15 Desember 2010

RESOLUSI 1432 HIJRIYAH

Di awal tahun baru 1432 H ini, tiada yang lebih indah yang bisa kulantunkan dalam bibir dan benakku selain rasa syukur yang luar biasa kepada Sang Khaliq. Karena hanya dengan kebesaran-Nya aku masih bisa menghirup udara di dunia ini, aku masih bisa menatap putri kesayanganku dengan tingkah polahnya yang lucu, kepandaiannya yang kadang tak kuduga, meskipun sesekali juga membuatku tak mampu menahan emosi dikala dia sedang “berulah”. Tetapi justru semua itu yang selalu membuatku berharap untuk hidup satu hari lagi dan satu hari lagi…

Dengan kehendak-Nya pula aku masih bisa merajut kebersamaan yang agung dengan suamiku tercinta, seseorang yang telah memberikanku berbagai pengalaman hidup, suka dan duka, tawa dan tangis dalam menjalankan bahtera hidup dalam keluarga kecil kami.

Hampir tujuh tahun sudah kujalani hidup sebagai istri dan ibu. Mungkin itu waktu yang belum seberapa untuk menguji ketangguhanku sebagai seorang perempuan, sebagai seorang ibu rumah tangga dan sekaligus sebagai wanita yang bekerja. Bagiku selama ini, tugas sebagai ibu rumah tangga jauh lebih sulit dari karir apapun. Bagiku karir sebagai ibu rumah tangga tak hanya menyangkut soal memasak, melayani suami dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga saja. Tapi karir ini berkaitan dengan tugas mulia dalam merawat dan mendidik manusia.

Sehingga tidak salah bila ada orang yang mengatakan bahwa karir sebagai ibu rumah tangga memerlukan pendidikan yang sama atau bahkan lebih tinggi dari karir apapun karena ini berhubungan dengan kualitas manusia yang ada di tangannya.

Demikian juga halnya dengan diriku. Meski dari segi pendidikan formal aku hanya sampai strata satu, tapi aku tidak mau berhenti sampai disitu. Aku harus dan terus membulatkan tekad untuk selalu belajar dan belajar. Bagiku belajar tidak hanya ditempuh dalam pendidikan formal, tapi lebih pada belajar dari pengalaman dan belajar dari peristiwa di sekitar kita. Belajar untuk menjadi ibu memang haruslah pada guru yang terbaik. Dan guru yang terbaik dari seorang ibu adalah pengalamannya sendiri. Bagi aku, sebagai seorang perempuan, lembaga keluarga menjadi sebuah lembaga pemrosesan diri yang tak ada tandingannya. Itulah kekuatan yang aku pikir ada pada diriku. Selalu ada kemauan untuk terus belajar, karena hanya dengan wawasan dan pemahaman yang luas aku bisa mewujudkan cita-citaku sebagai ibu yang baik, istri dan wanita yang bermanfaat bagi sekelilingku. Aku harus mampu bersikap sebagai orang yang terdidik, yang artinya aku harus berusaha untuk melakukan upaya nyata menerapkan nilai-nilai ideal dalam membina rumah tangga sekaligus dalam menghadapi pekerjaan dan dalam pengambilan keputusan.

Sekilas itu kelihatan mudah. Tapi sesungguhnya itu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Karena dalam belajar itulah diperlukan keikhlasan, kerja keras, dan kesabaran. Tak jarang akan ditemui hambatan yang terkadang mampu menggoyahkan niat awal kita dalam belajar kehidupan.

Hambatan yang ada seringkali justru berasal dari diriku sendiri. Terkadang muncul rasa kurang percaya diri untuk menjadi perempuan sejati, terutama bagi keluarga. Inilah kelemahanku. Ketika aku bercermin menatap kedalaman nurani diri. Disanalah aku bisa melihat siapa diriku sebenarnya. Mungkin ada bias disana. Ketika aku mengatakan pada putriku agar bisa menjadi putri yang sholihah, apakah diriku sebagai ibu sudah mengupayakan seoptimal mungkin membekalinya dengan dasar-dasar akhlak yang mulia? Atau ketika aku berdoa agar nasib diri berubah, sudahkah aku bisa merubah pola pikir, sikap dan mengoptimalkan upaya lahiriahku untuk mencapainya?

Satu lagi yang menjadi kelemahanku adalah kesulitanku dalam membagi waktu. Kadang terjadi tarik menarik dalam diriku ketika aku harus membagi waktu antara keluarga, pekerjaan dan waktu buat diriku sendiri, meski yang terakhir itu menjadi sesuatu yang “mahal” untukku saat ini. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa bagi wanita yang bekerja di luar rumah dan terikat dengan jam kerja, hal ini sering menjadi dilema tersendiri. Begitu juga aku. Terkadang pekerjaan di tempat kerja harus dibawa pulang sehingga mengurangi waktu kebersamaan dengan keluarga. Atau sebaliknya, kadang di tempat kerja masih memikirkan “urusan” rumah. Bekerja adalah sebuah pilihan bagiku, sehingga aku pun harus siap dengan konsekuensi apapun yang muncul dari pilihan itu.

Di atas semua itu, aku masih memiliki kesempatan yang luar biasa dalam menggapai periode 1432 H. Untuk menghadapi hidup kita di tahun depan, pasti dibutuhkan batu pijakan yang jelas tentang mau dibawa kemana ruh dan jasad kita ini. Sebagai diri pribadi, anggota keluarga, lebih-lebih sebagai hamba Alloh SWT. Di satu tahun ke depan ini, sudah seharusnya kita membuat target-target untuk kita perjuangkan. Aktivitas apapun itu, tentu butuh target-target karena tentunya kita sangat sadar bahwa hidup ini terlalu berharga untuk dibuat melakukan tindakan yang tak jelas arah dan tujuannya. Untuk itu aku harus membuat sebuah arah kebijakan atau resolusi. Sehingga jelas mau kemana, menjadi apa dan meraih apa besok di tahun yang akan datang. Setidaknya dengan adanya resolusi tersebut bisa menjadi tolok ukur apakah di akhir tahun besok aku menjadi orang merugi, beruntung atau bahkan celaka.

Bagiku membuat target tak harus muluk. Aku yakin, resolusi yang kelihatannya sederhana tapi justru bisa menjadi dasyat karena hasilnya begitu terasa dan konsisten keberadaannya. Ada beberapa resolusi yang merupakan kesempatan bagiku untuk mewujudkannya, antara lain: membiasakan sholat lebih tepat waktu, melaksanakan puasa Senin-Kamis dengan lebih konsisten, lebih memperhatikan belajar anakku di rumah (apalagi tahun depan anakku sudah masuk SD), membantu anakku agar lebih mandiri dan disiplin dalam keseharian, lebih perhatian pada urusan memasak makanan untuk suami dan anak, membiasakan membaca Al Qur’an setiap hari dan lebih intens lagi dalam membaca buku, apalagi masih ada beberapa buku yang sudah terbeli tapi masih belum sempat terbaca. Itulah resolusi “sederhana” yang aku harap bisa tercapai di tahun 1432 H. Itu semua memerlukan kerja keras, tekad yang kuat, sikap istiqomah, dan kesabaran.

Sejujurnya harus kuakui bahwa tidak mudah bagiku dan mungkin bagi sebagian orang untuk hidup di zaman ini karena saat ini hidup penuh dengan jebakan permainan dunia. Dari pagi sampai pagi lagi, kita dipenuhi dengan informasi dunia materi yang menyilaukan. Sementara informasi tentang ruhani sangatlah tidak seimbang. Memang, apapun bisa bernilai ibadah. Termasuk bekerja keras pun bisa bernilai ibadah. Pernyataan ini memang benar seratus persen. Tapi harus diuji secara pararel dengan ibadah yang lain, seperti sholat. Kalau untuk urusan bekerja selalu diupayakan sebaik-baiknya sedang kalau mendirikan sholat malas-malasan, maka pernyataan bekerja bisa bernilai ibadah bisa tidak bermakna apa-apa. Nah, sikap malas inilah yang seringkali melemahkan tekad untuk mencapai resolusi yang telah aku tetapkan di atas. Sikap malas inilah yang bisa menjadi ancaman bagiku. Sikap ini bisa menjadi racun yang bisa menggerogoti semangat yang telah dibangun, dan bisa-bisa menghancurkan semua resolusi yang telah aku canangkan untuk satu tahun ke depan.

Aku sangat menyadari bahwa sifat malas-malasan dan kurang percaya diri adalah batu sandungan yang harus aku singkirkan. Dan dengan kemauan untuk terus belajar mengubah menjadi diri yang lebih baik maka hambatan dan kelemahan itu sedikit demi sedikit bisa teratasi. Mungkin tidak terlalu revolusioner. Tapi, berubah ke arah yang lebih baik harus menjadi target dalam hidupku. Dengan semangat untuk terus belajar aku berupaya untuk mencapai resolusi satu tahun ke depan.

Setiap manusia harus punya mimpi atau harapan dalam hidup. Sangat mulia bila harapan dan impian itu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh dengan kerja keras dan cerdas. Mungkin mimpi itu harus diperjuangkan bertahun-tahun untuk meraihnya Hari demi hari. Minggu demi minggu. Bulan berganti bulan. Mimpi atau harapan itu terus diperjuangkan hingga suatu saat bisa menjadi kenyataan. Ada tiga hal yang selalu menjadi peganganku dalam mencapai mimpi dan harapan itu, yaitu: selalu menambah rasa syukur atas segala nikmat yang telah aku terima, harus selalu bersabar dalam menghadapi kesulitan atau masalah apapun, dan berusaha untuk selalu tawadhu (rendah hati).

Laa haulaa walaa quwwata illa billah…
Tiada daya dan kekuatan selain dariAllah SWT…



Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp

5 komentar:

  1. Bagus bener resolusi sederhananya bu..moga menang yach

    BalasHapus
  2. hiks...hiks...nggak jadi diikutkan mbak, lha wong daftare telat. Katanya pendaftaran tutup tgl 16 des, jam nya nggak ditentukan setahuku. Lha aku daftarkan tgl 16 des jam 19.00 lha kok sudah tutup. Semoga aja jurinya sempat baca tulisan ini dan masih bisa meramaikan lombanya.
    Tetap semangat...!!!

    BalasHapus
  3. Ooohhh ini ceritanya buat lomba yah Mba? Walopun telat, semoga jurinya tetep ngebaca yah tulisan Mba

    Btw semoga resolusinya bisa terwujud yah Mba.

    Selamat taun baru 1432 H

    BalasHapus
  4. wahh sayang amat, tapi mudah2an jurinya masih berbaik hati untuk di ikutsertakan heheh....dan smoga menang. amiin

    BalasHapus
  5. Kayla udah libur blm nih??? Selamat liburan ya :)

    BalasHapus