28 Oktober 2015

MATARAM - LOMBOK TOUR 2015



Bersama-sama dengan teman-teman liburan ini kami lalui. Ada beberapa destinasi wisata kami selama di Lombok. Dengan menggunakan biro perjalanan Ma’alas Tour and Travel, kami memulai perjalanan jam 5 pagi berkumpul. Setelah semua datang kami pun menuju Bandara Juanda. Dengan penerbangan JT 0962 Q Lion air Boeing 737-900 kami boarding jam 06.35 wib. Penerbangan berjalan lancar hingga sampai bandara Lombok Praya. Sempat berputar-putar selama 10 menit sih di atas karena traffic di bandara lagi padat sehingga harus menunggu giliran untuk landing.
Tiba di Bandara Lombok
Dari bandara langsung dijemput bus pariwisata untuk menuju destinasi pertama kami, yaitu Gili Trawangan.

GILI TRAWANGAN

Pinggir pantai di Gili Trawangan
Gili Trawangan merupakan satu diantara 3 gili (pulau) terbesar yang ada di Lombok Utara NTB selain gili Air dan gili Meno. Dengan panjang sekitar 2 km dan lebar 1,5 km Gili Trawangan menyuguhkan keindahan pantai  dengan pasir putihnya dan air lautnya yang biru dan jernih. Untuk menuju ke Gili Trawangan kita harus menyebrang dulu dengan menggunakan speed boat. Kita menyeberang dari Pecinan. Karena ngantri saat menyebrang, kami sempatkan untuk berfoto-foto dulu
 
Bergaya dulu di Gili Trawangan

Sesampainya di Trawangan, kita bisa berjalan menyusuri pantai. Atau kita bisa menyewa cidomo (cikar, dokar, motor) hampir mirip delman. Biaya per orang Rp 50 ribu. Satu cidomo bisa mengangkut 4-5 orang.
cidomo
Selain itu kita juga bisa menyewa sepeda angin di tempat-tempat yang ada disana.
rental bike
Di gili Trawangan banyak dijumpai wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik. Ini dia wisatawan domestiknya
berpose di bawah flying umbrella
berpose di pasir putih Gili Trawangan

 Disana juga banyak ditemui toko-toko yang berjualan souvernir
Ada juga tempat pijat/refleksiuntuk menghilangkan rasa capek
Banyak juga biro-biro travel yang menawarkan paket gili Trawangan seperti : snorkling, diving maupun wisata bawah laut.
Sebagian dari kami ikut yang wisata bawah laut, istilahnya apa aku lupa...kami naik boat lalu diantarkan ke tengah laut dengan melihat taman laut lewat kaca yang ada di boat. Dari situ terlihat terumbu karang, ikan-ikan, penyu. Untuk itu kita harus membayar Rp 75 ribu.
Rame-rame melihat suasana di bawah laut
snorkling
Setelah beberapa saat di Gili Trawangan kita pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Waktu sudah menjelang sore padahal kita belum makan siang. Akhirnya kita pun makan siang di rumah makan Maninting Senggigi.


PUSAT MUTIARA
Setelah makan siang selesai, kami pun menuju pusat mutiara yang berada di sebelah rumah makan Maninting. Hmmm....tinggal pilih aja mutiara yang ada, tentunya disesuaikan isi dompet. Mau pilih mutiara air tawar atau mutiara air laut. Di Lombok ini terkenal dengan budidaya mutiara lombok “South Sea Pearl” mutiara air laut Lombok yang terbaik di dunia.

PUSAT SOUVENIR KAOS LOMBOK “GANDRUNG”
Selanjutnya belanja belanji kaos nih... untuk oleh oleh orang rumah dan para keponakan. Disini kaosnya bermacam-macam. Ada yang halus ada juga yang kualitas di bawahnya. Tinggal pilih sesuai harga. Alamatnya di Jalan Raya Meninting No. 10 Batu Layar.
Disini hanya diberi waktu sedikit sehingga harus cepat-cepat belanjanya, sampai keringat bercucuran karena dikejar waktu... fiuuhh.... disini nggak ada fotonya...nggak sempat foto-foto. Alhamdulillah yang dioleh-olehi senang ...
Oh iya ... saat di Gandrung ini aku janjian ketemu teman semasa Kuliah. Mereka pasangan suami istri. Mas Muazar Habibi dan Dina. Seneeeeengg banget ketemu mereka karena sudah lama nggak bersua.  Meski masih kontak lewat medsos, namun kalau bertemu langsung rasanya berbeda. Dan aku dapat goodie bag nih ...eh kok goodie bag... dapat oleh-oleh dari mereka berdua...banyak banget oleh-olehnya....
Bersama Mas Muazar dan Dina

PANTAI BATU BOLONG
Sebelum senja sampailah kita di Pantai Batu Bolong untuk menikmati sunset atau matahari terbenam dengan latar belakang Gunung Agung.Sebelum masuk ke area ini kita diberi sebuah selendang untuk dipakai selama berada disana.

 Kita bisa melihat sunset dari berbagai tempat di sepanjang pesisir. Salah satunya dari Pura Batu Bolong. Pura yang berada di tepi pantai ini ada lubang atau bolong di tengahnya sehingga disebut batu Bolong.
Itu dia batu bolongnya
Saat itu ada beberapa orang yang sedang beribadah di pura itu

Setelah matahari tenggelam kita pun beranjak dari sana.

PUSAT OLEH-OLEH “LESTARI”
Perjalanan hari ini masih berlanjut dengan belanja oleh-oleh yang berupa makanan. Kita diajak ke tempat pusat madu, telur dan jenang “Lestari”. Begitu turun dari bus langsung deh tempat itu diserbu. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membeli oleh-oleh khas Lombok untuk diberikan ke saudara dan tetangga.

LIPCO GALERY
Selanjutnya kita diajak lagi mengunjungi pusat mutiara dengan kualitas bagus. Jangan ditanya ya, harganya pun baguuuusss. Wah, kalau disini aku Cuma melirik aja deh...sadar diri dengan isi dompet. Sebenarnya nggak boleh mengambil gambar di dalam tempat ini, tapi aku sudah terlanjur dapat satu jepretan ....hmmm...pelanggaran nih...tapi ambil fotonya kan dari jauh sehingga produknya kan nggak kelihatan jelas...

RUMAH MAKAN TALIWANG IRAMA
Perjalanan hari ini ditutup dengan makan malam di rumah makan Taliwang Irama. Dengan menu khas ayamtaliwang, plecing kangkung, sop buntut dan lain-lain kami menikmati nya.
Di sebelah saya, seorang blogger lhoo...pasti deh kenal


Disaat badan sudah mulai lelah dan ngantuk akhirnya kita beristirahat di HOTEL JAYAKARTA di Pantai Senggigi. Hotelnya cukup besar (kategori hotel bintang 4) dengan suasana kamar yang nyaman. Untuk teman kami yang ikut bersama suami, disediakan kamar khusus untuk couple...hmmm bagus interiornya, Cuma lupa nggak ambil foto di kamar teman hihihihi... dikamarku aja deh ambil fotonya... Tapi karena lampunya temaram hasil fotonya jadi kurang maksimal....(bilang aja nggak bisa ambil gambar...)
Foto ini aja yang ditampilkan...

Sesampainya di hotel rebahan sebentar langsung mandi karena janji bertemu dengan teman lama saat kuliah dulu. Kami ngobrol-ngobrol di lobi hotel sampai jam 12 malam, sampai mata sudah hampir tak kuat menahan kantuk... Yaaa... namanya juga teman lama dan 15 tahun tidak pernah bertemu, jadi saat ketemu ceritanya nggak habis-habis terutama cerita tentang keluarga dan teman-teman saat kuliah dulu.


Setelah temanku pamit, akupun langsung menuju kamar hotel. Maunya tidur dulu baru packing karena besok pagi sudah harus check out. Ternyata mata masih belum bisa merem padahal badan sudah terasa lelah. Setelah rebahan sebentar barulah aku packing biar besok bisa langsung siap check out.

Pagi-pagi setelah sholat Subuh rebahan lagi sebentar baru mandi dan lanjut sarapan. Menyenangkan sekali breakfast di Hotel Jayakarta ini karena lokasinya di pinggir pantai.  Menunya sangat bervariasi mulai dari makanan pembuka, makanan inti dan makanan penutup. Minumannya pun cukup beragam.

Tak lupa kami pun berfoto-foto di pinggir pantai setelah breakfast. Emang suka narsis…dimana-mana foto…yaa kan mumpung bisa ke Lombok, dimanfaatkan deh untuk mengabadikan suasana disana. Kan bisa dikenang di kemudian hari.



 Setelah selesai sarapan dan menikmati suasana pantai Senggigi, kami pun check out dan melanjutkan perjalanan menuju ke Pura Lingsar.

PURA LINGSAR

Matahari sudah mulai terasa di kulit saat kita sampai di Pura Lingsar. Pura yang berada di Desa Lingsar Kecamatan Narmada ini merupakan pura terbesar di Lombok Barat. Pura ini merupakan gabungan antara agama Hindu dan Islam Wetu Telu. Di bagian utara terdapat pura Hindu namanya Gaduh dan di bagian selatan ada pura Wetu Telu bernama Kemaliq.

Menurut guide yang selalu setia mendampingi kami, bahwa setahun sekali para penganut agama Hindu dan Islam Wetu Telu ini mengadakan upacara yang disebut  “Perang Topat”. Mereka saling melempar ketupatkepada temannya sebagai tanda rasa syukur atas rejeki yang diberikan oleh Tuhan.
Selain itu, di area ini juga terdapat kolam untuk menghormati Dewa Wishnu.
Konon katanya di dalam kolam ini ada ikan besar (dikenal dengan nama ikan Moa atau belut raksasa) yang jika tidak dipanggil dengan melemparkan telur rebus tidak akan muncul ke atas. Tapi saat kita kesana kolamnya hanya terdapat sedikit air, karena habis dibersihkan/dikuras. Selain itu, di dasar kolam banyak terdapat koin yang katanya dilempar oleh pengunjung. Dengan melempar koin ke dalam kolam akan mendapatkan banyak rejeki. Itu konon katanya lhoo...

Maaf pemirsa fotonya enggak banget...
Sebenarnya aku mau ambil gambar kolam nya. Tapi yang masuk ke area kolam itu banyak banget, jadinya aku ambil fotonya dari luar pagar kolam. Malah kolamnya yang nggak kefoto, para pengunjungnya malah yang kena jepret. Akunya males masuk lebih dekat karena matahari begitu menyengat...  (Begitu aja sudah menyerah kalah dirikuh inih...)

Di sebelah kanan kolam ini terdapat sebuah tempat yang didalamnya ada batu-batu yang dijejer-jejer. Batu tersebut diselimuti dengan kain putih. Konon katanya lagi tidak semua orang bisa menghitung dengan sama jumlah batu tersebut. Aku menghitungnya sih ada 36 batu...eh temanku ada yang menghitung 35 batu. Itu apa artinya coba...?

Oh ya, disana juga ada sumber mata air yang bernama Kemaliq. Konon katanya dengan meminum air ini maka akan awet muda. Hihihi...aku juga mencoba minum dan membasuh muka dari sumber mata air ini. Tujuannya sih bukan agar awet muda tapi biar seger karena cuaca sangat fanaaassss...
Kalau kata guide sih memang bukan awet muda secara fisik, tapi stamina tubuh akan lebih baik karena memang di mata air itu memiliki kandungan mineral yang tinggi yang tentunya bagus buat tubuh kita.Namun sayangnya saat kita kesana airnya tidak mengalir. Hanya satu pancuran yang masih mengucurkan air tapi sangat kecil. Nggak tahu kenapa... ah, sayang banget.

Setelah cukup puas di Pura Lingsar kita pun menuju ke Desa Sade tempat dimana suku Sasak berada.

SUKU SASAK
Sesampainya kita di Desa Sade, Rembitan nampaklah rumah asli suku Sasak. Kami pun dijelaskan oleh guide setempat yang menjelaskan tentang kehidupan suku Sasak. Dari penjelasannya dapat diketahui bahwa suku Sasak banyak yang berasal beragama Islam. Sebagian kecil dari mereka mempraktikkan Islam dengan paham Wetu Telu.Ajaran ini merupakan akulturasi dari ajaran Islam dengan animisme,dinamisme,dan kerpercayaan Hindu.
Dijelaskan pula bahwa adat perkawinan di sana bilaperempuan akan dinikahi oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki. Perempuan tersebut tidak boleh memberitahu orangtuanya. Sementara lelaki yang melarikannya harus membawa kerabat atau teman sebagai saksi. Biasanya mereka menikah antar suku Sasak, karena mahar yang diminta tidak banyak. Seperangkat alat sholat sudah cukup. Tapi bila menikah dengan orang di luar suku Sasak bisa jadi maharnya sangat mahal seperti dua ekor kerbau.
Karena jadi daerah wisata, disinipun banyak yang berjualan pernak pernik khas suku Sasak dan Lombok.

Eh, ada alfamart di seberang jalan rumah asli suku Sasak. Ternyata pakai gaya rumah Sasak juga


TANJUNG AAN

Perjalanan berlanjut ke Tanjung Aan. Dari desa Sade butuh waktu sekitar satu jam menuju kesana. Sebelum sampai di Tanjung Aan, kami melewati Pantai Kuta Lombok. Tidak terlalu jauh jarak keduanya. Bisa dikatakan bersebelahan. Disana kita bisa melihat airnya jernih, pasir putih, dan banyak bukit di sepanjang pantai. Sayangnya kita disana saat panas-panasnya matahari, sehingga tidak berlama-lama disana.
Saat turun mendekati pantai, ada banyak anak kecil sedang mencari sesuatu di pinggir pantai. Setelah aku hampiri dan bertanya pada mereka ternyata mereka sedang mencari bintang laut.
 Ada hal yang kurang mengenakkan disana yaitu ketika beberapa anak kecil dengan “memaksa” agar kita membeli sebotol pasir merica. Mereka begitu agresif dan ujung-ujungnya meminta uang kepada kita dan kita akan diikuti terus sampai kita mau memberi  sejumlah uang kepada mereka. Tentunya hal ini mengurangi kenyamanan kita saat menikmati Pantai tanjung Aan.

Ada hal yang diluar rencana terjadi dalam tur ini. Penerbangan yang seharusnya berangkat jam 17.35 WITA dimajukan 2 jam sebelumnya, sehingga kita jam 1 siang kita menyudahi kunjungan kita di tanjung Aan. Makan pun nggak jadi di rumah makan (makan di kotak dengan menu ayam taliwang dan plecing kangkung) dan harus segera kembali ke bandara. Padahal masih ada satu destinasi lagi di pulau Lombok ini, yaitu di Taman Narmada. Tapi dibatalkan karena hal tersebut. Sekitar jam 3 sore kita sampai bandara langsung sholat dan persiapan chek in. Setelah menunggu beberapa saat diumumkan ternyata penerbangan delay sampai 2 jam ke depan, itu artinya kembali ke jadwal semula. Kecewa...? Tentu...
Tapi mau bagaimana lagi, itu semua terjadi di luar kehendak kita. Pada saat yang bersamaan memang beberapa penerbangan yang menuju Surabaya delay karena cuaca kurang bagus. Ya sudahlah, akhirnya kami duduk-duduk aja menunggu di bandara. Mau jalan keluar lagi sudah males. Mending sambil ngobrol-ngobrol dan guyon dengan teman sembari menunggu pesawat yang akan membawa kita terbang ke Surabaya.Ternyata beberapa maskapai lain pun mengalami delay.
Oh ya informasi dari temanku yang asli Lombok, yang sempat ketemu dan ngobrol-ngobrol, bahwa di Lombok masih banyak sekali destinasi wisata yang asri dan alami, antara lain : Pantai Pink di Lombok Timur, Pantai Batu Payung di Lombok Tengah, Pantai Pasir Merica, Pantai Sorga di Lombok Tengah, Pemandian Sesaot, Panorama Sembalun, Pulo/Gili Lampu, Air Terjun Sendanggila-Kelambu, Pantai Ombak Terjun, Pantai Kuta, Pemandian Air Panas Lemor, Masjid Tua Waktu Telu Bayan, Air Terjun Otak Kokok. Semua tempat itu sudah diekspos oleh TV nasional bahkan internasional seperti Pantai Batu Payung untuk lokasi syuting iklan rokok Dunhill, Panorama Alam Sewela untuk lokasi iklan rokok Dji Sam Soe Kretek. Belum lagi ada pusat kerajinan emas, perak, mutiara asli di Sekarbela.


Quote dari teman saya, :Di Lombok kita akan menemukan budaya Bali, tapi di Bali kita takkan menemukan budaya Sasak Lombok”.

22 Oktober 2015

MALAM MINGGUAN DI PACET



Suatu hari, suamiku diajak teman-temannya untuk liburan di Pacet. Karena memang BUTUH PIKNIK untuk melepas penat setelah disibukkan dengan rutinintas harian, kami pun oke saja. Jadilah kami sekeluarga berangkat ke Pacet. Namun berangkatnya tidak bisa barengan karena masing-masing punya kesibukan yang berbeda di hari itu, yang penting bisa kumpul bersama-sama. Ada lima keluarga yang bisa berangkat, seharusnya sih lebih banyak Cuma banyak teman-teman yang nggak bisa ikut karena sudah punya acara masing-masing. Tiga keluarga berangkat duluan jam lima sore. Tempat tinggal mereka memang berdekatan di daerah Kranji dan Weru Lamongan.

The Krucil (ada 3 yang nggak ikut nih)
 Sementara suamiku baru datang dari kerjanya saat menjelang Maghrib. Setelah sholat kami pun segera siap-siap berangkat. Tiap keluarga mendapat “tugas” membawa perbekalan yang sudah disepakati. Ada yang membawa beras, lauk pauk dan sayur, buah, minuman serta makanan ringan. Kebetulan kami dapat jatah membawa makanan seperti baso, nugget dan dim sum.


Sampai Sidoarjo, kami menghampiri teman kami untuk berangkat bareng. Tidak terlalu lama kami disana. Namun kami masih mampir lagi untuk ziarah haji ke rumah teman kami yang baru pulang dari tanah suci. Lumayan juga disana, ngobrol-ngobrol dan makan. Karena waktu semakin malam kami pun pamit dan langsung meluncur menuju Pacet. Sampai di vila yang sudah disewa sekitar pukul 22.30. Setelah istirahat sejenak , kami makan-makan lagi. Sebenarnya masih agak kenyang setelah makan di rumah teman kami tadi, namun melihat menu yang tersedia di meja makan membuat kami tidak tahan untuk tidak mengambil piring dan menaruh makanan seperti sambel goreng udang, pepes cumi, oseng cumi, kare kepiting, dan rendang.

Setelah makan dan ngobrol-ngobrol sampai jam 12 malam aku pun masuk kamar karena sudah ngantuk. Namun para bapak dan empat anak masih melekan. Menurut cerita Kayla (karena saya sudah tidur) bapak-bapak dan keempat anak itu pergi ke kolam air hangat sekitar jam satu dini hari sampai jam 3.


Pagi hari, aku masih males-malesan di kamar sampai jam 7.30, sementara Kayla dan Athiyah masih tidur lelap. Eh...ternyata bapak-bapak sudah asyik bakar-bakar ikan dan sarapan.

Akhirnya setelah aku mandi, aku pun bergabung dengan mereka yang ternyata sudah selesai makan semua.
Makan ikan bakaran sendiri...waduuh...kok ada kardusnya tuh
 Emang ini bener-bener family time...nyantai, nggak keburu-buru dan nggak ada jadwal.

Setelah sarapan, ibu-ibunya asyik berkaraoke ria, sementara bapak-bapak asyik ngobrol sambil ngopi, sementara anak-anak bermain sesuai keinginan mereka. Anak-anak juga naik kuda sewaan, 25 ribu tarifnya sekali naik.
Kakak Kayla dan Fia
Setelah berkaraoke, ibu-ibu dan anak-anak berangkat ke pemandian air panas. Awalnya agak males berangkat. Tapi Kayla dan Athiyah pada mau ikut berenang. Akhirnya aku pun ikutan. Lagian baru kali ini aku ke Pacet, sayang kalau nggak ke pemandian air panas.

Sesampainya disana pengunjungnya rame banget. Tempatnya tidak terlalu luas. Dengan beberapa kelompok kolam renang. Ada yang untuk anak-anak, ada yang untuk dewasa. Ada kolam air biasa (airnya sih cenderung dingin),  kolam air hangat ringan, hangat sedang hingga kolam air panas. 

Tapi entahlah aku merasa kurang nyaman dengan kondisi pemandian disana. Air di pemandian yang berada di kaki gunung Welirang ini cenderung kotor (mungkin airnya jarang diganti dan tidak dibersihkan) dan terlalu sesak dengan pengunjung sehingga tidak menikmati berada di kolam renang. Memang sih warnanya agak kekuningan karena mengandung belerang, yang katanya bisa menyembuhkan penyakit kulit dan mengurangi pegal-pegal. Aku tidak ikut masuk kolam karena menjaga Athiyah. Rencananya sih mau ikut nyemplung bersama Athiyah, tapi melihat kondisi seperti itu akhirnya aku urungkan niatku. Jadi ilfill lihat kolam renangnya. Athiyah aja hanya aku bolehkan di pinggir kolam aja dan nggak sampai nyebur ke dalam, hanya pinggang ke bawah. Kalau Kayla ya sudah nyebur aja. Belum lagi kondisi kamar mandinya...waduuhhh kotor dan berbau. Padahal kalau disana airnya melimpah sehingga tidak akan kekurangan air untuk membersihkannya. Karena terus menjaga Athiyah aku nggak sempat ambil foto di pemandian ini.


Menurutku area kolam renang atau kolam rendam yaa...harus lebih ditata lagi sehingga lebih nyaman buat pengunjung. Kalau masih seperti itu, males balik kesana lagi. Nampak sekali kurangnya perawatan dan pemeliharaan. Sepertinya harga tiket yang kita bayar tidak seimbang dengan fasilitas disana. Meski demikian, akhirnya rasa penasaranku pun terbayar sudah. Dalam hati pun berkata: "Eee...ini to yang namanya pemandian air panas Pacet itu".

 Oh ya, di sekitar jalan menuju pemandian ini banyak orang yang berjualan oleh-oleh khas Pacet seperti ketela madu, sayur mayor, buah-buahan, keripik dan masih banyak lagi.
Villa Wildan
Setelah dirasa cukup, kami pun kembali ke vila. Oh ya villa tempat kami menginap tidak terlalu jauh dari pemandian. Rumahnya cukup besar untuk kami. Villa Wildan dengan 2 lantai dan 4 kamar tidur. Masing-masing kamar tidur ada 2 bed medium. Rumahnya sangat leluasa buat rombongan kami yang terdiri dari 11 orang dewasa dan 9 anak-anak. Halamannya pun cukup luas, muat untuk parkir 6-8 mobil. Udaranya sejuk dan view nya lumayan bagus. Nyaman lah nginep disana... 
Athiyah ngajak ibu tiduran di lantai
"dingiiinn lantainyaaaa..."

Sampai vila kami langsung makan siang dan rujakan. Setelah itu beres-beres dan bersiap pulang.

Sekitar jam 2 siang kami keluar dari villa... liburan ini meski sederhana namun sangat menyenangkan... tidak terlalu jauh sehingga tidak capek di perjalanan. Bahkan dari Pacet kami masih lanjut ke Surabaya tepatnya ke Delta Plaza untuk beli sepatu Kayla dan Athiyah. Dan ternyata suamiku juga belikan aku sepatu baru....waaahh senengnya nambah-nambah nih...

Kami juga beli travel bag. Di rumah masih ada sih, masih bagus, cuma sudah beli lagi dengan model yang berbeda. Selain itu, kakak juga dibeliin baju padahal nggak ada rencana beli baju. Mampir ke Gunung Agung juga dan pastilah kalau sudah ke toko buku ada saja buku yang dibeli... okelah jangan pikirin dompet yang mulai menipis, karena bentar lagi gajiaaaannnn....