banyak kemajuan. Artinya dia sudah mampu mengatasi sedikit demi sedikit disaat ogah-ogahan bergabung dengan teman2nya dan sudah nampak enjoy saat di sekolah.
Disimak ya...

Pada awalnya semua berjalan dengan begitu manis dan baik-baik saja. Ia sangat bersemangat berangkat dan masuk sekolah. Namun, saat-saat yang tidak "nyaman" itu pun terjadi, yaitu saat permata hati kita mogok sekolah. Saat anak kita mulai ogah-ogahan bersekolah, kita sebagai orangtua harus segera menyelidiki apa penyebabnya. Proses ini memang tidak sekali jadi, apalagi kalau anak kita masih berada di play group atau TK yang nota bene besar kemungkinan ia akan sulit untuk mengungkapkan dengan tepat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya atau barangkali anak kita termasuk anak yang kurang ekspresif. Bisa jadi ini merupakan kegiatan yang "sangat" melelahkan".

Memaksa seorang anak untuk menceritakan mengapa ia tidak mau sekolah kemungkinan sama menantangnya dengan membuatnya masuk sekolah. Jadi, bila anak kita belum mau cerita mengapa ia menolak untuk masuk sekolah, biarkan dahulu keadaan ini, sambil kita mencari cara untuk membuat ia bercerita atau bahkan mencari hal yang membuat ia mau kembali ke sekolah.
Orangtua harus terus mencari berbagai kemungkinan yang menyebabkan anak mogok sekolah, seperti:

1. Anak merasa jenuh dengan rutinitas berangkat tepat waktu atau mengerjakan PR.

2. Anak menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan di sekolahnya.

3. Anak mulai mogok saat pertama masuk sekolah dan harus menghadapi lingkungan baru.

4. Beberapa penelitian menemukan kasus separation anxiety (takut berpisah dari orangtua karena merasa kurang percaya diri sendiri).

5. Bosan. Metode pengajaran yang kurang menarik sehingga membuat anak mudah bosan dan malas ke sekolah.

6. Suasana sekolah yang membuat anak kurang nyaman. Misalnya karena terlalu sesak atau panas.

7. Masalah sosialisasi dengan teman atau guru. Misalnya ada teman yang kurang disukai atau guru yang menurutnya tidak menyenangkan.

8. Anak merasa lebih betah di rumah karena tidak ada yang mengatur dan bebas bermain-main.

Seringkali saat anak mogok sekolah awalnya disertai dengan banyak alasan seperti sakit perut, sakit kepala, masih mengantuk, sakit tenggorokan atau alasan lain. Namun sakitnya atau keluhannya akan segera hilang ketika mereka diijinkan tinggal di rumah dan kembali sakit lagi keesokan harinya saat harus berangkat ke sekolah lagi. Keluhan tersebut tidak ada saat hari libur.

Kemungkinan besar anak akan coba-coba bernegosiasi dengan orangtua, untuk menguji ketegasan dan konsistensi orangtua. Jika ternyata pada suatu hari orangtua akhirnya luluh maka keesokan harinya anak akan mengulang pola yang sama.

Menurut Leah Davis, M.Ed (konselor dari Departement of Counseling and Counseling Psychology Auburn University) school phobia atau didaskaleinophobia adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah. Anak fobia sekolah biasanya merasakan tidak aman, sensitif dan seringkali tidak tahu bagaimana harus menghadapi emosi yang mereka rasakan. Mereka terlihat tegang dan mungkin terlihat sakit secara fisik setiap saat harus masuk sekolah.

Bagaimana menangani fobia sekolah ini?
Memang bukan pekerjaan yang mudah. Terkadang orangtua terpaksa bersitegang dengan anak karena menemui jalan buntu. Diperlukan kesabaran dan keuletan yang berlipat-lipat.
Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, antara lain:
1. Anggaplah hal itu sebagai hal yang "wajar", dalam arti saat anak mogok sekolah, tahan dulu untuk memarahinya. terus selidiki penyebabnya. Prose ini biasanya yang rumit, tergantung apakah anak sudah memahami dan mengerti apa sebenarnya yang membuat dia tidak nyaman. selain itu juga dipengaruhi oleh kemampuan anak dalam berkomunikasi. Orangtua harus kreatif dalam hal ini.

2. Charles Linden (penemu The Linden Methods yang khusus mengatasi fobia) mengatakan bahwa tujuan utama penanganan fobia sekolah adalah segera kembali ke sekolah. Semakin lama tidak sekolah, semakin sulit untuk kembali. Makin lama anak diijinkan tidak masuk sekolah, akan makin sulit mengembalikan. Selain itu, anak akan makin sulit menyesuaikan diri dengan teman-temannya, dan juga akan makin ketinggalanpelajaran.

3. Orangtua tetap bersikap hangat, penuh pengertian namun tegas dan bijaksana sambil menenangkan akan lebih baik sesampainya di sekolah. Selain itu, orangtua harus menekankan pentingnya sekolah dan beri masukan positif tentang tempat belajar tersebut. Orangtua bisa melepaskan anak secara bertahap. Tidak masalah jika anak hanya datang di perpustakaan dan masih menolak masuk kelas. Yang terpenting adalah anak tetap mau sekolah.

4. Perilaku bukan anaknya.
Saat anak ogah-ogahan berangkat ke sekolah, tunjukkan ketidaksetujuan kita terhadap perilakunya, bukan terhadap si anak. Betapapun seriusnya kelakuan "buruk" si anak, kita harus menjelaskan kepada anak bahwa yang tidak kita senangi adalah perilaku buruknya, bukan dirinya. Bukan pula orangtua menolak dirinya. Jadi daripada berkata, "Dasar, anak bodoh!" (menunjukkan bahwa orantua menolak anaknya) sebaiknya orangtua berkata, "Jangan bolos sekolah ya!"
Jangan menyuruh anak pergi sekolah dengan mengatakan, "Ibu/Ayah ingin kamu berangkat sekarang!". Ini bisa menciptakan konflik antara orangtua dengan anak. Strategi yang lebih baik adalah langsung menekankan peraturan secara impersonal. Misalnya, "Sekarang sudah jam 07.00 lho sayang. Waktu kamu untuk berangkat". Dalam cara ini, setiap konflik atau perasaan marah yang etrjadi pada diri anak hanya akan terjadi antara anak dengan "jam"-nya, bukan dengan orangtuanya.

5. Luangkan waktu.
Banyak orang bilang bahwa bagi orangtua yang keduanya bekerja kualitas pertemuan lebih diutamakan. Tapi itu kan pikiran orangtua , belum tentu demikian halnya dengan anak-anak. Anak-anak tetap butuh kuantitas pertemuan dengan orangtuanya, tentunya selain menjaga kualitas pertemuan juga.

6. Tawarkan reward, misalnya jika anak rajin maka akan dibelikan jajan atau mainan. Berikan yang kira-kira sangat disukai anak kita.

7. Tahan kegiatan atau hal yang menyenangkan bagi anak, sampai dia masuk sekolah. Misalnya tidak boleh nonton tv dulu sebelum masuk sekolah, dsb.

8. Dekatkan anak dengan guru dan teman-temannya. Anak yang merasa nyaman dengan lingkungannya akan lebih mudah untuk bergabung dan mengikuti kegiatan sekolah.

Menghadapi anak balita memang kadang tidak terlalu mudah. Jika dibiarkan sesuai kehendak mereka, kita juga salah. Tapi, terlalu dipaksakan juga salah. Jadi, kearifan orangtua akan sangat berpengaruh pada keberhasilan membimbing anak-anak kita.

20 April 2009

THE 9th AWARD for Kayla dan PR...

Kali ini Kayla dapat award dari Kak Nur Maulida di Surabaya. Kak Ida ini sering banget nengokin Kayla di blog. Makasih ya kak Ida, buat awardnya juga... Semoga Kak Ida semakin smart dan cantik lahir batin. Amiin...

Ini dia awardnya...
Kayla langsung terima dengan kedua tangan terbuka sambil lari2 kecil kecentilan, he he he...



Ini dia PR-nya...
Meski akhir2 ini Kayla lagi ogah2an sekolah, tapi tetap mau dong ngerjain PR dari Kak Ida...biar tambah rajin sekolahnya, he he he...

Pertama, buatlah daftar 10 hal dan kebiasaan (buruk) yang tidak disukai, namun apabila merasa terdapat lebih dari 10 hal/kebiasaan buruk yang tidak disukai maka silahkan ditulis semuanya.
Kedua, sebutkan juga alasan mengapa Anda tidak menyukai hal-hal/kebiasaan-kebiasaan (buruk) tersebut.
Dan yang ketiga, setelah selesai membuat daftar dan penjelasan seperti yang tertera pada poin 1 & 2, maka silahkan men-tag 10 blogger lainnya.

Fakta...10 hal yang nggak disukai Kayla...

1. Kayla nggak suka minum obat, karena obatnya banyak yang pahittt... (katanya). Jangan ditiru ya teman2...

2. Kayla nggak suka dengar suara geledek, karena berisik (sambil nutup kupingnya nih...)

3. Kayla nggak suka ada tikus, karena bikin ngeri. (matanya jelalatan nih, takut kalo ada tikus di got)

4. Kayla nggak suka teman yang bikin usil, karena (katanya) nyebelin...he he he...

5. Kayla nggak suka ditinggal sendirian, karena takuut... Ini juga jangan ditiru yang teman2... harus berani dong Kay...

6. Kayla nggak suka tidur sendiri, karena belum berani (kecuali kalo sdh tidur pulas trus dibiarin tidur sendiri, he he...)

7. Kayla nggak suka waktu belajar digangguin, karena bisa nggaj jadi deh belajarnya.

8. Kayla nggak suka dimarahin, karena jadi bete deh...

9. Kayla nggak suka olahraga, karena capek... (weleh weleh...jangan gitu dong, ayo olahraga biar sehat)

10. Kayla nggak suka digodain, karena dia pasti akan teriak karena marah.

Nah itu dia 10 hal yang nggak disukai Kayla...
Untuk persyaratan yang ketiga, silahkan aja monggo yang bersedia...

18 April 2009

BERENANG BARENG TEMAN-TEMAN


Meski sampai saat ini Kayla masih ogah-ogahan ke sekolah, namun waktu acara berenang kemarin Kayla mau ikut. Meski, awalnya masih nggak mau, tapi nggak berapa lama akhirnya mau juga nyebur dengan teman2nya. Untuk murid yang muslimah berenang session pertama, sementara untuk siswa muslim/cowok session kedua.
Ayoo...kayla yang semangat berenangnya...

14 April 2009

MASIH TENTANG "MASALAH" KAYLA


Sabtu, 11 April kemarin alhamdulillah sesampainya di sekolah Kayla tidak mogok lagi. Ia langsung mau bermain dengan temannya, Farah. Meski dia masih bilang minta ditunggui tapi ketika aku tinggal dia nggak ada masalah. Betapa senangnya hatiku saat itu, dan berharap semoga selanjutnya akan seperti itu. Sorenya saat mengaji di masjid Kayla pun mau berangkat bareng temannya depan rumah, tanpa aku antar. Kebetulan masjid tempat dia ngaji di gang sebelah. Kayla juga mau ikut baris. Begitu juga hari Seninnya. Aku senang bukan main melihat perkembangannya 2 hari ini.

Tapi,ternyata hari ini, 14 April Kayla "mulai" lagi. Selama di rumah sebelum berangkat nggak ada masalah apa2, seperti hari2 sebelumnya. Dia berangkat ke sekolah dengan senang, aku yang antar dia. Tapi, sampainya di sekolah, Kayla nggak mau bergabung dengan teman2nya dan lengket terus sama aku. Meski nggak nangis tapi dia nggak mau ikut kegiatan. Lama2 dia mulai ikut tapi tetap dengan aku di dekatnya. Sampai masuk kelas pun aku diminta ikut.
Tapi sampai jam 09.00 saat makan snack, aku mulai memberi kode pada ustadzahnya karena aku harus mengajar. Kayla menangis saat aku tinggal. Tapi kata ustadzahnya nggak lama, terus dia mau ikut kegiatan dengan teman2nya. Aku disarankan ustadzahnya agar kalau mau ninggal Kayla sejak dari awal saja (saat bel masuk), karena setelah ditinggal (meski menangis sebentar) Kayla mau ikut kegiatan sampai selesai. Mengaji pun hari ini minta diantar, alasannya capek kalau jalan kaki.

Hari ini, diumumkan lagi bahwa Kamis besok anak2 akan diajak renang di kolam renang di luar sekolah. Kayla pun sudah mulai pasang "aksi"
"Bu, kalau nggak ditunggui Kayla nggak mau ikut renang" katanya sambil mau nangis.
"Iya, nanti ibu tunggui"
"Nggak mau diantar thok, tapi ditunggu ibu"
"Iya, iya...jangan khawatir"
"Kayla mau baca sendiri "tulisannya" (pengumuman dari sekolah)
"Iya...kamu baca sendiri..."
Lalu aku ambilkan buku komunikasi dari sekolah.
Kayla pun membacanya dengan muka hampir nangis.
"Nah kan, anak2 harus diantar sampai ke kolam renangnya"
"Tapi Kayla mau ditunggui"
Rupanya Kayla hanya menemukan kata "diantar" bukan "ditunggui"
Teliti juga dia, dan nggak bisa "dikelabuhi"
"Tenang aja, ibu antar nanti..."
"Pokoknya ditunggui..."
"Iya iya, insya Allah ditunggui"

Sehabis maghrib aku ajak dia ngobrol dari hati ke hati sambil dia makan buah sawo...
"Kayla, kenapa sih dulu Kayla kalo sekolah nggak pernah nangis,tapi sekarang kok nangis?"
Aku melihat jelas perubahan ekspresi wajahnya, seperti mau menangis.
Kayla masih diam saja...
"Dulu Kayla berani, nggak ditunggui. Sekarang kok minta ditunggui terus?"
Belum ada respon. Hanya perubahan ekspresi wajah saja yang kulihat...
"Emang ibu ada salah ya sama Kayla?"
Masih belum ada respon juga.
"Iya ta? ibu salah ta sama Kayla?"
"Ibu nggak boleh kerja!"
Gelegarrrr........
"Kalo nggak kerja nanti ibu nggak punya duit buat beli jajan dan mainan"
Aku mencoba memberi alasan.
"Pokoknya ibu nggak boleh kerja...!"
Sepertinya, inilah jawabannya.

Ada lagi, saat dia tiba2 ngomong sendiri...
"Ibu nggak boleh kerja di kubaca... Ibu kerja saja di pabrik permen!"
Haaaahhh....apa maksudnya nih?
"Emangnya kenapa?"
"Enak kerja di pabrik permen...enak..."
"Nggak ada murid-muridnya kalo di pabrik permen..."
Oalaaahhh, ternyata dia jelaous...
Ternyata dia minta perhatian yang lebih dari aku...
Apalagi tantenya, yang biasanya menemani dia di rumah, sudah jarang datang karena suatu hal, sehingga Kayla sering ikut aku...
Dia sangat kehilangan dengan tantenya...
dan tentu "merasa" kehilangan perhatianku...meski menurutku aku sudah memberikan perhatianku padanya, tapi ternyata belum cukup...

Apalagi sudah 2 bulan ini setiap minggu aku harus ke kampus untuk nambah ilmu, dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore...
Beberapa kali juga Kayla menangis, katanya:
"Ibu nggak boleh sekolah!"
"Kayla mau sama ibu!"
"Ibu di rumah aja!"

Kayla protes dengan semua itu...
Ya Allah...berilah aku kekuatan untuk mengatasi semua ini...
Berilah aku kesabaran yang lebih lagi...
Jadikanlah semua menjadi lebih baik lagi...

05 April 2009

MOGOK LAGI NIH...


Memang...hari-hari ini penuh dengan berbagai upaya agar Kayla bisa ceria lagi di sekolah. Mulai dari penjelasan tentang baik dan buruknya kalo tidak sekolah (pastinya dengan bahasa yang mudah dimengerti olehnya), reward and punishment, motivasi, perhatian dan komunikasi. Hal ini sampai melibatkan teman2ku untuk turut mensupport Kayla agar senang lagi pergi ke sekolah.

Ternyata, reward and punishment-nya masih kurang mempan buat Kayla. Jumat, 3 April kemarin, sorenya Kayla aku antar ngaji di masjid. berangkatnya sih biasa aja meski dia tetap nggak mau ikut baris dengan teman2 yg lain. Aku nggak paksain dia untuk ikut baris. Lama-lama dia jenuh nunggu giliran ngajinya dan mulai merajuk minta pulang. Awalnya aku bujuk, tapi lama lama dia malah menangis minta pulang. Setelah nggak bisa dibujuk akhirnya aku minta ijin untuk pulang saja karena aku lihat Kayla sdh mulai ngantuk dan capek setelah seharian main trus ikut belanja lalu ke kantor bank sama aku. Tapi...dia tetap merengek minta beli mainan dan jajan. Tapi aku tetep kekeuh nggak mau belikan dia jajan dan mainan karena dia nggak mau ngaji (ini kesepakatan kami yang telah dibuat, kalo nggak ngaji maka nggak beli mainan atau kue). Kayla nangis semakin kencang di masjid dan sambil marah. Aku teteup kekeuh nggak nuruti kemauannya. Lalu aku ajak pulang. Sebenarnya nggak tega juga, tapi harus tega agar dia belajar mematuhi kesepakatan dan disiplin.
Sampai di rumah masih menangis dan aku diam saja nggak berbuat sesuatu, karena untuk saat itu dia sudah nggak bisa dikasih pengertian. Keras kepalanya mulai nampak. Karena kecapekan, akhirnya dia pun tertidur.

Sabtu pagi, saat disinggung tentang sekolah dia mulai merajuk lagi dan menangis bilang nggak mau sekolah. Bergantian aku dan bapaknya memberi pengertian, memotivasi sambil dipeluk, dipangku tapi tetap hasilnya masih nihil. Saat mandi pun dia tetap bilang nggak mau sekolah. Sambil mandi pula aku kasih pengertian kalo nggak sekolah akan jadi bla bla bla... Kayla tetap tidak mau. Akhirnya aku coba beri dia kebebasan memilih, kalau sekolah konsekuensinya begini2...kalo nggak mau sekolah konsekuensinya begini2....
Kayla tetap bilang nggak mau sekolah, tapi sepertinya dia mulai mikir...

Saat pakai baju aku pun sudah pakaikan baju buat sekolah (Sabtu pakai baju bebas) dgn harapan ia mau berubah pikiran. Tiba mau pakai sepatu, dia sdh menolak dan nangis lagi... Akhirnya aku dan suami buat kesepakatan dengannya karena dia kelihatan sudah benar2 nggak mau berangkat. Sabtu ini dia diijinkan nggak sekolah dengan segala konsekuensinya nggak boleh membeli sesuatu pun dan Selasa harus mau ke sekolah. Ia pun setuju...
Selama siangnya, ketika teman2nya membeli sesuatu ternyata Kayla bisa pegang janjinya. Ia tidak minta beli seperti teman2nya padahal biasanya kalau temannya beli dia pasti ikut beli. Ia pun minta kue yang sudah dia punya.

Siangnya, sepulang dari kantor suami (aku ada acara disana)dan ketemu penjual jagung rebus Kayla pun mulai mempengaruhiku...

"Bu, Bapak nggak pingin jagung ta?"
"Nggak..."
"Nanti gimana kalo Bapak kepingin?"
"Nggak, Bapak nggak bilang kok kalau mau jagung"
"Nanti Bapak minta jagung lho..." ???? (proyeksinya mulai keluar nih...)
"Nggak, Bapak sedang di Surabaya kok..."
"Emang Kayla pingin jagung ta?"
"Nggak..." tapi dia kelihatan mupeng sama jagung, tapi aku pura2 nggak tahu aja.

Sorenya, setelah ngaji dia minta diajak ke Bunderan Taman Bermain. Karena sudah mau ngaji maka aku pun mengabulkannya. Dia kelihatan asyik sekali main perosotan dan ayunan. Disana ketemu Ustadzahnya Kayla di sekolah. Kayla kelihatan malu sekali, ditanya nggak mau jawab dan lari ke tempat mainan lain. Aku cerita2 deh sama Ustadzah Nur tentang kondisi Kayla belakangan ini.
Setelah Ustadzah permisi duluan, Kayla minta naik mobil mini (sewa) tapi aku nggak kasih karena hari ini dia nggak mau sekolah.
Katanya, "Hari Selasa ya Bu, naiknya..."
"Iya, asal Kayla mau sekolah..."
Kayla juga minta beli VCD, tapi aku juga nggak kasih...
"Selasa ya Bu, belinya..."
Kayla juga kelihatan sekali pingin beli mainan.
Trus kami ke baby shop buat beli susu. Disana banyak sekali mainan. Dia juga pingin banget beli... Tetap aku konsekuen. Katanya lagi-lagi:
"Selasa ya Bu, belikan ini"
"Insya Allah..."
Aku tunggu nih apa yang terjadi hari Selasa dengan harapan Kayla sudah nggak mogok lagi...

02 April 2009

MOGOK SEKOLAH...OH NO... SCHOOL PHOBIA...JANGAN DONG...!!!

Emang bingung banget ya kalo anak mogok sekolah. Aku ngalami sendiri nih... Kayla mogok sekolah mulai 21 Maret 2009. Awalnya Kayla nggak mau sekolah dengan alasan sakit perut, pusing dsb. Tapi aku tahu dia hanya cari alasan saja... Dia selalu "ogah" kalo sdh membicarakan sekolah dia pasti antipati dengan respon menangis. Aku sudah berupaya untuk mengajak dia ngobrol tentang hal ini, aku kasih reward dan punishment untuk tidak mogok sekolah. Tapi selama ini belaum berhasil. Dan parahnya, tgl 31 kemarin Kayla benar-benar nggak mau sekolah, karena setiap kali dibujuk rayu untuk berangkat ke sekolah dia menangis. Akhirnya aku putuskan bersama suami hari itu Kayla ijin dulu tidak masuk dengan satu syarat hari itu ia nggak akan dibelikan buku, jajan atau mainan.

Aku pikir barangkali ia pernah disakiti temannya atau bertengkar dengan temannya. Ia sih pernah bilang begitu. Trus aku konsultasi dengan ustadzahnya, lalu anak ybs ada masalah dengannya saling meminta maaf. Sampai sekarang pun aku terus berusaha memberikan pemahaman padanya bahwa temannya nggak nakal tapi mau bermain sama dia. Atau barangkali kekhawatiran Kayla terlalu tinggi sehingga cemas jangan2 nanti disakiti temannya lagi...Ini yang masih aku cari...
Tapi kayaknya inipun bukan yang utama...karena Kayla akhirnya selalu bilang "Kayla males sekolah" atau "Kayla capek sekolah" Haaa...????? Tuing-tuing ... kepala nyut2an juga nih...
Tapi aku tetap usahakan ia ke sekolah dengan menciptakan suasana "senang dan menyenangkan" kalau ia mau ke sekolah, meski kenyataannya ia selalu menangis saat sudah sampai di sekolah.

Hari Sabtu 21 Maret, aku coba menemaninya di sekolah dari awal sampai akhir. Kayla sama sekali nggak mau lepas dari aku. Akupun sampai ikut masuk ke kelasnya, sambil mengobservasi situasi relasi Kayla dengan temannya. Selama ada aku di dekatnya dia sih OK-OK aja, tapi kalau aku mau nunggu di luar aja dia nggak mau dan malah menangis.

Aku melihat Kayla sepertinya membutuhkan rasa aman yang lebih banyak. Dan kami juga masih punya banyak PR buat Kayla agar dia lebih percaya diri. Tanggal 24 Maret kayla diantar tantenya ke sekolah, kejadiannya masih sama. Dia menangis dan tidak mau ditinggal. Tapi, ustadzahnya menyarankan agar Kayla nggak usah ditunggui, meski awalnya menangis minta ditunggui sampai pulang sekolah. Sepulang sekolah dia nampak nggak ada masalah dengan di sekolah. Dia juga enjoy aja cerita tentang di sekolah.

Hari ini, 2 April hal sama terjadi lagi. Kali ini aku yang ngantar dia ke sekolah. Aku tunggui sampai sekitar setengah jam, saat kegiatan masih di luar, senam dan bermain bersama. Tapi,lagi-lagi Kayla nempel terus dan nggak mau ikut kegiatan. setelah ada "kesepakatan" dengan ustadzahnya, aku pun meninggalkan dia dengan ustadzahnya meski dia menangis saat aku tinggal. Tapi, saat pulang sekolah dia pun ceria seperti biasanya. Karena sudah mau sekolah "meski masih menangis" aku pun kasih dia reward berupa mainan dan jajan yang dia mau. Katanya, "Enak ya Bu kalo sekolah...Kayla boleh beli jajan banyak..." Tentu tak kusia-siakan moment itu untuk semakin memperkuat dia agar lebih semangat ke sekolah.

Semua itu aku lakukan setelah aku coba browsing tentang masalah ini. Kalau semakin lama dia dibiarkan nggak sekolah, maka dia akan semakin sulit menyesuaiakan diri dengan teman-temannya. Aku melihat sepertinya (diagnosa awal nih...) Kayla mulai jenuh sehingga mogok sekolah... Barangkali ia sudah mulai bosan dengan rutinitas harus bangun pagi, mandi, terus berangkat ke sekolah...bla..bla.... Kayla merasa lebih betah di rumah karena bebas bermain-main.
Sebagai orangtua, kami berusaha unuk tetap memberikan perhatian pada dia, toh kami juga bukan termasuk orang-orang yang sibuk banget...berusaha mengerti dia, tapi harus tetap tegas dan bijaksana dan berupaya terus untuk mampu menenangkan dia sampai di sekolah.

Nggak gampang lho ternyata...
Setelah aku pikir-pikir, Kayla sepertinya memang mengalami yang namanya SCHOOL PHOBIA. Awalnya beralasan sakit perut, pusing...tapi kalo dikasih tahu boleh nggak masuk hari itu, sakitnya langsung hilang dan ceria lagi... Ia merasa cemas dengan dirinya kalo di sekolah tanpa ibu. Apalagi di saat yang bersamaan di rumah ia selalu takut kalau ada tikus. Takut banget sampai2 ia harus selalu ditemani...pernah ada kejadian tikus masuk ke rumah, dan kadang si tikus "hadir" di atas plafon rumah dengan suara larinya yang khas...yang membuat Kayla tambah takut meski kita selalu meyakinkan dia bahwa tikus itu takut pada manusia...bla...bla...

Kami juga terus memberikan pengertian padanya tentang pentingnya sekolah... Kami juga selalu menawarkan reward bila Kayla nggak mogok sekolah. Dan tetap berusaha konsisten untuk menahan memberikan sesuatu padanya bila tetap mogok sekolah. Pelan-pelan dan pasti kami selalu berharap Kayla bisa "normal" kembali.
Jadi kangen juga ya lihat Kayla ceria berada di sekolah...Barangkali ini merupakan salah satu fase terpenting juga buat perjalanan hidup putri kecilku...
Tapi, ibu tetap dan selalu bangga padamu, Sayang...
Doa ibu dan bapak selalu buatmu...
MOHON DOANYA BUAT KAYLA YA TEMAN-TEMAN....