14 Maret 2016

The Story of Me...





Terima kasih Ya Rabbil Izzati, Kau telah memperkenalkanku tentang betapa indahnya dunia, hingga membuatku untuk terus berjuang menghadang segala carut marut kehidupan. Kini, setelah aku dewasa, berkeluarga, mempunyai dua permata hati, aku tak gagap untuk mengenal tanda-tanda kekuasaan-Mu. Begitu banyak kenikmatan, luka ataupun kecewa... Semua karena aku tahu Engkau telah mengaturnya dengan sedemikian indahnya. Inilah hidupku...dan aku bersyukur dengan hidupku...


My Early Childhood

Denting jarum jam menunjukkan pukul 12 malam hari pada Sabtu Kliwon, 13 Agustus 1977, ketika seorang bayi perempuan lahir ke dunia. Dia lahir sebagai anak kedua dari seorang bapak yang bernama Suhadi dan ibu Supiyati. Tujuh hari kemudian bayi itu diberi nama Reni Dwi Astuti. Itulah aku. Orangtua memberi nama untuk menitipkan harapan-harapannya, bahkan lebih dari itu nama adalah sebuah pertanggungjawaban. Reni adalah nama seorang ustadzah dan mubalighat terkenal (di kota Ponorogo dan sekitarnya) saat itu. Nama lengkapnya adalah Ustadzah Reni Baidhowi. Kala itu satu hari setelah aku lahir, beliau diundang ceramah di masjid Jami’ Tugu (yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kami). Bapakku terinspirasi untuk memberiku nama yang sama yaitu Reni, dengan harapan aku bisa seperti beliau, menjadi seorang ustadzah dan mubalighat. Kini aku mewujudkan sebagian mimpi bapak itu menjadi seorang guru (ustadzah). Dwi, karena aku anak kedua dan Astuti kata dari bahasa Jawa yang artinya “dipuji”.

Aku yang digendong ibu

Ingatanku pun melayang pada saat ibuku mengalirkan cerita-ceritanya tentang masa kecilku yang tentunya sudah tidak terjangkau oleh memoriku. Ketika usia 3 bulan aku harus terhenti mendapatkan ASI karena sesuatu sebab yang ibuku sendiri tidak tahu kala itu. ASI-nya tiba-tiba kering dan tidak mau berproduksi lagi. Betapa beliau menangisi mengapa itu bisa terjadi dan menyesali diri karena tidak bisa memberikan ASI sampai usia 2 tahun. Reni kecil akhirnya diberi susu formula sebagai pengganti ASI.

Kini dalam perkiraanku tentang kisah ibuku yang gagal menyempurnakan pemberian ASI padaku bisa aku mengerti. Meski ibuku bukan wanita karir alias ibu rumah tangga murni dengan segudang pekerjaan rumah tangga yang tiada habisnya, bahkan beberapa hari setelah melahirkan melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendiri, memasak, mencuci tanpa bantuan teknologi modern seperti kita di jaman sekarang ketika memasak tinggak memutar tombol kompor gas, mencuci dengan hanya memencet tombol-tombol di mesin cuci, setrika tinggal antar ke laundry , maka kelelahan sudah pasti terbayang di pelupuk mata. Bukankah seorang ibu yang menyusui seharusnya mendapatkan istirahat yang cukup agar ASI bisa berproduksi maksimal? Memang ada kalanya pemberian ASI pada seorang anak tidak bisa berjalan mulus sesuai keinginan sang ibu. Kata ibuku aku pun suka sekali minum susu formula dan setiap minta minum susu Reni kecil pun berkata, ‘mi dot... midot... midot...midot...”

Aku pun pernah nyaris tertabrak bus antar kota. Ketika itu aku masih baru bisa berjalan. Ketika ibu memasak di dapur Reni kecil berjalan keluar rumah menuju jalan raya (depan rumah kami adalah jalan raya) dan bertepatan dengan itu ada sebuah bus yang sedang melintas, kontan klakson bus pun dibunyikan berkali-kali. Beruntunglah Reni kecil karena ada tetangga yang mengetahuinya dan seketika itu dia pun berlari dan menggendongku menjauh ke tepi jalan. Terima kasih ya Allah, ini adalah sebagian kecil dari takdir indah-Mu untuk kelanjutan episode hidupku.

Bapak, Om Dibyo, Kakak, Aku

Bersama Kakakku

Ketika usiaku sekitar 4 tahun, bapak mengalami kecelakaan sepeda motor dan memerlukan perawatan yang tidak sebentar. Aku, kakak dan adikku pun harus wara-wiri mengikuti kemana Bapak dirawat. Saat bapak harus rawat inap di RS KUSTATI Solo beberapa bulan, kami pun dititipkan di rumah mbah. Ini pernah aku tulis disini. Setelah Bapak sudah mendingan dan bisa dibawa pulang ke rumah, beliau berdua (tentunya dengan kesepakatan seluruh keluarga besar) memutuskan untuk meningggalkan rumah kami yang selama ini kami tempati. Kamipun pindah ke rumah mbah yang lumayan besar. Konon dari cerita ibu, rumah kami termasuk angker. Banyak sekali cerita yang membuat bulu kuduk merinding. Masyarakat sekitar pun mengetahui hal itu. Meski begitu Bapak dan Ibu terus bertahan dan percaya dengan keagungan-Nya (walaupun sering mendapatkan pengalaman yang menakutkan). Wallohu 'alam, selalu ada saja musibah yang menghampiri anggota keluarga kami. Rumah kami dulu katanya bekas kuburan sehingga nuansa mistiknya sangat kuat. Namun, waktu itu aku tidak mengerti hal-hal yang demikian. Yaa maklumlah aku masih kanak-kanak yang lugu dan polos.

Bersama keluarga di depan rumah kami

Bersama ibu dan adik (almarhumah)

Masa-masa ketika di TK adalah masa yang sangat menyenangkan. Masa bermain yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Bermain dengan kakak dan adikku serta teman-teman di sekitar rumah. Meski hanya beberapa moment yang masih tersisa di ingatan, namun rasanya tidak ada beban sebagai anak-anak kala itu.

Saat karnaval di TK

Namun, ketika aku kelas 2 SD awan kelabu sedang menaungi rumah kami. Aku harus kehilangan adikku satu-satunya yang meninggal karena sakit. Namanya Erma Suciati. Erma kecil anak yang cerdas dan pemberani. Dia meninggal di usia 5 tahun. Aahh...tiba-tiba rasa kangenku padanya menyeruak ketika aku menulis dan mengunggah foto ini...

Aku dengan adikku almarhumah

Bersama Mas-ku

Keceriaan seorang anak aku alami sampai aku kelas 3 SD. Aku bermain bersama teman-teman dengan keceriaan khas anak kecil. Mulai kelas 4 sekolah sempat menjadi tempat yang tidak nyaman bagiku. Aku sering dibully oleh teman-teman cowok sekelasku. Mereka menjodoh-jodohkanku dengan teman sekelas juga. Dan itu membuatku malu dan memendam amarah karena tidak berdaya melawan mereka. Saat itu aku bersorak gembira bila si biang pem-bully itu tidak masuk sekolah. Namun, meski aku jadi korban bully, prestasi belajarku tidak terpengaruh. Ranking 1 atau 2 selalu dalam genggaman. Saat aku kelas 5 aku memiliki adik baru. Kami selisih 11 tahun. Awalnya aku malu mempunyai adik baru. Dalam pikiranku saat itu, aku kan sudah besar masak punya adik bayi... Aku sempat cemas ya? Tapi ternyata, lama-lama senang juga dengan adik baru, apalagi dia seorang cewek, lucu dan cantik...  Dia bisa menjadi temanku dalam bermain.

Oh ya, Bapakku termasuk keras dalam mendidik kami anak-anaknya. Beliau mendisiplinkan kami dalam setiap kegiatan. Bahkan aku tidak boleh bermain atau belajar sebelum mengaji. Kami pun sudah diserahi tanggung jawab masing-masing di rumah. Aku menyapu rumah bagian tengah dan kakakku menyapu rumah bagian depan. Itu sudah berlaku setiap hari sebelum berangkat ke sekolah. Sholat pun harus tepat waktu, hingga aku pernah iri dengan teman-temanku yang orangtuanya agak longgar dalam hal ini. Tapi ternyata, apa yang dilakukan oleh orangtuaku dapat aku rasakan manfaatnya hingga kini. Dan harus aku akui dalam hal ini aku kalah dengan beliau. 
adikku (cewek) dan sepupunya saat usia 3 tahun
Oh ya, karena masih terus dibully, rasa-rasanya aku pingin cepat lulus dan terhindar dari bully teman SD ku. Namun apa yang terjadi setelah aku di SMP? Ternyata bully itu masih berlanjut padaku, tapi dilakukan oleh teman SMP dari sekolah yang berbeda. Entahlah, saat itu yang berkecamuk dalam diriku adalah rasa malu, marah, jengkel, takut, cemas, tidak nyaman...campur aduklah. Aku kecewa pada diriku sendiri karena “membiarkan” hal itu aku alami. Namun aku tak kuasa “menyelesaikan” hal tersebut, termasuk tidak berani untuk melaporkan pelaku pada orang tua maupun guru karena takut dicap penakut, tukang ngadu, atau bahkan disalahkan.Hal itu yang membuat aku semakin tidak percaya diri. Mengapa harus aku yang menerima semua itu? Namun, menjadi korban bully tidak menjadi alasan untuk tidak belajar. Justru semua itu melecutku untuk menjadi siswa yang berprestasi. Saat itu aku ingin menunjukkan kepada mereka bahwa aku bisa meski mereka membully-ku terus menerus. Aku lebih banyak tidak menanggapi mereka karena semakin aku menanggapi mereka semakin santerlah mereka membully-ku.Akhirnya  dengan memacu semangat belajar aku pun bisa menjadi juara umum di SMP kelas 2. Dan ceritaku ini sekarang selalu aku share kepada siswa-siswa di sekolahku. Kebetulan aku seorang konselor di sekolah, sehingga aku berupaya agar kasus-kasus bullying tidak terjadi, minimal berkuranglah.

Bersama 2 sahabat saat SMP

Kuingat bagaimana perjuanganku meraih prestasi itu. Aku berusaha mengalahkan rasa kantuk untuk memperbanyak jam belajarku tiap harinya. Aku bertanya pada orang-orang di sekitarku bagaimana mengatasi rasa kantuk. Ada yang menyarankan minum kopi yang dicampur garam. Aku lakukan itu demi prestasi yang ingin aku raih. Namun apa yang terjadi, memang mataku bisa tetap terjaga sampai jam 1 dinihari tapi otak tidak bisa diajak kompromi karena mungkin sudah terlalu lelah. Ada juga yang menyarankan kaki direndam dengan air. Itu pun aku lakukan. Kalau sudah mulai kantuk aku pun bergegas mengambil ember berisi air dan kurendam kakiku di ember itu sambil belajar. Namun ketahanan kakiku juga ada batasnya, bahkan aku masuk angin. Aku bertanya lagi barangkali ada hal lain yang bisa tetap terjaga. Ada tetangga yang bilang agar aku minum obat Ultra**p agar tidak cepat mengantuk. Namun yang ketiga ini belum sempat aku coba. Ternyata, ambisiku untuk menjadi siswa berprestasi itu harus dibayar pula dengan ambruknya kondisi badanku sehingga aku punharus diopname selama seminggu di rumah sakit. Dua hari di rumah sakit, ibuku juga menyusul diopname juga. Betapa sedihnya saat itu, bahkan ketika aku boleh pulang, ibu masih opname di rumah sakit. Bapaklah yang mondar-mandir mengurusi kami, dibantu dengan bulik-bulik yang bergantian menjaga kami di rumash sakit. Kerja kerasku rasa-rasanya impas dengan prestasi yang aku dapat sehingga aku meraih juara umum. Dan hal yang paling menyenangkan adalah ketika kelas 3 SMP aku sudah mulai terbebas dari bullying verbal itu sehingga aku lebih fokus pada persiapan EBTANAS. Rasanya inilah dunia kebebasanku...

Saat kelas 3 SMP

Masa-masa SMA yang menyenangkan...

Semakin bertambah usia semakin bertambah percaya diri, meski masih setengah-setengah. Kurang percaya diri  yang kumaksud disini dalam hal bergaul dan mengenal teman secara luas. Mungkin aku termasuk agak kuper saat itu. Waktuku lebih banyak aku habiskan untuk di rumah dan belajar. Ketika teman-teman mengajak main aku lebih banyak menolak karena hal itu berkaitan dengan uang sakuku saat itu yang hanya cukup untuk naik bus atau angkot pulang-pergi sekolah.Bahkan kalau sang kondektur lupa menarik ongkos bus, betapa indahnya hal itu...(iihh, ini mah nggak jujur...). Dan kalau pergi main mestilah ada jajannya, paling tidak transport untuk main kan harus ada. Jadilah aku anak yang agak kuper. Iri banget sebenarnya pingin bisa sering bermain bersama teman-teman kala itu. Sesekali aja sih main bersama teman-teman. Sampai-sampai ada temanku yang sekarang sudah jadi seorang hakim mengatakan kalau mukaku sudah mirip dengan buku karena sibuk belajar terus. Padahal nggak segitu juga kaliii... Dapat uang jajan lebih hanya seminggu sekali yaitu saat ada pelajaran olahraga. Kalau ada teman yang jajan di kantin dan jajan yang dibelinya banyak, aku hanya bisa berkata dalam hati, “Betapa beruntungnya temanku ini, bisa jajan semaunya, pastilah anak orang kaya...” Sementara aku beli jajan di kantin aja seminggu sekali atau sesekali ketika ada uang saku lebih.

Bersama teman SMA (aku yang tersenyum)

Bersama teman kelas Fisika (aku di depan 2 teman yang berjilbab)

Saat SMA sempat naksir seorang cowok juga, tapi nggak berani menyampaikan,dan itu aku simpan dalam hati tanpa seorang pun yang tahu. Yaahh...cinta monyet yang tak tersampaikan, begitu mungkin sebutannya. Menjelang akhir SMA (tahun 1992), aku membuat keputusan untuk memakai jilbab. Saat itu jilbab memang belum familier. Di sekolahku hanya 2 siswi yang berjilbab. Motivasi dari temanku yang sudah lebih dulu menutup auratnya ternyata mampu mempesonaku untuk mengikuti jejaknya dalam menutup aurat. Aku ingat catatan seorang teman yang ditorehkannya di bukuku saat itu. Dia mengatakan, “Janganlah jadi generasi chiki”. Aku sempat bertanya-tanya waktu itu, ini apa maksudnya. Karena penasaran aku pun bertanya langsung kepadanya. Dia menjelaskan generasi chiki (jenis makanan ringan) itu maksudnya hanya bagus di kemasan tapi dalamnya nggak bermutu alias keropos mentalnya. Aku pun semakin memantapkan hati untuk berhijab.

Akupun mengutarakan maksudku pada ibuku. Saat itu ibu mengatakan bahwa aku kan sudah kelas 3 SMA, sementara sebentar lagi lulus, masak harus beli baju baru untuk seragam. Aku melihat di wajah ibuku ada raut bahagia melihat anaknya mau berhijab, namun di sisi lain kemampuan ekonomi orangtuaku yang saat itu sangat pas-pasan sehingga terasa berat untuk membeli seragam-seragam baru yang hanya akan dipakai beberapa bulan  saja di SMA. Namun aku terus berusaha agar ibu menyetujui keinginanku. Meyakini kemantapan tekadku untuk mengenakan hijab sudah tak terbendung lagi, akhirnya ibu pun membeli kain-kain buat seragam sekolah. Beliau menjahit semua baju-baju itu. Untungnya ibuku seorang penjahit sehingga tidak dibebani ongkos jahit. Setelah aku, tiga temanku ikut mengenakan hijab juga.

Setelah berhijab (aku yang tengah membawa bungkusan koran)

bersama dengan teman cewek sekelas
                                

Masa menempa diri dalam kawah candradimuka

Lulus SMA akupun ikut UMPTN (sekarang SNMPTN). Namun aku gagal menembus PTN favoritku kala itu. Fakultas Psikologi Unair. Aku pun berhenti setahun untuk mempersiapkan diri ikut UMPTN tahun berikutnya. Sebenarnya ingin sekali  mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan UMPTN tahun berikutnya, namun aku tidak berani menyampaikan pada orangtuaku karena aku cukup tahu diri, biaya untuk itu tidaklah sedikit sehingga aku belajar sendiri dengan mengerjakan contoh-contoh soalnya saja. Selama masa vakum satu tahun aku manfaatkan untuk mengikuti kursus komputer dan kursus akuntasi hingga UMPTN datang lagi. Dengan pilihan yang sama dengan tahun sebelumnya, ternyata aku gagal lagi. Aku pun akhirnya melanjutkan ke sebuah universitas swasta di Malang. Sejak awal kuliah aku bertekad untuk serius kuliah, no pacaran, aktif di organisasi dan cepat lulus dengan nilai yang baik. Tidak lain dan tidak bukan salah satunya karena tidak ingin mengecewakan orangtua yang sudah dengan susah payah membiayai kuliahku.

Saat awal masuk kuliah (aku yang baju merah muda)

Lagi-lagi, aku jadi mahasiswa aktivis yang jarang menghabiskan waktunya untuk nyantai-nyantai bareng teman. Sehari-hari di kampus, pulang ke kost kalau sudah sore atau malam setelah aktifitas organisasi selesai. Bener-bener jadi mahasiswa yang kurang piknik (istilah sekarang). Mengikuti aksi turun lapangan juga aku jabanin, apalagi saat itu sedang gencar-gencarnya aksi demonstrasi mahasiswa pro reformasi. Sebagai aktivis waktu itu, tentu aku tidak boleh ketinggalan. Reni yang dulunya saat SMP dan SMA termasuk anak yang agak kuper alias kurang pergaulan, pada saat kuliah berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Semangat seperti itu yang kini selalu aku tularkan juga kepada siswa-siswaku di sekolah kini. Bahwa semua orang bisa berubah asalkan mempunyai niat dan kemauan yang kuat. Selain itu, aku juga berusaha untuk mendapatkan uang tambahan dengan menjadi reseller baju, kaos, sepatu, tas bahkan kosmetik. Aku jualan dengan datang ke kost teman-teman, terkadang sambil bawa dagangan ke kampus.

Aku yang paling depan jilbab krem

Ada beberapa organisasi yang aku ikuti, antara lain IMM-Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (sempat menjadi Ketua Umum tingkat fakultas), BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa-Bendahara), SEF (Student English Forum) dan Tapak Suci. Ada kalanya kejenuhan melanda diantara padatnya aktivitas organisasi. Yang aku lakukan adalah berdiam diri di kost dan bercengkerama dengan teman-teman kost, nonton tivi atau sekedar jalan-jalan. Aku menyebutnya sebagai keseimbangan. Semangatku untuk menyelesaikan kuliah selama 4 tahun kandas karena aku mengalami kecelakaan tunggal saat perjalanan dari lokasi penelitian. Kecelakaan itu mengharuskanku untuk tidak kemana-mana selama satu bulan karena kakiku luka parah. Aku pun berusaha menerima dengan ikhlas semua ini, meski awalnya menyesali juga mengapa ini harus terjadi. Justru dari kejadian ini aku mengambil hikmah yang besar bahwa tidak setiap keinginan dalam diri kita bisa menjadi kenyataan karena ada yang mengatur setiap titik perjalanan hidup kita. Akhirnya aku pun dapat menyelesaikan kuliahku selama 4,5 tahun dengan predikat IPK tertinggi di fakultas. Aku menyebutnya bukan sebagai mahasiswa terbaik, tapi IPK tertinggi iya. Karena IPK tertinggi belum tentu bisa dijadikan indikator kalau dia sebagai mahasiswa terbaik. Kebetulan nilai IP yang aku kumpulkan mengantarkanku menjadi mahasiswa peraih IPK tertinggi di fakultas.


Kisah saat bekerja

Setelah lulus, aku pun direkrut menjadi staf di Laboratorium Psikologi di kampus. Selain itu aku pun menjadi asisten dosen, yang kemudian mengantarkanku menjadi dosen tidak tetap di kampus. Sekitar satu tahun menjadi dosen, ada panggilan kerja di sebuah sekolah alam di Surabaya. Aku sangat bingung kala itu dihadapkan oleh dua pilihan yang sama-sama berat. Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan dan beberapa kali sholat istikharah aku pun memutuskan untuk menerima tawaran dari sekolah di Surabaya sehingga aku harus meninggalkan kampusku tercinta. Namun  saat itu aku masih harus menyelesaikan tugas dan tanggung jawabku di kampus. Jadi bolak-balik Malang-Surabaya. Awalnya berat, namun setelah dijalani aku banyak menemukan pelajaran kehidupan yang tiada terkira di tempat mengajarku yang baru ini. Aku bergelut dengan anak-anak mulai dari play group, TK dan SD di sebuah sekolah alam dan aku begitu menikmatinya. Sebuah episode kehidupan yang penuh sarat makna.

Ketemu jodoh... meet the soulmate

Di Surabaya ini juga aku pertama kali bertemu dengan my soulmate. Kami tidak pernah kenal sebelumnya, tapi beberapa kali berada diacara yang sama dalam kegiatan organisasi kampus. Ia kuliah di Yogjakarta dan aku di Malang. Namanya juga jodoh, kalau belum saatnya dipertemukan ya nggak akan ketemu. Jadi, teman-temannya adalah teman-temanku juga. Dan kami pun diperkenalkan oleh teman kami. Karena jarang ketemu kami hanya sms atau telpon aja sesekali.Akhirnya setelah sama-sama serius, keluarga semua setuju, dia pun melamarku pada tanggal 10 Agustus 2003.


Bahtera itu segera dikayuh...

saat menikah

Tepat tanggal 8 Februari 2004 kami mengikat janji sehidup semati, selalu bersama dalam suka dan duka, dalam kelebihan maupun dalam kekurangan. Setelah menikah kami sempat LDR, lebih tepatnya sebelum menikah pun kami LDR-an. Suami di Jakarta aku di Surabaya. Satu bulan usia pernikahan kami, hasil tes laboratorium menyatakan bahwa ada kehidupan baru yang berusia empat minggu ada di dalam rahim saya. Padahal waktu itu kami merencanakan mempunyai momongan setelah usia pernikahan kami sekitar satu tahunan, ternyata Allah memberikan lebih cepat dari yang kita minta. Hingga usia kehamilan di bulan ke-9, kami merencanakan setelah lahiran untuk tinggal di ibukota sehingga aku pun resign dari tempat mengajarku. Ternyata, belum sampai pindah ke Jakarta suami sudah dipindah lagi ke Gresik. Sampai Kayla (putri pertama) berusia 2 tahun, baru aku mencari pekerjaan lagi dengan mengajar di sebuah bimbingan belajar sampai akhirnya aku diterima menjadi CPNS di awal tahun 2011. Dua tahun setelahnya putri kedua pun lahir. Bertambah lagi anugerah dari Allah yang harus kami jaga dan kami didik untuk menjadi insan kamil yang penuh dengan kemuliaan.

Kayla dan Athiyah

Langit kehidupan tak selalu cerah, kenyataan hidup tak selalu manis. Selama menjalani pernikahan ini tak sedikit batu sandungan yang pernah aku alami bersama suami. Tetapi, kami tetap selalu bersama dan menghadapinya dengan sabar, ikhlas dan tawakkal. Tak dipungkiri bahwa ada rasa lelah, cemas dan kadang kecewa. Ada saat dimana pertahanan spiritual kami melemah. Namun kami bisa saling menguatkan. Kami menganggapnya itulah seni kehidupan yang kelak akan mendewasakan kita sebagai manusia.


Tentang mbak Ika Puspitasari...

Dikatakan kenal tapi belum tahu banyak. Dikatakan tidak kenal tapi saya sering membaca update statusnya di facebook. Sehingga jika diminta memberikan kesan terhadap beliau rasanya kurang bahan bagi saya untuk memberikan masukan tentang beliau, malah nantinya tidak bisa objektif. Namun saya akan memberikan semacam komentar untuk blog beliau. Dari blognya saya mengetahui beliau seorang ibu dengan tiga anak, aktif dalam dunia kepenulisan. Bahkan beliau pernah menerbitkan 2 buku secara bersama-sama dengan penulis yang lain (ah...jadi merasa belum ada apa-apanya dengan Mbak Ika Puspitasari). Tulisan-tulisan di blognya mengalir dengan kata-kata dan bahasa yang mudah dipahami. Jadi kalo membaca tulisan beliau tidaklah perlu kita mengernyitkan dahi hehehe... Tulisannya enjoyable dan lebih banyak tentang hal-hal sehari-hari.

Terima kasih ide GA nya mbak, karena dengan GA ini saya jadi ada "keberanian" untuk menuliskan sejarah diri ke layar blog hehehe...dan foto-foto kenangan lama yang tersimpan selama ini di album kenangan bisa lebih berkata-kata...

Terselip doa untuk Mbak Ika Puspitasari, Selamat Ulang Tahun, barokalloohu fii umrik. Semoga selalu sehat, panjang umur, diberi kekuatan untuk mendidik dan menemani putra putri tercinta, diberi keberkahan usia dan selalu membawa maslahah bagi sesama... Dan teruslah berkarya dan menebar manfaat bagi semesta...
Btw, Mbak Ita tidak ingin bernostalgia ke Gresik? Saya tinggal di Gresik lho Mbak, hehehe...




26 komentar:

  1. Ngebaca ini semacam membaca biogragi singkat mba Reni, si anak kedua. EH kita samaan anak kedua hehe :)
    Cerita hampir tertabrak busnya serem mbaaak >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, tapi sayanya nggak inget hal itu, maklum masih kecil yaa... alhamdulillah Allah SWT masih memberi kesempatan di dunia ini

      Hapus
  2. Hehe..kalo baca tulisan mb Reni runtuut banget, dokumentasinya lengkap. Mb Reni di Gresik to? Aku mau ke Gresik lagi...banyak kenangan disana. Omku tinggal di perum Petro..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak saya di Gresik sejak tahun 2005, setelah anak pertama lahir. Wah dekat banget mbak itu dengan rumah saya. Monggo kalo ke Gresik kabar-kabar yaa... seneng banget kalo bisa kopdar mbak...

      Hapus
  3. Mbak Reni kecil cantik, imut, lucu, kayak Athiyah deh kayaknya :)))
    Oiya, baru tau kalo Mbak Reni lulusan UMM, dan aktivis IMM. Sama dong kitaaaa...hehehe... Tapi saya aktif taun 2006-an, Mbak.. Kan lebih muda :)
    Nah jadi ingat, tahun kelahiran Mbak Reni ternyata sama dengan tahun kelahiran Mbak saya (almarhumah). Jadi ingat mbak saya, nih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, menurutku Athiyah mirip aku waktu kecil mbak...oo iyya taa...semakin merasa dekat daku padamu mbak Diah, ternyata kita seperjuangan meski di tahun yang berbeda...wah tahun 2006? berasa tua aku nih...aku lulus tahun 2001 mbak... Semoga beliau ditempatkan di jannah-Nya

      Hapus
  4. Waktu nikah janji sehidup semati? Jangan dong mbak.. sehidup ajahh hihihii..

    Btw fotonya lengkap.. nyempetin pulang kampung dulu yak? :p
    Klo misal aq ikut G.A ini kayakanya ga bisa upload foto masa lalu deh.. ada di mama semua foto2ku hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. biar kayak di sinetron-sinetron gitu lho mbak hehehe... pulang kampungnya sudah lama. Foto yang di kampung aku fotoin lagi, biar kalo hilang masih ada file-nya... terus biasanya aku tunjukkan ke anak-anak sambil cerita masa kecil ibunya dulu hehehe

      Hapus
  5. hihihiih..komplit banget metamorfosa kehidupan dr kecil ampe punya anak kecil niy mak.

    oya gagal pokus liat sepeda sewaktu keclnya, hahhaa mengingatkan aku akan masa kecil yang punya sepeda itu juga. trus sama2 anak2 fisika pada jamannya sma dulu. ahhh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak...mumpung ada GA nya mbak Ika Puspitasari nih sekalian nulis cerita tentang diri sendiri, siapa tahu bermanfaat hehehe
      Aku malah lupa kalo punya sepeda itu... nggak pernah inget saat kecil pake sepeda itu hehehe

      Hapus
  6. hidup menyimpan banyak kisah ya mbak :) yang kadang tak disadari menempa kita menjadi pribadi yang sekarang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak...kita bisa menjadi kita yang sekarang karena salah satunya ada berbagai peristiwa yang membuat kita berubah. dan semoga perubahan itu ke arah yang lebih baik

      Hapus
  7. What a wonderful life..... asyik juga ya mak.. kalo hidup kita sendiri jadi sebuah kisah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak...barangkali bisa dijadikan cerita untuk anak cucu kelak

      Hapus
  8. Subhanalloh, kenangan dalam bentuk fisiknya masih rapi tersimpan ya Mbak, seneng melihat dan membacanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, alhamdulillah masih ada. Yang foto lebih lama dari itu juga ada meski hitam putih...foto pernikahan bak dan ibu saya hehe

      Hapus
  9. rambutnya panjang ya mbak waktu sekolah

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, soalnya malu kalo dipotong pendek saat itu. Terus biasanya kalo ke salon untuk potong rambut kalo waktu mau hari raya aja

      Hapus
  10. wah, komplit kisahnya, Mbak. Ternyata Mbak Reni rajin belajar, euy. Gak kayak saya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...itu dulu..sekarang nggak rajin belajar buat nge blog...kalah sama pekerjaan yang lain...harus belajar banyak dari Chie nih soal nge blog

      Hapus
  11. Sesuatu banget ngliat poto2nya Mba Ren, hihi..Aku entah pada kemana potonya, hiks. Apalagi jama kecil, adanya poto ijasah TK doang XD

    BalasHapus
  12. Keren Mak Reni, fotonya masih ada jadi suka merenung mengapa dulu gayanya kekituan y hahaha...

    BalasHapus
  13. duuh baca kisah masa lalu gini bawaannya jd nostalgia juga mbak ;D.. apalagi kalo memang banyak moment2 yang nyenengin nya ;)..

    BalasHapus
  14. Wah lengkap juga ya foto-fotonya untuk ukuran jaman dulu. :D

    Aku juga pernah jadi korban bullying Mbak. Tapi satu kunci yang membuatku tetap bertahan, ya nggak usah ngereken ataupun minder. Lhadalah di masa sekarang temen-temen yang suka bully aku hidupnya pun nggak jauh lebih baik dari aku. :v

    BalasHapus
  15. Wah foto-foto zaman dulu masih lengkap ya mbak ^^ senang lihatnya

    BalasHapus
  16. masa kecilnya seru bangeeet...suka liat foto-fotonyaaa

    BalasHapus