30 Maret 2016

ALHAMDULILLAH...RESMI GANTI DOMAIN

Alhamdulillah, blog ini sudah resmi pakai platform dot com. Sudah lama sebenarnya pingin nggak numpang lagi terus pingin punya "rumah sendiri" tapi masih belum sempat-sempat juga. Dan juga masih cari-cari informasi tentang hal ini. Setelah tanya sana sini dan browsing sana sini juga akhirnya aku memutuskan untuk membeli domain di WWW.QWORDS.COM.

Mengapa sih harus ganti domain? Aku emang sudah agak lama nge-blog yaitu sejak bulan Maret 2008. Tapi ya gitu deh, nulisnya belum ajeg, semau gue aja gitu. Kalo lagi semangat ya nulis, kalo lagi down ya blognya dianggurin. Dan awalnya juga karena nggak ngeh gitu tentang ganti domain kayak gini, aku pikir nggak masalah aja numpang di blogspot. terus baca status atau komentar seorang blogger di FB kalau blognya masih numpang, bila terjadi sesuatu pada yang ditumpangi bisa-bisa blog tersebut musnah tak berbekas....huuaaa...huaaaa ... bisa berabe deh semua tulisan dan kenangan yang ada di blog ini yang dengan susah payah, bercucuran keringat dan bersimbah air mata (ini mah lebay banget..ngeettt...ngeeett...) telah aku curahkan di blogku tercinta ini.
Nah, jadi alasan utama aku ganti domain adalah karena aku tak ingin kehilangan blogku ini, meski penampakannya masih amburadul kayak gini...ya sutralah, pelan-pelan sambil belajar akan aku perbaiki.

Semoga dengan domain baru ini tentu lebih semangat lagi nge blog-nya, terus belajar hal-hal tentang perbloggingan, terus blog nya bisa lebih baik lagi

28 Maret 2016

8 HARI MENJELANG IZRAIL DATANG MENJEMPUT


Kematian...
Sebuah kata yang bagi sebagian besar orang adalah peristiwa yang menakutkan. Termasuk diriku. Beberapa hari terakhir ini aku bertakziyah kepada 3 orang saudara dan teman yang meninggal. Ketika itu pula rasa takut pada kematian menyeruak. Apalagi bila melihat mayatnya, ketakutan semakin meningkat sehingga aku berusaha menghindari melihat mayat orang yang meninggal. Aku bisa terbayang-bayang berhari-hari karenanya. Apakah ini berarti aku takut mati? Entahlah, yang pasti aku takut kematian menimpa diriku dan orang-orang terdekatku. Rasanya belum siap ketika kematian itu datang menjemput. Padahal, bukankah kematian adalah hal yang fana, dimana bumi sebagai tempat tidurnya, cacing dan belatung sebagai kawannya, kuburan tempat tinggalnya, surga dan neraka sebagai peruntungannya. Masih kurang rasanya bekal untuk menuju kematian dan kehidupan abadi di akherat setelahnya.


Namun ketakutanku akan kematian masih dalam batas wajar, tidak sampai pada ketakutan yang abnormal atau yang lazim disebut dengan thanatophobia. Justru dengan ketakutan ini semakin mencambukku untuk berusaha agar menjadi orang yang lebih baik lagi, lebih bersyukur lagi dan menjadi energi untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan. Tentu akan lain halnya bila dengan ketakutan ini aku menjadi putus asa dan tidak semangat dalam hidup. Itu yang harus dihindari dan bahkan harus “disembuhkan”.

Kita tidak akan bisa mengelak bahwa kematian itu akan kita alami. Sejauh pun kita berlari, tak akan mungkin bisa menghindar dari kematian. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Jumuah ayat 8 yang artinya:“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya itu, pasti akan mendapati kalian, lalu kalian semua akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan yang nyata. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada kalian apa-apa yang telah kalian lakukan.”


Ada senandung merdu dari Ungu yang mengingatkan pada kita bahwa kita tak akan bisa lari dan menghindar dari kematian itu

video

Tulisan inipun mengingatkan pada diriku dan semoga pada semuanya bahwa betapa seringnya kita alpa dan lupa mengingat kematian. Kita terlalu sering disibukkan dengan hiruk pikuk kepentingan duniawi semata. Ketika hati lebih berfokus pada urusan dunia, memuja kenikmatannya yang semu, maka kita akan lalai dari mengingat mati.

Berapa seringkah kita melakukan persiapan untuk menyambutnya? Berapa banyak energi, kepedulian, antisipasi dan harapan yang telah kita kerahkan untuk kematian? Sekali lagi, kita sering lupa itu semua, seolah-olah kita akan selamanya di dunia.


Kita boleh saja berandai-andai bila ke arah hal yang positif, termasuk berandai-andai jika sisa usia kita di dunia tinggal 8 hari. Ini sangatlah perlu untuk menyadarkan diri kita bahwa kematian itu begitu dekat. Bahwa kematian adalah bagi siapa saja, tak memandang usia. Namun terkadang kita terlalu sombong dengan mengatakan, “Ah, aku masih muda saja”. Justru bagi kita yang muda (nah...kan mengaku masih muda, padahal sudah mendekati kepala empat) kita harus menyisihkan waktu untuk memikirkan kehidupan akherat disamping memikirkan dunia.


8 hari adalah waktu yang sangat singkat untuk mempersiapkan kematian. Justru sebenarnya hidup di dunia pada hakekatnya adalah untuk mempersiapkan kematian karena kematian merupakan pintu gerbang menuju kehidupan akhirat, yaitu saat kita akan berjumpa dengan Allah SWT dan meninggalkan kehidupan dunia yang penuh dengan tipu daya.

8 hari lagi... ah, apakah kita lantas menyesali itu, begitu cepat waktu berlalu di dunia ini, begitu cepat kematian menjemput. Tak ada gunanya penyesalan, justru tinggal 8 hari itu kita harus optimis, bersyukur karena diberi waktu 8 hari lagi. Kita harus tetap berjuang sekuat tenaga, sepenuh hati, jiwa dan raga agar kematian itu tidak sia-sia. Kita harus tetap merencanakan, biarlah Allah jua yang menentukan. Kiranya ada beberapa hal yang aku lakukan jika waktuku tersisa 8 hari.


Bertobat dengan sungguh-sungguh

Sebagai manusia tak terhitunglah kiranya salah dan dosa yang terhimpun selama ini. Untuk itulah aku akan berusaha untuk menyempurnakan tobatku. Aku yakin Allah SWT mendengarkan doa-doaku. Aku yakin pada janji-Nya dalam QS.Az Zumar ayat 53: “Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dari ayat tersebut Allah akan mengampuni dosa bagi siapa saja yang bertaubat meski dosanya amat banyak bagai buih di lautan yang tak kan terhitung jumlahnya.


Memohon maaf kepada semuanya

Pertama sekali aku ingin minta maaf kepada bapak ibuku, aku ingin bersimpuh di kakinya memohon maaf atas segala kesalahanku selama ini. Lalu aku juga akan minta maaf kepada suamiku karena sebagai istri aku masih banyak kekurangan. Juga kepada mertuaku, anak-anakku dan saudara-saudara, aku memohon maaf kepada mereka juga atas khilaf selama ini, baik yang aku sadari maupun yang tidak. Kepada semua orang, baik yang sudah aku kenal atau tidak, aku akan meminta maaf secara terbuka di media sosial yang aku punya barangkali selama hidup aku telah berbuat kesalahan kepada mereka baik sengaja maupun tidak.


Lebih intens dalam mendekatkan diri pada-Nya

Dengan memperbanyak sholat tahajud, sholat taubat dan amalan lainnya sehingga aku merasa lebih siap untuk kembali keharibaan-Nya, bisa ikhlas atas ketentuan-Nya dan semakin ringan dalam menjalani 8 hari terakhirku. Aku juga akan memperbanyak dzikir agar hati lebih tenang.


Menyegerakan berbuat baik dan beramal sholeh

Bersedekah dengan apa yang aku miliki, menunaikan zakat yang belum terpenuhi, tetap berbuat baik pada tetangga, berprasangka baik dengan semua orang...


Tetap mengasuh dan mendidik anak-anak

Tak boleh ada yang berubah dalam hal ini, justru aku harus menghabiskan waktu-waktu terakhirku bersama mereka, berwasiat kepada mereka agar selalu rukun dan mendoakan orangtuanya meski orangtuanya telah tiada.


Memenuhi janji, menunaikan amanat yang belum tersampaikan

Aku akan berusaha untuk membayar hutang-hutangku dan apabila aku belum sanggup menyelesaikannya aku akan berwasiat kepada keluarga untuk membantu menyelesaikannya.


Ingin pergi ke Tanah Suci Mekah

8 hari rasanya tidak cukup untuk mengurus ini itu, namun yang namanya keinginan ya tetap harus diupayakan, tentunya dengan berharap adanya keajaiban untuk bersungkur dan berdoa di hadapan Ka’bah.
Sesungguhnya perumpamaan 8 hari terakhir itulah yang harus selalu kita amalkan di sisa akhir hidup kita. Apakah 8 hari itu akan mengejawantah dalam 1 hari, 1 bulan, 1 tahun, atau 10 tahun yang akan datang. Wallohu ‘alam bishowab. Bersyukurlah kita masih diberi umur panjang dan kesehatan sehingga masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri, meningkatkan amal sholeh dan bukan hanya mengejar mimpi dunia.

              





20 Maret 2016

CERITA KALA GERHANA MATAHARI TOTAL (GMT)



Gerhana Matahari Total merupakan (GMT) merupakan fenomena alam yang luar biasa. Disini Allah SWT juga menunjukkan kebesaran-Nya. Kemarin tanggal 9 Maret 2016 Indonesia termasuk negara yang dapat menyaksikan fenomena alam yang sangat jarang terjadi yaitu ketika siang menjadi gelap bagaikan malam. Oleh karenanya Indonesia menjadi pusat perhatian dunia. Para turis dari mancanegara berduyung-duyung datang ke wilayah-wilayah di Indonesia yang mendapati gerhana matahari total antara lain di Bangka Belitung, Palembang (Sumsel), Sampit (Kalteng), Palangkaraya (Kalteng), Balikpapan (Kaltim), Palu, Poso, Luwuk (Sulteng), Ternate, Palu, Halmahera (Maluku Utara). Sementara daerah-daerah yang mendapati gerhana matahari sebagian antara lain: Padang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, Denpasar, Banjarmasin, Makasar, Kupang, Manado dan Ambon.
Turis domestik pun tak mau ketinggalan dengan moment istimewa ini, salah satunya teman-teman blogger yang memenangkan tiket Laskar Gerhana. Para eclipse hunter (pemburu gerhana) bersiap bahkan beberapa hari sebelumnya untuk menjemput fenomena alam yang satu ini.


Lalu bagaimana dengan keluarga kecil kami? Apakah juga menjadi eclipse hunter?

Ah, enggak...kami turut dalam perayaannya tapi kami tak punyacukup bekal (baca: duit) untuk pergi ke daerah-daerah yang dilalui gerhana matahari total. Akhirnya kami pun sepakat untuk mengikuti sholat gerhana di Masjid Al Akbar Surabaya. Mengapa harus ke Masjid Al Akbar? Padahal di Gresik juga banyak masjid yang mengadakan sholat gerhana (kusuf). Kami dapat informasi bahwa di masjid ini selain mengadakan sholat kusuf juga mengadakan nobar (nonton bareng) gerhana matahari sebagian melalui layar monitor.

Kami berangkat dari rumah sekitar jam 5 pagi. Setelah sholat Subuh langsung mandi dan bersiap-siap semua. Sampai disana sekitar jam 5.30 wib sudah ramai jamaah tapi masih belum padet banget.
Di depan Masjid Al Akbar Surabaya
 Namun setelah aku ke toilet dan mengambil air wudhu (ngantri lumayan lama), ndilalah ketika keluar kamar mandi halaman masjid sudah penuh dengan pengunjung, tumplek bleg... aku jadi heran sendiri lha kok segini banyak orangnya. Aku jadi membayangkan bagaimana suasana di masjidil Haram saat bulan haji yang penuh dengan ribuan orang muslim dan berada di tempat yang sama...Subhanalllah...sambil berdoa dalam hati semoga aku bisa merasakan saat-saat seperti itu kelak di tanah suci dan bisa menunaikan rukun Islam yang kelima. Amiiinnn ... Menurut takmir masjid diperkirakan pengunjung lebih dari 50 ribu orang dan ini melebihi jumlah jamaah ketika sholat Ied. Ternyata masyarakat begitu antusias untuk menyaksikan gerhana matahari ini.

Pengunjung memadati Masji Al Akbar Surabaya


Pake rukuh 744

Beruntung waktu kami datang belum macet dan beruntung pula kami parkir  mobil di badan jalan masjid. Padahal awalnya kami mau parkir di dalam agar lebih dekat ke masjidnya apalagi waktu itu parkir di dalam masih agak longgar parkir di dalam, pastilah nunggu lama karena menunggu kemacetan di luar masjid bisa terurai.

Maceettt...

Kebetulan GMT kali ini berbarengan dengan libur Hari Raya Nyepi sehingga banyak yang libur dan berbondong-bondong bersama keluarga mendatangi masjid-masjid. Pengurus Masjid Al Akbar Surabaya menyediakan berbagai fasilitas seperti 8 televisi plasma layar besar diletakkan di dalam dan di serambi masjid.

Pengunjung berjubel menyaksikan GMT dari layar TV plasma
TV plasma yang disediakan panitia

Di halaman utama masjid disediakan Teleskop Explore Scientific ED 80 mm.
Teleskop pun dikerumuni pengunjung
Sebagian crew yang turut menyukseskan acara nobar
Sebelum sholat khusuf dimulai , dimumkan bahwa ada pembagian kacamata khusus gratis untuk melihat gerhana matahari. Mengularlah antrian jamaah kala itu. Aku yang saat itu baru keluar dari toilet langsung ikut-ikutan ngantri berharap dapat gratisan kacamata. Eehh...sekian lama mengantri kok ini antrian stuck aja nggak maju-maju...tak tahulah apa yang terjadi dengan antrian di depan...ada yang bilang pembagiannya nunggu pak wagub...ealaaahh...lha kok ndilalah antrian di barisanku baru bergerak beberapa langkah saja stock kacamata sudah habis. Aku heran, padahal katanya kacamata khusus yang dibagikan berjumlah 1000 kacamata, makanya dibela-belain ngantri sambil gendong Athiyah, mana Athiyahnya nggak mau turun barang sekejap saja... ternyata informasi yang aku dapatkan 1000 kacamata itu tidak dibagikan pada hari itu saja, tapi sudah dibagikan hari sebelumnya di masjid-masjid yang lain... Yaaa...tahu gitu nggak ikutan antri...husss, itu namanya belum rejeki...
Antrian kacamata gratis

HIKMAH GERHANA MATAHARI

Gejalan alam satu ini akan lebih berarti bila kita bisa mengambil hikmah di baliknya, tidak hanya hura-hura dan merayakan dengan kehebohan dengan makna yang dangkal. Dari peristiwa gerhana matahari total ini dimana peristiwa sinar matahari yang meredup kemudian gelap gulita mengingatkan pada kita bahwa sesungguhnya gelap itu tidak ada., tapi itu terjadi karena ketiadaan cahaya. Itulah kata Einstein. Dengan analogi yang sama Einstein mengatakan bahwa kejahatan itu tidak ada, tapi yang ada adalah ketiadaan kebaikan dalam diri manusia itu sendiri. Kalau dipahami hal ini mengandung makna yang sangat dalam. Dari pendapat Einstein tersebut Bapak Joni Hermana rektor ITS mengatakan bahwa makna filosofi dbaliknya adalah bahwa Allah tidak menciptakan kejahatan. Allah hanya menciptakan kebaikan. Terus bagaimana bisa ada kejahatan dari muka bumi ini? Itu karena manusia sendiri yang menutupi kebaikan baik sengaja maupun tidak. Kebenaran selalu berasal dari Allah SWT, sementara kesalahan selalu berasal dari manusia sebagai makhluk yang dhaif.

Untuk itulah, moment gerhana matahari total ini seharusnya kita jadikan sebagai bahan kontemplasi, bukan sebagai acara hura-hura semata. Euforia boleh boleh saja dan sah-sah saja, tapi tetaplah harus pandai-pandai kita mengambil hikmah dari fenomena alam ini. Manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan suci, namun dalam perjalanan hidupnya manusia sendiri yang mengubah nasibnya, apakah dia mengisi hidupnya dengan kebaikan atau justru menjerumuskan dirinya dalam keburukan.

Insya Allah, 7 tahun lagi kita akan bertemu dengan Gerhana Matahari Total yaitu tahun 2023 dan akan terjadi lagi 19 tahun kemudian yaitu tahun 2024. Wallohu alam bi showab

14 Maret 2016

The Story of Me...





Terima kasih Ya Rabbil Izzati, Kau telah memperkenalkanku tentang betapa indahnya dunia, hingga membuatku untuk terus berjuang menghadang segala carut marut kehidupan. Kini, setelah aku dewasa, berkeluarga, mempunyai dua permata hati, aku tak gagap untuk mengenal tanda-tanda kekuasaan-Mu. Begitu banyak kenikmatan, luka ataupun kecewa... Semua karena aku tahu Engkau telah mengaturnya dengan sedemikian indahnya. Inilah hidupku...dan aku bersyukur dengan hidupku...


My Early Childhood

Denting jarum jam menunjukkan pukul 12 malam hari pada Sabtu Kliwon, 13 Agustus 1977, ketika seorang bayi perempuan lahir ke dunia. Dia lahir sebagai anak kedua dari seorang bapak yang bernama Suhadi dan ibu Supiyati. Tujuh hari kemudian bayi itu diberi nama Reni Dwi Astuti. Itulah aku. Orangtua memberi nama untuk menitipkan harapan-harapannya, bahkan lebih dari itu nama adalah sebuah pertanggungjawaban. Reni adalah nama seorang ustadzah dan mubalighat terkenal (di kota Ponorogo dan sekitarnya) saat itu. Nama lengkapnya adalah Ustadzah Reni Baidhowi. Kala itu satu hari setelah aku lahir, beliau diundang ceramah di masjid Jami’ Tugu (yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kami). Bapakku terinspirasi untuk memberiku nama yang sama yaitu Reni, dengan harapan aku bisa seperti beliau, menjadi seorang ustadzah dan mubalighat. Kini aku mewujudkan sebagian mimpi bapak itu menjadi seorang guru (ustadzah). Dwi, karena aku anak kedua dan Astuti kata dari bahasa Jawa yang artinya “dipuji”.

Aku yang digendong ibu

Ingatanku pun melayang pada saat ibuku mengalirkan cerita-ceritanya tentang masa kecilku yang tentunya sudah tidak terjangkau oleh memoriku. Ketika usia 3 bulan aku harus terhenti mendapatkan ASI karena sesuatu sebab yang ibuku sendiri tidak tahu kala itu. ASI-nya tiba-tiba kering dan tidak mau berproduksi lagi. Betapa beliau menangisi mengapa itu bisa terjadi dan menyesali diri karena tidak bisa memberikan ASI sampai usia 2 tahun. Reni kecil akhirnya diberi susu formula sebagai pengganti ASI.

Kini dalam perkiraanku tentang kisah ibuku yang gagal menyempurnakan pemberian ASI padaku bisa aku mengerti. Meski ibuku bukan wanita karir alias ibu rumah tangga murni dengan segudang pekerjaan rumah tangga yang tiada habisnya, bahkan beberapa hari setelah melahirkan melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendiri, memasak, mencuci tanpa bantuan teknologi modern seperti kita di jaman sekarang ketika memasak tinggak memutar tombol kompor gas, mencuci dengan hanya memencet tombol-tombol di mesin cuci, setrika tinggal antar ke laundry , maka kelelahan sudah pasti terbayang di pelupuk mata. Bukankah seorang ibu yang menyusui seharusnya mendapatkan istirahat yang cukup agar ASI bisa berproduksi maksimal? Memang ada kalanya pemberian ASI pada seorang anak tidak bisa berjalan mulus sesuai keinginan sang ibu. Kata ibuku aku pun suka sekali minum susu formula dan setiap minta minum susu Reni kecil pun berkata, ‘mi dot... midot... midot...midot...”

Aku pun pernah nyaris tertabrak bus antar kota. Ketika itu aku masih baru bisa berjalan. Ketika ibu memasak di dapur Reni kecil berjalan keluar rumah menuju jalan raya (depan rumah kami adalah jalan raya) dan bertepatan dengan itu ada sebuah bus yang sedang melintas, kontan klakson bus pun dibunyikan berkali-kali. Beruntunglah Reni kecil karena ada tetangga yang mengetahuinya dan seketika itu dia pun berlari dan menggendongku menjauh ke tepi jalan. Terima kasih ya Allah, ini adalah sebagian kecil dari takdir indah-Mu untuk kelanjutan episode hidupku.

Bapak, Om Dibyo, Kakak, Aku

Bersama Kakakku

Ketika usiaku sekitar 4 tahun, bapak mengalami kecelakaan sepeda motor dan memerlukan perawatan yang tidak sebentar. Aku, kakak dan adikku pun harus wara-wiri mengikuti kemana Bapak dirawat. Saat bapak harus rawat inap di RS KUSTATI Solo beberapa bulan, kami pun dititipkan di rumah mbah. Ini pernah aku tulis disini. Setelah Bapak sudah mendingan dan bisa dibawa pulang ke rumah, beliau berdua (tentunya dengan kesepakatan seluruh keluarga besar) memutuskan untuk meningggalkan rumah kami yang selama ini kami tempati. Kamipun pindah ke rumah mbah yang lumayan besar. Konon dari cerita ibu, rumah kami termasuk angker. Banyak sekali cerita yang membuat bulu kuduk merinding. Masyarakat sekitar pun mengetahui hal itu. Meski begitu Bapak dan Ibu terus bertahan dan percaya dengan keagungan-Nya (walaupun sering mendapatkan pengalaman yang menakutkan). Wallohu 'alam, selalu ada saja musibah yang menghampiri anggota keluarga kami. Rumah kami dulu katanya bekas kuburan sehingga nuansa mistiknya sangat kuat. Namun, waktu itu aku tidak mengerti hal-hal yang demikian. Yaa maklumlah aku masih kanak-kanak yang lugu dan polos.

Bersama keluarga di depan rumah kami

Bersama ibu dan adik (almarhumah)

Masa-masa ketika di TK adalah masa yang sangat menyenangkan. Masa bermain yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Bermain dengan kakak dan adikku serta teman-teman di sekitar rumah. Meski hanya beberapa moment yang masih tersisa di ingatan, namun rasanya tidak ada beban sebagai anak-anak kala itu.

Saat karnaval di TK

Namun, ketika aku kelas 2 SD awan kelabu sedang menaungi rumah kami. Aku harus kehilangan adikku satu-satunya yang meninggal karena sakit. Namanya Erma Suciati. Erma kecil anak yang cerdas dan pemberani. Dia meninggal di usia 5 tahun. Aahh...tiba-tiba rasa kangenku padanya menyeruak ketika aku menulis dan mengunggah foto ini...

Aku dengan adikku almarhumah

Bersama Mas-ku

Keceriaan seorang anak aku alami sampai aku kelas 3 SD. Aku bermain bersama teman-teman dengan keceriaan khas anak kecil. Mulai kelas 4 sekolah sempat menjadi tempat yang tidak nyaman bagiku. Aku sering dibully oleh teman-teman cowok sekelasku. Mereka menjodoh-jodohkanku dengan teman sekelas juga. Dan itu membuatku malu dan memendam amarah karena tidak berdaya melawan mereka. Saat itu aku bersorak gembira bila si biang pem-bully itu tidak masuk sekolah. Namun, meski aku jadi korban bully, prestasi belajarku tidak terpengaruh. Ranking 1 atau 2 selalu dalam genggaman. Saat aku kelas 5 aku memiliki adik baru. Kami selisih 11 tahun. Awalnya aku malu mempunyai adik baru. Dalam pikiranku saat itu, aku kan sudah besar masak punya adik bayi... Aku sempat cemas ya? Tapi ternyata, lama-lama senang juga dengan adik baru, apalagi dia seorang cewek, lucu dan cantik...  Dia bisa menjadi temanku dalam bermain.

Oh ya, Bapakku termasuk keras dalam mendidik kami anak-anaknya. Beliau mendisiplinkan kami dalam setiap kegiatan. Bahkan aku tidak boleh bermain atau belajar sebelum mengaji. Kami pun sudah diserahi tanggung jawab masing-masing di rumah. Aku menyapu rumah bagian tengah dan kakakku menyapu rumah bagian depan. Itu sudah berlaku setiap hari sebelum berangkat ke sekolah. Sholat pun harus tepat waktu, hingga aku pernah iri dengan teman-temanku yang orangtuanya agak longgar dalam hal ini. Tapi ternyata, apa yang dilakukan oleh orangtuaku dapat aku rasakan manfaatnya hingga kini. Dan harus aku akui dalam hal ini aku kalah dengan beliau. 
adikku (cewek) dan sepupunya saat usia 3 tahun
Oh ya, karena masih terus dibully, rasa-rasanya aku pingin cepat lulus dan terhindar dari bully teman SD ku. Namun apa yang terjadi setelah aku di SMP? Ternyata bully itu masih berlanjut padaku, tapi dilakukan oleh teman SMP dari sekolah yang berbeda. Entahlah, saat itu yang berkecamuk dalam diriku adalah rasa malu, marah, jengkel, takut, cemas, tidak nyaman...campur aduklah. Aku kecewa pada diriku sendiri karena “membiarkan” hal itu aku alami. Namun aku tak kuasa “menyelesaikan” hal tersebut, termasuk tidak berani untuk melaporkan pelaku pada orang tua maupun guru karena takut dicap penakut, tukang ngadu, atau bahkan disalahkan.Hal itu yang membuat aku semakin tidak percaya diri. Mengapa harus aku yang menerima semua itu? Namun, menjadi korban bully tidak menjadi alasan untuk tidak belajar. Justru semua itu melecutku untuk menjadi siswa yang berprestasi. Saat itu aku ingin menunjukkan kepada mereka bahwa aku bisa meski mereka membully-ku terus menerus. Aku lebih banyak tidak menanggapi mereka karena semakin aku menanggapi mereka semakin santerlah mereka membully-ku.Akhirnya  dengan memacu semangat belajar aku pun bisa menjadi juara umum di SMP kelas 2. Dan ceritaku ini sekarang selalu aku share kepada siswa-siswa di sekolahku. Kebetulan aku seorang konselor di sekolah, sehingga aku berupaya agar kasus-kasus bullying tidak terjadi, minimal berkuranglah.

Bersama 2 sahabat saat SMP

Kuingat bagaimana perjuanganku meraih prestasi itu. Aku berusaha mengalahkan rasa kantuk untuk memperbanyak jam belajarku tiap harinya. Aku bertanya pada orang-orang di sekitarku bagaimana mengatasi rasa kantuk. Ada yang menyarankan minum kopi yang dicampur garam. Aku lakukan itu demi prestasi yang ingin aku raih. Namun apa yang terjadi, memang mataku bisa tetap terjaga sampai jam 1 dinihari tapi otak tidak bisa diajak kompromi karena mungkin sudah terlalu lelah. Ada juga yang menyarankan kaki direndam dengan air. Itu pun aku lakukan. Kalau sudah mulai kantuk aku pun bergegas mengambil ember berisi air dan kurendam kakiku di ember itu sambil belajar. Namun ketahanan kakiku juga ada batasnya, bahkan aku masuk angin. Aku bertanya lagi barangkali ada hal lain yang bisa tetap terjaga. Ada tetangga yang bilang agar aku minum obat Ultra**p agar tidak cepat mengantuk. Namun yang ketiga ini belum sempat aku coba. Ternyata, ambisiku untuk menjadi siswa berprestasi itu harus dibayar pula dengan ambruknya kondisi badanku sehingga aku punharus diopname selama seminggu di rumah sakit. Dua hari di rumah sakit, ibuku juga menyusul diopname juga. Betapa sedihnya saat itu, bahkan ketika aku boleh pulang, ibu masih opname di rumah sakit. Bapaklah yang mondar-mandir mengurusi kami, dibantu dengan bulik-bulik yang bergantian menjaga kami di rumash sakit. Kerja kerasku rasa-rasanya impas dengan prestasi yang aku dapat sehingga aku meraih juara umum. Dan hal yang paling menyenangkan adalah ketika kelas 3 SMP aku sudah mulai terbebas dari bullying verbal itu sehingga aku lebih fokus pada persiapan EBTANAS. Rasanya inilah dunia kebebasanku...

Saat kelas 3 SMP

Masa-masa SMA yang menyenangkan...

Semakin bertambah usia semakin bertambah percaya diri, meski masih setengah-setengah. Kurang percaya diri  yang kumaksud disini dalam hal bergaul dan mengenal teman secara luas. Mungkin aku termasuk agak kuper saat itu. Waktuku lebih banyak aku habiskan untuk di rumah dan belajar. Ketika teman-teman mengajak main aku lebih banyak menolak karena hal itu berkaitan dengan uang sakuku saat itu yang hanya cukup untuk naik bus atau angkot pulang-pergi sekolah.Bahkan kalau sang kondektur lupa menarik ongkos bus, betapa indahnya hal itu...(iihh, ini mah nggak jujur...). Dan kalau pergi main mestilah ada jajannya, paling tidak transport untuk main kan harus ada. Jadilah aku anak yang agak kuper. Iri banget sebenarnya pingin bisa sering bermain bersama teman-teman kala itu. Sesekali aja sih main bersama teman-teman. Sampai-sampai ada temanku yang sekarang sudah jadi seorang hakim mengatakan kalau mukaku sudah mirip dengan buku karena sibuk belajar terus. Padahal nggak segitu juga kaliii... Dapat uang jajan lebih hanya seminggu sekali yaitu saat ada pelajaran olahraga. Kalau ada teman yang jajan di kantin dan jajan yang dibelinya banyak, aku hanya bisa berkata dalam hati, “Betapa beruntungnya temanku ini, bisa jajan semaunya, pastilah anak orang kaya...” Sementara aku beli jajan di kantin aja seminggu sekali atau sesekali ketika ada uang saku lebih.

Bersama teman SMA (aku yang tersenyum)

Bersama teman kelas Fisika (aku di depan 2 teman yang berjilbab)

Saat SMA sempat naksir seorang cowok juga, tapi nggak berani menyampaikan,dan itu aku simpan dalam hati tanpa seorang pun yang tahu. Yaahh...cinta monyet yang tak tersampaikan, begitu mungkin sebutannya. Menjelang akhir SMA (tahun 1992), aku membuat keputusan untuk memakai jilbab. Saat itu jilbab memang belum familier. Di sekolahku hanya 2 siswi yang berjilbab. Motivasi dari temanku yang sudah lebih dulu menutup auratnya ternyata mampu mempesonaku untuk mengikuti jejaknya dalam menutup aurat. Aku ingat catatan seorang teman yang ditorehkannya di bukuku saat itu. Dia mengatakan, “Janganlah jadi generasi chiki”. Aku sempat bertanya-tanya waktu itu, ini apa maksudnya. Karena penasaran aku pun bertanya langsung kepadanya. Dia menjelaskan generasi chiki (jenis makanan ringan) itu maksudnya hanya bagus di kemasan tapi dalamnya nggak bermutu alias keropos mentalnya. Aku pun semakin memantapkan hati untuk berhijab.

Akupun mengutarakan maksudku pada ibuku. Saat itu ibu mengatakan bahwa aku kan sudah kelas 3 SMA, sementara sebentar lagi lulus, masak harus beli baju baru untuk seragam. Aku melihat di wajah ibuku ada raut bahagia melihat anaknya mau berhijab, namun di sisi lain kemampuan ekonomi orangtuaku yang saat itu sangat pas-pasan sehingga terasa berat untuk membeli seragam-seragam baru yang hanya akan dipakai beberapa bulan  saja di SMA. Namun aku terus berusaha agar ibu menyetujui keinginanku. Meyakini kemantapan tekadku untuk mengenakan hijab sudah tak terbendung lagi, akhirnya ibu pun membeli kain-kain buat seragam sekolah. Beliau menjahit semua baju-baju itu. Untungnya ibuku seorang penjahit sehingga tidak dibebani ongkos jahit. Setelah aku, tiga temanku ikut mengenakan hijab juga.

Setelah berhijab (aku yang tengah membawa bungkusan koran)

bersama dengan teman cewek sekelas
                                

Masa menempa diri dalam kawah candradimuka

Lulus SMA akupun ikut UMPTN (sekarang SNMPTN). Namun aku gagal menembus PTN favoritku kala itu. Fakultas Psikologi Unair. Aku pun berhenti setahun untuk mempersiapkan diri ikut UMPTN tahun berikutnya. Sebenarnya ingin sekali  mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan UMPTN tahun berikutnya, namun aku tidak berani menyampaikan pada orangtuaku karena aku cukup tahu diri, biaya untuk itu tidaklah sedikit sehingga aku belajar sendiri dengan mengerjakan contoh-contoh soalnya saja. Selama masa vakum satu tahun aku manfaatkan untuk mengikuti kursus komputer dan kursus akuntasi hingga UMPTN datang lagi. Dengan pilihan yang sama dengan tahun sebelumnya, ternyata aku gagal lagi. Aku pun akhirnya melanjutkan ke sebuah universitas swasta di Malang. Sejak awal kuliah aku bertekad untuk serius kuliah, no pacaran, aktif di organisasi dan cepat lulus dengan nilai yang baik. Tidak lain dan tidak bukan salah satunya karena tidak ingin mengecewakan orangtua yang sudah dengan susah payah membiayai kuliahku.

Saat awal masuk kuliah (aku yang baju merah muda)

Lagi-lagi, aku jadi mahasiswa aktivis yang jarang menghabiskan waktunya untuk nyantai-nyantai bareng teman. Sehari-hari di kampus, pulang ke kost kalau sudah sore atau malam setelah aktifitas organisasi selesai. Bener-bener jadi mahasiswa yang kurang piknik (istilah sekarang). Mengikuti aksi turun lapangan juga aku jabanin, apalagi saat itu sedang gencar-gencarnya aksi demonstrasi mahasiswa pro reformasi. Sebagai aktivis waktu itu, tentu aku tidak boleh ketinggalan. Reni yang dulunya saat SMP dan SMA termasuk anak yang agak kuper alias kurang pergaulan, pada saat kuliah berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Semangat seperti itu yang kini selalu aku tularkan juga kepada siswa-siswaku di sekolah kini. Bahwa semua orang bisa berubah asalkan mempunyai niat dan kemauan yang kuat. Selain itu, aku juga berusaha untuk mendapatkan uang tambahan dengan menjadi reseller baju, kaos, sepatu, tas bahkan kosmetik. Aku jualan dengan datang ke kost teman-teman, terkadang sambil bawa dagangan ke kampus.

Aku yang paling depan jilbab krem

Ada beberapa organisasi yang aku ikuti, antara lain IMM-Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (sempat menjadi Ketua Umum tingkat fakultas), BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa-Bendahara), SEF (Student English Forum) dan Tapak Suci. Ada kalanya kejenuhan melanda diantara padatnya aktivitas organisasi. Yang aku lakukan adalah berdiam diri di kost dan bercengkerama dengan teman-teman kost, nonton tivi atau sekedar jalan-jalan. Aku menyebutnya sebagai keseimbangan. Semangatku untuk menyelesaikan kuliah selama 4 tahun kandas karena aku mengalami kecelakaan tunggal saat perjalanan dari lokasi penelitian. Kecelakaan itu mengharuskanku untuk tidak kemana-mana selama satu bulan karena kakiku luka parah. Aku pun berusaha menerima dengan ikhlas semua ini, meski awalnya menyesali juga mengapa ini harus terjadi. Justru dari kejadian ini aku mengambil hikmah yang besar bahwa tidak setiap keinginan dalam diri kita bisa menjadi kenyataan karena ada yang mengatur setiap titik perjalanan hidup kita. Akhirnya aku pun dapat menyelesaikan kuliahku selama 4,5 tahun dengan predikat IPK tertinggi di fakultas. Aku menyebutnya bukan sebagai mahasiswa terbaik, tapi IPK tertinggi iya. Karena IPK tertinggi belum tentu bisa dijadikan indikator kalau dia sebagai mahasiswa terbaik. Kebetulan nilai IP yang aku kumpulkan mengantarkanku menjadi mahasiswa peraih IPK tertinggi di fakultas.


Kisah saat bekerja

Setelah lulus, aku pun direkrut menjadi staf di Laboratorium Psikologi di kampus. Selain itu aku pun menjadi asisten dosen, yang kemudian mengantarkanku menjadi dosen tidak tetap di kampus. Sekitar satu tahun menjadi dosen, ada panggilan kerja di sebuah sekolah alam di Surabaya. Aku sangat bingung kala itu dihadapkan oleh dua pilihan yang sama-sama berat. Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan dan beberapa kali sholat istikharah aku pun memutuskan untuk menerima tawaran dari sekolah di Surabaya sehingga aku harus meninggalkan kampusku tercinta. Namun  saat itu aku masih harus menyelesaikan tugas dan tanggung jawabku di kampus. Jadi bolak-balik Malang-Surabaya. Awalnya berat, namun setelah dijalani aku banyak menemukan pelajaran kehidupan yang tiada terkira di tempat mengajarku yang baru ini. Aku bergelut dengan anak-anak mulai dari play group, TK dan SD di sebuah sekolah alam dan aku begitu menikmatinya. Sebuah episode kehidupan yang penuh sarat makna.

Ketemu jodoh... meet the soulmate

Di Surabaya ini juga aku pertama kali bertemu dengan my soulmate. Kami tidak pernah kenal sebelumnya, tapi beberapa kali berada diacara yang sama dalam kegiatan organisasi kampus. Ia kuliah di Yogjakarta dan aku di Malang. Namanya juga jodoh, kalau belum saatnya dipertemukan ya nggak akan ketemu. Jadi, teman-temannya adalah teman-temanku juga. Dan kami pun diperkenalkan oleh teman kami. Karena jarang ketemu kami hanya sms atau telpon aja sesekali.Akhirnya setelah sama-sama serius, keluarga semua setuju, dia pun melamarku pada tanggal 10 Agustus 2003.


Bahtera itu segera dikayuh...

saat menikah

Tepat tanggal 8 Februari 2004 kami mengikat janji sehidup semati, selalu bersama dalam suka dan duka, dalam kelebihan maupun dalam kekurangan. Setelah menikah kami sempat LDR, lebih tepatnya sebelum menikah pun kami LDR-an. Suami di Jakarta aku di Surabaya. Satu bulan usia pernikahan kami, hasil tes laboratorium menyatakan bahwa ada kehidupan baru yang berusia empat minggu ada di dalam rahim saya. Padahal waktu itu kami merencanakan mempunyai momongan setelah usia pernikahan kami sekitar satu tahunan, ternyata Allah memberikan lebih cepat dari yang kita minta. Hingga usia kehamilan di bulan ke-9, kami merencanakan setelah lahiran untuk tinggal di ibukota sehingga aku pun resign dari tempat mengajarku. Ternyata, belum sampai pindah ke Jakarta suami sudah dipindah lagi ke Gresik. Sampai Kayla (putri pertama) berusia 2 tahun, baru aku mencari pekerjaan lagi dengan mengajar di sebuah bimbingan belajar sampai akhirnya aku diterima menjadi CPNS di awal tahun 2011. Dua tahun setelahnya putri kedua pun lahir. Bertambah lagi anugerah dari Allah yang harus kami jaga dan kami didik untuk menjadi insan kamil yang penuh dengan kemuliaan.

Kayla dan Athiyah

Langit kehidupan tak selalu cerah, kenyataan hidup tak selalu manis. Selama menjalani pernikahan ini tak sedikit batu sandungan yang pernah aku alami bersama suami. Tetapi, kami tetap selalu bersama dan menghadapinya dengan sabar, ikhlas dan tawakkal. Tak dipungkiri bahwa ada rasa lelah, cemas dan kadang kecewa. Ada saat dimana pertahanan spiritual kami melemah. Namun kami bisa saling menguatkan. Kami menganggapnya itulah seni kehidupan yang kelak akan mendewasakan kita sebagai manusia.


Tentang mbak Ika Puspitasari...

Dikatakan kenal tapi belum tahu banyak. Dikatakan tidak kenal tapi saya sering membaca update statusnya di facebook. Sehingga jika diminta memberikan kesan terhadap beliau rasanya kurang bahan bagi saya untuk memberikan masukan tentang beliau, malah nantinya tidak bisa objektif. Namun saya akan memberikan semacam komentar untuk blog beliau. Dari blognya saya mengetahui beliau seorang ibu dengan tiga anak, aktif dalam dunia kepenulisan. Bahkan beliau pernah menerbitkan 2 buku secara bersama-sama dengan penulis yang lain (ah...jadi merasa belum ada apa-apanya dengan Mbak Ika Puspitasari). Tulisan-tulisan di blognya mengalir dengan kata-kata dan bahasa yang mudah dipahami. Jadi kalo membaca tulisan beliau tidaklah perlu kita mengernyitkan dahi hehehe... Tulisannya enjoyable dan lebih banyak tentang hal-hal sehari-hari.

Terima kasih ide GA nya mbak, karena dengan GA ini saya jadi ada "keberanian" untuk menuliskan sejarah diri ke layar blog hehehe...dan foto-foto kenangan lama yang tersimpan selama ini di album kenangan bisa lebih berkata-kata...

Terselip doa untuk Mbak Ika Puspitasari, Selamat Ulang Tahun, barokalloohu fii umrik. Semoga selalu sehat, panjang umur, diberi kekuatan untuk mendidik dan menemani putra putri tercinta, diberi keberkahan usia dan selalu membawa maslahah bagi sesama... Dan teruslah berkarya dan menebar manfaat bagi semesta...
Btw, Mbak Ita tidak ingin bernostalgia ke Gresik? Saya tinggal di Gresik lho Mbak, hehehe...