05 November 2013

SUKSES MEMINUMKAN OBAT PADA BAYI

Bertolak dari pengalaman meminumkan obat pada anak pertama kami Kayla yang menurutku tidak/kurang berhasil (sampai sekarang Kayla sangat sulit minum obat. Aku coba cari infa sana sini bagaimana agar kita bisa meminumkan obat pada bayi bisa berlangsung dengan mudah. Kebetulan Athiyah mendapatkan obat penurun panas pertama karena imunisasi DPT.
Pertama kali minum obat Athiyah menangis dan berusaha mengeluarkan sebagian obatnya, bahkan saat minum yang kedua sempat dimuntahkan sehingga harus diminumkan obat lagi. Alhamdulillah, tidak sampai panas tinggi, hanya “anget” saja atau orang Jawa bilang “sumer”, tapi tidak lama.  Dengan minum obat 3 kali besoknya sudah tidak anget lagi.
Memang ada sebagian bayi yang langsung menyembur atau melepehnya, atau menutup rapat-rapat mulutnya ketika diberi obat. Pengalaman kemarin, Athiyah mau buka mulut tapi begitu terasa obatnya langsung mengernyit-ngernyitkan wajahnya lalu menangis dan sebagian dilepehnya. Nah, tentu sebagai orang tua ketika anak sakit dan harus minum obat kita berharap bagaimana bayi dapat minum obat dengan nyaman sehingga kedepannya anak tidak benci/takut minum obat. Ngiri juga kalau ada anak minum obatnya gampang banget.
Selama ini, untuk Kayla karena dia susah minum obat  maka aku agak memaksanya saat minum obat, sampai sekarang.  Bahkan terkadang harus dengan “marah-marah” dulu. Makanya sampai sekarang Kayla paling tidak suka  dan bahkan takut minum obat.
Nah, untuk anak kedua ini, Athiyah, tentunya kami barharap hal tersebut tidak terulang lagi, sehingga aku mencoba berusaha bagaimana caranya agar Athiyah bisa minum dengan mudah dan “enjoy”.
Dari browsing sana sini ada beberapa hal yang mesti aku perhatikan saat meminumkan obat pada bayi. Check it out...
1.       Tidak boleh melakukan pemaksaan seperti dipegangi agar tidak meronta-ronta agar nantinya tidak trauma dan semakin sulit minum obat. Selain itu dengan perlakuan seperti ini anak akan menangis dan bisa membuatnya tersedak. Pengalaman pertama Athiyah aku gendong meski dia sedikit berontak danmenangis. Pada kesempatan berikutnya dia aku tidurkan dengan posisi bantal agak tinggi. Meski sebagian dilepeh dan menangis (tapi tidak meronta) obat bisa masuk lebih banyak.
2.       Menggunakan alat bantu seperti sendok takar, pipet atau spuit tanpa jarum suntik. Untuk bayi, pemakaian sendok takar mungkin kurang efektif karena bila bayi meronta obat banyak yang tumpah. Untuk pemakaian pipet pilih yang berbahan plastik. Kalau pipet dari kaca beresiko pecah. Bila menggunakan pipet, jaga agar tidak mengenai mulut bayi agar tidak terkena bakteri. Nah ini aku yang belum lakukan, pipet masih aku masukkan ke mulut Athiyah tapi setelah itu aku cuci dan sterilkan biar aman. Selain cara di atas bisa memakai dot bayi. Obat dicampur dengan air gula lalu diminumkan pakai dot. Tapi airnya jangan terlalu banyak, misal 1 sendok teh obat sirop dengan 5-10 cc air lalu kocok sampai rata. Langkah ini tidak/belum aku lakukan karena Athiya masih sulit minumpakai dot.
3.       Bayi dalam posisi tegak (bayi duduk di pangkuan ibu) sehingga obat lebih mudah dimasukkan dan meminimalkan bayi tersedak.
4.       Memasukkan obat lewat samping mulut, tidak di tengah karena bisa masuk ke saluran pernafasan. Lebih aman memasukkan obat di kantong pipi kiri atau kanan.
5.       Berikan obat sebelum makan setengah jam sebelumnya, terutama ketika bayi yang sering muntah. Obat yang diberikan saat bayi kekenyangan bisa merangsang bayimemuntahkan makanan.
6.       Jangan membohongi. Meski masih bayi, tidak baik mengatakan bahwa rasanya manis. Bayi memiliki daya ingat yang tajam. Beri sedikit penjelasan meski kemampuan komunikasinya masih terbatas bahwa obat ini dapat menyembuhkan penyakitnya.
7.       Perhatikan dosis obat agar penyakit yang diderita bayi segera sembuh.
8.       Perhatikan tanggal kadaluarsa danlihat dengan seksama  warna , rasa dan baunya. Bila semuanya sudah berubah lebihbaik obat dibuang.
9.       Perhatikan cara penyimpanan obat. Puyer jangan disimpan di kulkas karena dapat mempengaruhi  tekstur puyer. Bila obat disimpan  di kulkas, keluarkan lebih dulu pada suhu ruangan sekitar 10 menit agar bayi kaget dengan rasa dinginnya.
10.   Bila bayi mendapat lebih dari satu obat, memberikannya boleh bergiliran tapi dalam waktu yang berdekatan.
11.   Hindari mencampur puyer denga sirop karena bisajadi puyer tidak larut dalam sirop. Larutkan obat puyer dengan air putih atau air gula. Cara membuat air gula : campur 1 sdm gula dengan segelas air, direbus sampai mendidih. Simpan air gula dalam wadah bersih dan tertutup.
12.   Hindari mencampur obat dengan madu atau jus buah. Bila dicampur dengan madu dikhawatirkan mengandung bakteri clostridium botulinum penyebab gangguan pencernaan pada bayi. Bila usia anak lebih dari satu tahun bisa dilakukan pencampuran obat dengan madu karena pencernaannya sudah lebih kuat. Bila dicampur dengan jus buah dikhawatirkan obat tidak larut.
13.   Tunggu setengah jam bila ingin minum susu karena ada beberapa obat tidak larut dalam susu.


Nah pada waktu minum obat yang lalu, ada 2 kali dimuntahkan kembali oleh Athiya, setelah aku konsultasi ternyata bila dimuntahkannya setelah diminumkan (kurang dari 10 menit) maka harus diulang dengan dosis dan takaran yang sama karena obat tersebut belum tercerna oleh bayi.

24 Oktober 2013

PROGRAM RAWAT GABUNG



Selain menjalani IMD, petugas RS pun menawarkan rawat gabung atau rawat pisah dengan konsekuensinya masing-masing. Seperti misal, kalau rawat gabung dimana bayi ada dalam satu kamar dengan ibunya maka kalau bayi nangis, BAB, BAK semua diurus oleh pihak keluarga kecuali kalau ada hal-hal tertentu yang bersifat emergency. Kelebihannya ibu bisa menyusui bayi secara langsung sehingga bisa ASI eksklusif.

Untuk rawat pisah, bayi ada dalam ruang neonatus sementara ibu di ruang perawatan. Kekurangannya, bayi diberi susu formula. Dari sumber yang pernah aku baca, seorang bayi baru lahir jika langsung dipisahkan dari ibunya rata-rata mengalami kehilangan kemampuan alamiahnya untuk mengisap sehingga harus belajar lagi dari awal dalam waktu yang lebih lama. Kelebihannya ibu bisa istirahat penuh karena tidak mengurus bayi.

Karena dari awal aku sudah berniat memberikan ASI eksklusif maka aku pilih rawat gabung. Selain alasan di atas, ditinjau dari pembayarannya juga jauh lebih murah dibanding rawat pisah. Rawat gabung dua kali lipat bayar kamar.

Dengan rawat gabung bisa puas-puasin melihat bayi kita yang lucu  dan nggemesin. Malam pertama kami dilalui dengan lancar dan baik. Si baby masih banyak tidur dan tidak bangun-bangun sehingga beberapa kali aku berusaha membangunkannya untuk minum ASI. Tapi malam itu si dedek belum mau banyak minum. Kata bidan hal itu tidak perlu dikhawatirkan karena bayi normal dilahirkan dengan cadangan air yang cukup dalam tubuhnya sehingga tidak memerlukan banyak cairan di hari-hari pertamanya. Tapi tetep minimal tiap 2 jam sekali harus dibangunkan untuk disusui.

Malam itu, saking bahagianya aku pun tidak bisa memejamkan mata. Baru jam 12 malam bisa mulai tidur tapi terbangun juga berkali-kali untuk melihat kondisi bayiku yang sedang tidur dengan damainya.
Hal itu juga didukung oleh kondisi kamar yang nyaman dan lapang.

22 Oktober 2013

INISIASI MENYUSU DINI (IMD)



Rasa syukurku semakin besar karena RS tempat aku melahirkan menerapkan proses IMD.

Bidan yang datang dengan membawa bayiku pun kemudian menelungkupkannya di atas perutku. Tanpa ada kain yang menutupi tubuhnya dia pun mulai bergerak-gerak dengan mata terbuka.Dia pun terus berusaha merayap di dadaku. Aku dan ibuku menjaganya agar sampai jatuh. Di awal-awal dia berusaha menggapai puting susu tanpa suara, namun sampai setengah jam belum berhasil. Rasanya tak tega dan ingin membantunya untuk segera menemukan puting susu itu, tapi dilarang sama bidan yang bertugas. Beberapa kali aku dibantu ibu dan juga bidan yang menunggui membenarkan posisinya yang hampir jatuh. Dia pun mulia merengek (tidak menangis keras) tapi aku lihat dia terus berusaha.

Tangan mungilnya terus merambat di tubuhku. Aduhai lucunya tangan kecil itu. Ketika hampir mencapai puting, dia terlihat kesulitan untuk menggapainya sehingga akupun tergoda untuk membantunya, apalagi mendengarkan dia mulai “merengek”, karena sudah terlalu lama dia berusaha. Aku lupa berapa lama tepatnya.

Setelah berusaha lagi dengan susah payah dia pun menemukannya, dia pun menghisapnya pelan-pelan dan semakin lama semakin kuat. Dia menghisapnya dan beberapa kali terlepas. Suatu perjuangan yang luar biasa bagi bayi sekecil itu (menurutku).

Aku lupa berapa menit dia menyusu untuk pertama kalinya. Aku yakin dia bisa mendapatkan air susu saat itu meski masih belum banyak, karena saat proses kelahiran saat putingku dipencet oleh bidan sudah keluar asinya.



APA DAN BAGAIMANA INISIASI MENYUSU DINI (IMD) ITU...?


IMD merupakan bagian dari proses persalinan dimana bayi yang baru lahir dalam satu jam pertama kehidupannya (tanpa dimandikan) langsung ditengkurapkan di atas perut ibunya dan dibiarkan sendiri mencari puting susu ibunya untuk kemudian dihisapnya.

Dia akan menggunakan insting penciumannya dan biasanya dalam waktu 50 menit ia akan berhasil menghisap puting tanpa bantuan.

Dalam satu jam pertama insting dan refleks bayi berlangsung sangat kuat. Proses IMD dilanjutkan dengan membiarkan bayi menyusu minimal setengah jam. ASI keluar atau tidak bukanlah masalah, karena yang dipentingkan adalah memberi kesempatan bayi untuk menjalankan instingnya mencari sumber makanan yaitu puting ibunya.


MANFAAT  IMD


Ada beberapa manfaat Inisiasi Menyusu Dini, antara lain :

1.  Menurunkan angka kematian bayi karena dengan IMD diharapkan bayi mendapatkan zat gizi penting yang dapat menghindarkan bayi dari penyakit berbahaya pada awal-awal masa kehidupannya yang masih sangat rentan. Bayi akan lebih terjaga kesehatannya mengingat ASI sangat steril karena diisap langsung dari sumbernya tanpa alat atau tangan yang mungkin terkontamisasi bakteri atau virus.

2. IMD memberikan kesempatan keberhasilan pelaksanaan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan. Mengapa? Karena sejak awal bayi sudah dikenalkan pada puting susu ibunya sehingga ia akan terbiasa dan mudah dalam menghisap ASI. Dengan kata lain anak lebih pintar menyusu dengan benar. Memang aku merasakan perbedaan dalam hal menyusu antara Kayla dengan adiknya. Kayla dulu saat menyusu aerola tidak masuk seluruhnya sehingga kedua puting lecet yang menyebabkan nyeri tak tertahankan. Bahkan ketika mau menyusui ada perasaan takut karena rasa sakit yang sangat. Untuk adiknya ini, menyusunya hampir tidak bermasalah dan berjalan oke-oke saja, hanya sempat lecet sedikit tapi tidak lama dan tidak terlalu sakit.

3. IMD memungkinkan bayi bersentuhan dengan kulit ibu agar kuman dari ibu memapar tubuh bayi dan membentuk antibodi yang akan meningkatkan daya tahan tubuhnya. Selain itu, dengan bersentuhannya kulit bayi dan ibu akan memberi kehangatan dan ikatan batin.

4. IMD mampu mempercepat penghentian pendarahan berkaitan dengan proses IMD yang dapat merangsang kontraksi otot rahim. Selain itu, rahim pun cepat kembali seperti semula.

Kami begitu yakin akan manfaat IMD tersebut, hanya sangat disayangkan kami tidak mendokumentasikannya.

16 Oktober 2013

WELLCOME TO THE WORLD, MY BABY...




Proses kelahiran anak kedua kami diawali dengan keluarnya lendir disertai darah (seperti pada umumnya) tapi tidak terlalu banyak, selama 2 hari yaitu tanggak 2 dan 3 Juli 2013. Ketika itu pun aku segera memeriksakan diri ke bidan terdekat. Untungnya tetanggaku ada yang praktek bidan di rumah untuk konsultasi barangkali sudah ada “bukaan” karena belum terasa mules-mules seperti mau melahirkan, hanya terasa kenceng-kenceng seperti kontraksi palsu saja. Ternyata memang belum ada bukaan meski sudah keluar lendir campur darah. Aku pun semakin rajin jalan-jalan, katanya dengan begitu bisa merangsang bukaan.

Kemudian tanggal  4 masih sama, keluar lendir campur darah. Seperti sebelumnya, aku ke bidan lagi. Kali ini aku disarankan ke RS saja karena sudah keluar lendir campur darah selama 2 hari tapi kok belum ada bukaan, dan agar bila terjadi sesuatu bisa segera ditangani.

Akhirnya tanggal 4 pagi sekitar jam 8.15 kami (aku, suami, Kayla, ibuku dan ibu mertua – rombongan) pun berangkat ke RS biasanya aku periksa rutin tiap bulannya.

Sampai disana jam 08.30 langsung diperiksa dan memang belum ada bukaan. Kemudia disarankan untuk tiduran miring ke kiri, katanya sih biar bisa cepat kontraksi. Setiap rasa mulas datang aku selalu melihat jam di dinding untuk mengetahui berapa menit sekali rasa mulas itu datang.

Aku pun mencatatnya di handphone. Rasa mules mulai teratur setiap 20 menit sekali yaitu pada pukul 09.00, 09.20, 09.40, 10.50, 11.30, 12.45.

Selama waktu itu selalu dipantau tekanan darah dan denyut jantung janin. Setiap 4 jam sekali diperiksa apakah sudah ada penambahan bukaan.

Ketikan pukul 14.00 diperiksa baru bukaan 2. Lalu pukul 16.00 ada peningkatan bukaan 4. Alhamdulillah, lega rasanya ada progresnya. Setelah itu bukaan tidak bertambah lagi. Aku disarankan untuk BAB dan BAK agar persalinan berjalan lancar. BAB sudah, tapi BAK masih kurang lancar. Bukaan pun tidak nambah lagi. Sempat khawatir kalau bukaan terhenti di bukaan 4. Akhirnya sekitar pukul  tujuh malam dipasanglah kateter karena kandung kemihku sudah penuh tapi nggak bisa aku keluarkan kemihnya meski sudah disiram air hangat dan ditekan-tekan daerah sekitar kandung kemih. Setelah dipasang kateter, mengalirlah air kemih dengan lancar dan banyak. Setelah itu pembukaan berlangsung/bertambah terus, rasa sakit yang hebat terus bertambah-tambah dengan jarak yang kian dekat. Bidan dan perawat pun segera menyiapkan proses persalinan. Tak lama kemudian setealh pembukaan hampir sempurna datanglah DSOG dan langsung membimbingku menjalani proses akhir persalinan.

Selama seharian di RS, gantian yang menjagaku di kamar bersalan. Karena hanya satu yang boleh masuk, maka bergantianlah anggota rombongan tadi menemaniku termasuk Kayla. Namun ketika bukaan sudah semakin banyak suamiku yang menungguku di dalam ruangan. Ia pun terus mensupport dan mendampingiku selama proses  itu.

Ketika jam dinding menunjukkan pukul 20.20, lahirlah putri ke-2 kami dengan sehat dan selamat tak kurang suatu apapun. Buah hati kedua kami lahir dengan berat badan 3,5 dan panjang badan 49 cm.

Rasa syukur dan lega yang luar biasa tercurah saat itu. Rasa sakit telah berganti dengan luapan kegembiraan dan kelegaan kami sebagai orang tua dan semua yang ada di ruangan bersalin itu, juga keluarga yang menunggu di luar mulai dari pagi. Ketika si dedek lahir dia langsung menangis tapi tangisaanya tidak terlalu keras.



Proses selanjutnya pengeluaran plasenta dan pembersihan. Bayiku dibawa ke ruangan untuk dikeringkan dan dibungkus kain. Setelah proses “jahit-menjahit” aku pun bisa melihat dan mencium bayi mungilku. Takjub dan haru kala itu. Tak bisa terlukiskan betapa bahagianya kami saat itu.

Persalinan ini terasa agak lama karena belum ada bukan sudah “stay” di RS. Beda dengan Kayla dulu, sudah bukaan 3 di rumah baru berangkat ke RS sehingga tidak terasa lama banget di RS nya.

MY SECOND PREGNANCY STORY



Bagian ketujuh

PERIKSA KE - 9 (28 Juni 2013)

Usia kehamilanku sekarang 39 minggu 5 hari. Secara keseluruhan kondisiku dan janin baik, air ketuban masih cukup dan baik pula. Pada konsultasi kali ini dokter menyarankan hal yang sama dengan periksa minggu lalu.
Di akhir konsultasi DSOG menyampaikan kalau sampai minggu depan di dedek belum juga lahir maka harus dilakukan “tindakan”, bisa induksi ataupun cesar.
Aku pun berharap dan berdoa  agar bisa melahirkan normal tanpa induksi apalagi operasi cesar. Ngeri juga saat ingat cerita beberapa temanku yang diinduksi, katanya sakitnya luar biasa dan belum tentu juga dengan induksi itu si janin dapat segera lahir sehingga perlu lebih lama diinduksi, dan bila induksi tidak berhasil sementara si ibu nggak sudah nggak kuat maka pastilah cesar jalannya... semoga itu tidak terjadi padaku yaa Allah... berilah kemudahan dalam proses kelahiran putri kami. Doa itu selalu yang kami panjatkan tiada putusnya.
Satu hal lagi yang aku khawatirkan bila air ketuban nantinya keruh sebelum si dedek lahir sehingga dapat mengganggu kondisinya.
Alhamdulillah sampai usia kehamilan 9 bulan aku masih bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Naik sepeda motor pun oke-oke saja meski kecepatannya dikurangi pastinya.