DIRGAHAYU
REPUBLIK INDONESIA KE – 71
 |
Kompleks museum dan perpustakaan Bung Karno |
Sosok yang satu ini tak akan pernah terlupakan dalam
perjalanan sejarah dan masa depan Republik Indonesia. Dialah Sang Proklamator
NKRI. Bapak Ir. Soekarno atau Bung Karno. Tak berlebihan kiranya jika
bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 ini saya
tuliskan perjalanan kami saat ke Museum Bung Karno dan berziarah ke makam
beliau. Keduanya merupakan icon wisata sejarah di Blitar yang harus dikunjungi.
Kami masih harus mencari-cari untuk menuju lokasi ini.
Dengan berbekal GPS dan membaca papan petunjuk di sepanjang jalan, sampailah
kami di Jalan Ir. Soekarno Desa Bendogerit Kecamatan Sanan Wetan. Nampaklah
halaman parkir yang sangat luas dengan bangunan seperti pendopo.
 |
Halaman parkir yang luas |
Awalnya saya kira lokasi museum tidak jauh di tempat parkir
ini, tapi ternyata kami masih harus naik becak dengan tarif yang sudah
ditetapkan oleh Paguyuban Becak Wisata Makam Bung Karno. Jadi kita tidak perlu
menawar dan tidak perlu khawatir kalau
kemahalan. Untuk becak tarifnya Rp 20 ribu (pulang-pergi) ke makam Bung Karno. Kami
pun memesan 2 becak untuk berempat.
 |
Memesan becak |
Di sepanjang jalan kami melihat banyak toko-toko souvenir.
Seperti biasa Kayla sudah mupeng banget mau beli ini itu.
 |
Toko souvenir |
Setelah sekitar 10
menit naik becak sambil menikmati suasana sepanjang perjalanan, tibalah kami di
lokasi museum Bung Karno. Museum ini satu komplek dengan perpustakaan dan makam
Bung Karno. Ketika berada di lokasi nampaklah kemegahan komplek makam dan
museum Bung Karno ini dengan adanya pilar-pilar yang tinggi kokoh berjejer di
sebelah kolam yang turut mempermanis area ini. Lihat foto di atas yaaa...
 |
Bersama Athiyah |
 |
Pilar-pilar berdiri kokoh di sebelah kolam |
 |
Kayla dan Athiyah |
Terlihat
juga patung Bung Karno dengan ukuran yang besar sedang duduk di sebuah kursi.
Ini merupakan spot favorit bagi pengunjung untuk berfoto.
 |
Patung Bung Karno |
Setelah puas menikmati suasana di luar, kami pun memasuki
ruangan museum. Kami diminta untuk mengisi buku tamu terlebih dahulu dan
petugas mengingatkan agar tidak menyalakan lampu blitz kamera.
Dalam ruangan ini tersimpan ratusan foto dokumentasi Bung
Karno. Berbagai macam aktivitas dan kunjungan beliau baik di dalam maupun di
luar negeri pada masa-masa itu. Ada juga dokumentasi Bung Karno bersama
keluarga.
 |
Di antara foto Proklamator RI |
 |
Jas Bung Karno |
 |
Bung Karno bersama keluarga |
 |
Ratusan koleksi foto Bung Karno |
Cukup lama kami disini, membaca banyak informasi tentang Bung Karno.
Ada juga beberapa replika rumah pengasingan Bung Karno selama
di Parapat Sumatera Utara, Brastagi Sumatera utara, Flores, Bengkulu dan lainnya.
 |
Maket rumah pengasingan Bung Karno di Parapat Sumut |
Ada juga uang kuno dan perangko kuno yang dipamerkan dalam lemari kaca dan kotak kaca. Beberapa lukisan, buku-buku doa milik Bung Karno dan gaman atau semacam keris milik Bung Karno ada juga disini.
Sebelum mengakhiri perjalanan di museum ini, athiyah kekeuh minta foto di patung garuda meski antri.
 |
Athiyah dan patung garuda |
BERZIARAH KE MAKAM BUNG KARNO
Tidak jauh dari museum dan perpustakaan kita bisa ke makam Sang Proklamator RI. Dengan berjalan kaki beberapa meter sampailah kami pada tangga berundak menuju gapura makam Soekarno. Sebelum menuju makam kita ke pos pendaftaran lebih dulu untuk mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk yang hanya dua ribu rupiah saja per orang.
 |
Gapura menuju makam Bung karno |
Ketika kami berziarah, makam Bung Karno begitu dipadati pengunjung. Mengingatkan perjalananku berpuluh-puluh tahun yang lalu ketika Reni kecil diajak bapak dan Ibunya berziarah kesini. Dan memang keadaannya sudah jauh berbeda. Aku ingat waktu itu pusara Bung Karno beserta ayah ibunya berada dalam kaca sehingga pengunjung hanya bisa melihat dari jauh dan menabur bunga di luar kaca.
 |
Pengunjung begitu banyak kesini |
Tetapi saat kesana kaca yang mengelilingi pusara sudah tidak ada sehingga pengunjung bebas mendekat ke nisan Bung Karno dan ayah ibunya. Kami pun bisa secara langsung menabur bunga di atas pusara mereka.
 |
Kayla dan Athiyah menabur bunga di pusara ayah Bung Karno |
 |
Pengunjung berdoa di dekat makam |
 |
Bapak dan anak-anaknya |
Seusainya berziarah di makam Bung Karno kami mengakhiri perjalanan ini. kami ikuti aja rute yang ada yaitu pintu keluar yang berada di sebelah kanan bagian belakang makam pendopo makam ini. Ternyata rute selanjutnya itu adalah pasar oleh-oleh. Begitu masuk di pintu pasar kami disambut oleh pengemis yang meminta belas kasihan. Kami tak membayangkan bahwa pasar ini begitu jauh dan kalau sudah sampai di tengah akan males lagi balik ke belakang. Kayaknya sekitar 300 meter deh jauhnya, dan saat itu cuaca lagi panas banget, kebayang deh panasnya. Apalagi saat itu Athiyah minta gendong setelah beberapa meter berjalan sendiri. Serasa nggak nyampe-nyampe di ujung pintu keluar...fuuiihhh...
Banyak sekali toko-toko yang menjual baju, makanan, mainan anak-anak, tas, dompet dan berbagai cendera mata lainnya. Disini Kayla dan Athiyah beli beberapa mainan untuk oleh-oleh para sepupunya.
Hi Reni Dwi Astuti
BalasHapusPengalaman jalan jalan ke negeri blitar sungguh menarik..
Mulai dari naik becak sampe masuk museum dan trakhir ke makam pemimpin besar revolusi...
Perjalanannya yang seru banget deh...
Iya, di blitar masih banyak lagi tujuan wisata lainnya
Hapuswah jadi tahu isi museum bung karno. kapan2 pengen ke sana
BalasHapusSekalian ke makam Bung Karno dan Istana Gebang mbak
Hapus