31 Desember 2010

PROSES PENDAFTARAN DI SD MUHAMMADIYAH GKB 1

Meski masih setengan tahun lagi Kayla bersekolah di SD, tapi prosesnya sudah dimulai dari bulan Desember yang lalu, bahkan inden di SD yang bersangkutan sudah aku lakukan saat Kayla masih duduk di TK A. Karena kalau tidak segera indent dan tidak aktif mencari informasi bisa jadi akan ketinggalan. Untuk sekolah-sekolah yang banjir peminat, memamg kita harus segera mungkin meng-indent-kan anak kita untuk mendapat “tempat” disana karena sudah pasti jumlah pendaftar melebihi jumlah quota yang disediakan sekolah.

Akhirnya, pilihan kami jatuh pada SD MUHAMMADIYAH GKB 1 dengan berbagai pertimbangan, terutama tentang kualitas sekolah. Sekolah ini sudah meluluskan 9 angkatan, Akreditasi A, dan telah meraih sertifikat ISO 9001:2008 dari TUV Internasional Indonesia dan masih banyak lagi hal yang tidak mungkin aku sebutkan satu per satu disini. Dan yang lebih penting dari itu, sekolah ini merupakan pilihan Kayla sendiri yang setiap kali ditanya mau pilih SD mana? Dia pasti menjawab SD Muhammadiyah GKB 1. (Kayla pernah diajak berkunjung oleh TK-nya ke beberapa sekolah untuk pengenalan SD).

Proses pendaftaran diawali dengan sosialisasi tentang proses pendaftaran. Seluruh walimurid yang telah indent didatangkan pihak sekolah untuk mendapatkan informasi tentang sekolah dan alur pendaftaran. Ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 11 Desember 2010.
Kemudian pendaftaran siswa baru diselenggarakan pada tanggal 13 s.d. 18 Desember 2010 dengan membayar uang pendaftaran dan DP 30% dari uang pangkal.
Hari Seninnya tanggal 13 Desember, begitu bank buka kami langsung transfer ke rekening sekolah dan membawa kwitansi dari bank tersebut untuk mendaftarkan Kayla. Ternyata, sepagi itu Kayla sudah dapat nomor peserta 19 (untuk mapping atau seleksi). Ternyata, para orangtua juga turut lomba “adu cepat” nih agar anaknya bisa mendapat nomor2 awal...he he...

Setelah mendapat nomer peserta mapping, jadwal selanjutnya adalah Tes/Screening Kesehatan yang dilakukan di RS Petrokimia. Jadwal Kayla screening kesehatan pada Selasa, 14 Desember 2010.

Jam tujuh pagi aku dan Kayla sudah berangkat ke RS Petrokimia agar tidak antri dengan peserta yang lain. Eh, sampai disana ternyata sudah ngantriiii..... (Kayla ijin tidak masuk sekolah untuk tes kesehatan ini).
Tes kesehatan meliputi: check up fisik secara umum, tes buta warna, tes penglihatan (normal atau minus dsb), dan tes pendengaran.

Kemudian, proses mapping tanggal 28 Desember 2010. Kayla masuk di Gelombang 1 jam 7.30 – 10.00. Materi mapping meliputi: kematangan sosial (kemandirian, keberanian, memahami perintah lisan); observasi emosi, afeksi, pembiasaan ibadah sehari-hari; pemahaman huruf dan angka.

Alhamdulillah, tes seleksi sudah dilalui dengan lancar. Sekarang tinggal berdoa menunggu hasil seleksi semoga Kayla bisa diterima di sekolah tersebut. Karena dari semua jumlah pendaftar hanya diambil separonya saja. Pengumuman bisa diakses di website sekolah.
Ketar-ketir juga nih.... Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kami.
Amiin...

PAWAI MUHARRAM 1432 H

Pawai Muharram setiap tahun diadakan di TK ABA 36 PPI. Diharapkan dengan acara ini anak-anak mengenal bahwa tiap tahun umat Islam juga memiliki tahun baru Islam. Yang selama ini diketahui anak-anak kan tahun baru masehi yang dirayakan dengan gegap gempita dengan ciri khas kembang api dan tiup terompet.

Dengan dirayakannya Tahun Baru Islam ini diharapkan anak semakin bangga dengan agama Islam. Selain itu, pawai ini juga untuk syiar ke masyarakat luas tentang tibanya Tahun Baru Islam yang selama ini masyarakan “kurang menghiraukannya” dibandingkan dengan tahun baru masehi.

Tahun ini pun, orangtua masing-masing siswa diberikan kebebasan untuk menampilkan kreativitasnya dalam “menghias” anak-anaknya agar lebih semarak. Untuk kelas yang kreatif dalam hiasan dan atribut serta kompak dalam yel-yel akan mendapatkan predikat juara. Alhamdulillah, kelas Kayla (Mango Group) mendapatkan juara II.

Ini dia “hasil karya” ibunya Kayla...he he he...
Kayla aku buatkan rompi, mahkota dan hiasan kaki dari kertas krep warna putih dan hijau yang dibentuk rumbai-rumbai dan bentuk bunga.
Kreatif nggak sih...?












Ini sebagian suasana dan teman-teman Kayla...
Hiasannya heboh-heboh semua....





15 Desember 2010

RESOLUSI 1432 HIJRIYAH

Di awal tahun baru 1432 H ini, tiada yang lebih indah yang bisa kulantunkan dalam bibir dan benakku selain rasa syukur yang luar biasa kepada Sang Khaliq. Karena hanya dengan kebesaran-Nya aku masih bisa menghirup udara di dunia ini, aku masih bisa menatap putri kesayanganku dengan tingkah polahnya yang lucu, kepandaiannya yang kadang tak kuduga, meskipun sesekali juga membuatku tak mampu menahan emosi dikala dia sedang “berulah”. Tetapi justru semua itu yang selalu membuatku berharap untuk hidup satu hari lagi dan satu hari lagi…

Dengan kehendak-Nya pula aku masih bisa merajut kebersamaan yang agung dengan suamiku tercinta, seseorang yang telah memberikanku berbagai pengalaman hidup, suka dan duka, tawa dan tangis dalam menjalankan bahtera hidup dalam keluarga kecil kami.

Hampir tujuh tahun sudah kujalani hidup sebagai istri dan ibu. Mungkin itu waktu yang belum seberapa untuk menguji ketangguhanku sebagai seorang perempuan, sebagai seorang ibu rumah tangga dan sekaligus sebagai wanita yang bekerja. Bagiku selama ini, tugas sebagai ibu rumah tangga jauh lebih sulit dari karir apapun. Bagiku karir sebagai ibu rumah tangga tak hanya menyangkut soal memasak, melayani suami dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga saja. Tapi karir ini berkaitan dengan tugas mulia dalam merawat dan mendidik manusia.

Sehingga tidak salah bila ada orang yang mengatakan bahwa karir sebagai ibu rumah tangga memerlukan pendidikan yang sama atau bahkan lebih tinggi dari karir apapun karena ini berhubungan dengan kualitas manusia yang ada di tangannya.

Demikian juga halnya dengan diriku. Meski dari segi pendidikan formal aku hanya sampai strata satu, tapi aku tidak mau berhenti sampai disitu. Aku harus dan terus membulatkan tekad untuk selalu belajar dan belajar. Bagiku belajar tidak hanya ditempuh dalam pendidikan formal, tapi lebih pada belajar dari pengalaman dan belajar dari peristiwa di sekitar kita. Belajar untuk menjadi ibu memang haruslah pada guru yang terbaik. Dan guru yang terbaik dari seorang ibu adalah pengalamannya sendiri. Bagi aku, sebagai seorang perempuan, lembaga keluarga menjadi sebuah lembaga pemrosesan diri yang tak ada tandingannya. Itulah kekuatan yang aku pikir ada pada diriku. Selalu ada kemauan untuk terus belajar, karena hanya dengan wawasan dan pemahaman yang luas aku bisa mewujudkan cita-citaku sebagai ibu yang baik, istri dan wanita yang bermanfaat bagi sekelilingku. Aku harus mampu bersikap sebagai orang yang terdidik, yang artinya aku harus berusaha untuk melakukan upaya nyata menerapkan nilai-nilai ideal dalam membina rumah tangga sekaligus dalam menghadapi pekerjaan dan dalam pengambilan keputusan.

Sekilas itu kelihatan mudah. Tapi sesungguhnya itu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Karena dalam belajar itulah diperlukan keikhlasan, kerja keras, dan kesabaran. Tak jarang akan ditemui hambatan yang terkadang mampu menggoyahkan niat awal kita dalam belajar kehidupan.

Hambatan yang ada seringkali justru berasal dari diriku sendiri. Terkadang muncul rasa kurang percaya diri untuk menjadi perempuan sejati, terutama bagi keluarga. Inilah kelemahanku. Ketika aku bercermin menatap kedalaman nurani diri. Disanalah aku bisa melihat siapa diriku sebenarnya. Mungkin ada bias disana. Ketika aku mengatakan pada putriku agar bisa menjadi putri yang sholihah, apakah diriku sebagai ibu sudah mengupayakan seoptimal mungkin membekalinya dengan dasar-dasar akhlak yang mulia? Atau ketika aku berdoa agar nasib diri berubah, sudahkah aku bisa merubah pola pikir, sikap dan mengoptimalkan upaya lahiriahku untuk mencapainya?

Satu lagi yang menjadi kelemahanku adalah kesulitanku dalam membagi waktu. Kadang terjadi tarik menarik dalam diriku ketika aku harus membagi waktu antara keluarga, pekerjaan dan waktu buat diriku sendiri, meski yang terakhir itu menjadi sesuatu yang “mahal” untukku saat ini. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa bagi wanita yang bekerja di luar rumah dan terikat dengan jam kerja, hal ini sering menjadi dilema tersendiri. Begitu juga aku. Terkadang pekerjaan di tempat kerja harus dibawa pulang sehingga mengurangi waktu kebersamaan dengan keluarga. Atau sebaliknya, kadang di tempat kerja masih memikirkan “urusan” rumah. Bekerja adalah sebuah pilihan bagiku, sehingga aku pun harus siap dengan konsekuensi apapun yang muncul dari pilihan itu.

Di atas semua itu, aku masih memiliki kesempatan yang luar biasa dalam menggapai periode 1432 H. Untuk menghadapi hidup kita di tahun depan, pasti dibutuhkan batu pijakan yang jelas tentang mau dibawa kemana ruh dan jasad kita ini. Sebagai diri pribadi, anggota keluarga, lebih-lebih sebagai hamba Alloh SWT. Di satu tahun ke depan ini, sudah seharusnya kita membuat target-target untuk kita perjuangkan. Aktivitas apapun itu, tentu butuh target-target karena tentunya kita sangat sadar bahwa hidup ini terlalu berharga untuk dibuat melakukan tindakan yang tak jelas arah dan tujuannya. Untuk itu aku harus membuat sebuah arah kebijakan atau resolusi. Sehingga jelas mau kemana, menjadi apa dan meraih apa besok di tahun yang akan datang. Setidaknya dengan adanya resolusi tersebut bisa menjadi tolok ukur apakah di akhir tahun besok aku menjadi orang merugi, beruntung atau bahkan celaka.

Bagiku membuat target tak harus muluk. Aku yakin, resolusi yang kelihatannya sederhana tapi justru bisa menjadi dasyat karena hasilnya begitu terasa dan konsisten keberadaannya. Ada beberapa resolusi yang merupakan kesempatan bagiku untuk mewujudkannya, antara lain: membiasakan sholat lebih tepat waktu, melaksanakan puasa Senin-Kamis dengan lebih konsisten, lebih memperhatikan belajar anakku di rumah (apalagi tahun depan anakku sudah masuk SD), membantu anakku agar lebih mandiri dan disiplin dalam keseharian, lebih perhatian pada urusan memasak makanan untuk suami dan anak, membiasakan membaca Al Qur’an setiap hari dan lebih intens lagi dalam membaca buku, apalagi masih ada beberapa buku yang sudah terbeli tapi masih belum sempat terbaca. Itulah resolusi “sederhana” yang aku harap bisa tercapai di tahun 1432 H. Itu semua memerlukan kerja keras, tekad yang kuat, sikap istiqomah, dan kesabaran.

Sejujurnya harus kuakui bahwa tidak mudah bagiku dan mungkin bagi sebagian orang untuk hidup di zaman ini karena saat ini hidup penuh dengan jebakan permainan dunia. Dari pagi sampai pagi lagi, kita dipenuhi dengan informasi dunia materi yang menyilaukan. Sementara informasi tentang ruhani sangatlah tidak seimbang. Memang, apapun bisa bernilai ibadah. Termasuk bekerja keras pun bisa bernilai ibadah. Pernyataan ini memang benar seratus persen. Tapi harus diuji secara pararel dengan ibadah yang lain, seperti sholat. Kalau untuk urusan bekerja selalu diupayakan sebaik-baiknya sedang kalau mendirikan sholat malas-malasan, maka pernyataan bekerja bisa bernilai ibadah bisa tidak bermakna apa-apa. Nah, sikap malas inilah yang seringkali melemahkan tekad untuk mencapai resolusi yang telah aku tetapkan di atas. Sikap malas inilah yang bisa menjadi ancaman bagiku. Sikap ini bisa menjadi racun yang bisa menggerogoti semangat yang telah dibangun, dan bisa-bisa menghancurkan semua resolusi yang telah aku canangkan untuk satu tahun ke depan.

Aku sangat menyadari bahwa sifat malas-malasan dan kurang percaya diri adalah batu sandungan yang harus aku singkirkan. Dan dengan kemauan untuk terus belajar mengubah menjadi diri yang lebih baik maka hambatan dan kelemahan itu sedikit demi sedikit bisa teratasi. Mungkin tidak terlalu revolusioner. Tapi, berubah ke arah yang lebih baik harus menjadi target dalam hidupku. Dengan semangat untuk terus belajar aku berupaya untuk mencapai resolusi satu tahun ke depan.

Setiap manusia harus punya mimpi atau harapan dalam hidup. Sangat mulia bila harapan dan impian itu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh dengan kerja keras dan cerdas. Mungkin mimpi itu harus diperjuangkan bertahun-tahun untuk meraihnya Hari demi hari. Minggu demi minggu. Bulan berganti bulan. Mimpi atau harapan itu terus diperjuangkan hingga suatu saat bisa menjadi kenyataan. Ada tiga hal yang selalu menjadi peganganku dalam mencapai mimpi dan harapan itu, yaitu: selalu menambah rasa syukur atas segala nikmat yang telah aku terima, harus selalu bersabar dalam menghadapi kesulitan atau masalah apapun, dan berusaha untuk selalu tawadhu (rendah hati).

Laa haulaa walaa quwwata illa billah…
Tiada daya dan kekuatan selain dariAllah SWT…



Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp

07 Desember 2010

BELAJAR AYAT KURSI

Kira-kira 3 minggu yang lalu Kayla minta diajari hafalan ayat Kursi. Aku pun mengajarinya dengan cara dia menirukan ayat Kursi yang kulafalkan. Tapi belum sampai selesai Kayla keukeuh mau belajar ayat Kursi sambil membaca sendiri ayat Kursi di Al Quran. Lha, sayangnya saat itu aku lupa ayat Kursi itu ayat keberapa dari surat Al – Baqarah. Setelah dicari-cari secara acak belum ketemu, akhirnya belajar ayat Kursi pun tertunda. Aku bilang tanya aja ke Bapak nanti kalau pulang kerja.

Tapi hari itu dan besoknya saya lupa nanya ke suami. (Tidak untuk dicontoh pelupa yang kayak begini nih……..)
Hingga hari berikutnya Kayla bilang lagi, “Bu, besok giliranku rekaman ayat Kursi di sekolah”.
DDUUUEERRRRR….
Aku baru ngeh kalau Kayla minta diajari ayat Kursi karena tugas dari sekolah untuk menghafalkannya dan kemudian direkam di sekolah. Kemarin-kemarinnya Kayla tidak mengatakan kalau ada tugas menghafal ayat Kursi. Tapi sebenarnya ini bukan kesalahan Kayla, tapi keteledoranku sebagai orangtua yang kurang memperhatikan materi pelajaran di TK nya. Aku kira itu hanya untuk sekedar latihan saja untuk perkenalan karena pikirku masih TK. Hal itu pula yang membuatku sadar bahwa akhir-akhir ini aku kurang perhatian dengan materi belajar Kayla di sekolah.
Maafkan ibu ya…Kayla…
Maafkan juga ya…ibu gurunya Kayla…
Maafkan kami karena kami telah teledor kali ini tentang materi belajar Kayla di sekolah.

Seketika itu juga aku ambil buku panduan Materi Al Islam dari sekolah yang telah diberikan kepada wali murid. Memang, sudah lama buku itu tidak aku lihat, sampai dimana materinya sekarang. Ternyata materinya sudah agak jauh dan sudah lama tidak aku lakukan pengulangan materi di rumah. Memang, akhir-akhir ini pula Kayla juga agak menurun semangatnya dalam mengaji, belajar, dan hafalan surat-surat pendek.

Sebenarnya Kayla sudah bisa menghafal 15 surat pendek, yaitu Al Fatehah, Al Falaq, An Naas, Al Ikhlas, Al kaafirun, An Nashr, Al Lahab, Al Fiil, Al Maa’un, Al Kautsar, Al Asr, Al humazah, Al Fiil, Al Qori’ah, dan Al Qodr. Namun, ada beberapa bagian yang lupa ayatnya karena akhir-akhir ini agak kendor mengulangnya, apalagi Kayla juga nggak ikut belajar ngaji di masjid.

Alhamdulillah, setelah beberapa kali diulang-ulang Kayla pun sudah hafal ayat Kursi-nya.

Semoga ini menjadi pelajaran yang selalu kami ingat, apalagi sebentar lagi Kayla sudah mau masuk SD yang tentunya muatan materi pelajarannya lebih berat daripada di TK.

Ya Allah..Ya Rabb…berianlah kami kekuatan dan kemampuan untuk selalu membimbing putri kami, agar menjadi manusia yang selalu tunduk kepada-Mu dan menjadi manusia yang membawa manfaat bagi dunia…. Amiin

03 Desember 2010

KE DOKTER GIGI

Selama ini Kayla sangat sulit diajak ke dokter, apalagi ke dokter gigi. Tapi, kali ini kami “berhasil” membujuknya karena gigi tetap Kayla sudah mulai tumbuh satu. Gigi Kayla memang banyak yang gigis karena sangat suka makan permen, coklat dan makanan yang manis-manis. Memang, ini salah satu “kesalahan kami” saat dia masih bayi. Sejak usia 8 bulan kala Kayla sudah mulai makan makanan pemula, dia sangat susah untuk makan. Maunya hanya ASI saja. Tentu saja aku bingung, salah satu yang saat itu aku anggap sebagai solusi adalah dengan memberikan tambahan sedikit gula pada buburnya, dan Kayla pun mau makan. Ternyata, solusi itu “salah” (meski saat itu Kayla mau makan), karena setelahnya itu sangat berdampak pada perkembangan dan pertumbuhan giginya. Yaa…itulah kalau orangtua baru yang bingung kala anaknya nggak mau makan. Apapun dilakukan, meskipun dengan memberikan sedikit gula pada makanan pertamanya. Meski sebenarnya sudah tahu bahwa itu tidak boleh dilakukan. Yang penting, jangan diulang lagi untuk anak yang kedua…. (apologi nih….)

Gigi tetap Kayla mulai tumbuh sekitar awal November ini. Gigi baru itu tumbuh di belakang gigi yang gigis. Kami tentu khawatir pertumbuhan gigi tetap tersebut akan terganggu, sehingga mau ndak mau gigi yang gigis tersebut harus dilepas. Sebenarnya gigi yang gigis itu sudah mulai goyang, namun Kayla sepertinya enggan untuk terus menggoyang-goyangkannya agar bisa lepas.

Kami beri penjelasan pada Kayla bahwa cabut gigi itu tidak menyakitkan karena ada obat anestesinya. Kita juga memberikan informasi yang menyenangkan tentang ke dokter gigi. Ternyata itu belum cukup bagi Kayla. Ia tetap saja tidak mau. Akhirnya kami beri tahu kalau gigi yang gigis tidak dicabut maka nanti giginya bisa tonggos kayak “temon” (maaf ya om temon….he he…)

Akhirnya beberapa hari kemudian Kayla pun mau ke dokter gigi karena tidak mau giginya tonggos seperti Temon dalam Abdel dan Temon…
Gigi Kayla pun dicabut pada tanggal 26 November…