20 November 2016

DEPOT SUNDARI, RASAKAN NIKMATNYA MIE AYAM BERPADU DENGAN ES TELER YEN-YEN



Pertama kali ke Depot Sundari ketika diajak suami sesaat setelah aku pindah ke Gresik. Saat itu suami bilang kalau Depot Sundari merupakan depot legendaris di Gresik. Terkenal dengan mie ayamnya dan beberapa varian mie lainnya seperti mie bakwan dan mie pangsit. Sejak pertama kali merasakan enaknya mie ayam disana dan cocok di lidah, aku pun beberapa kali mampir kesana. Emang ngapain mampir kesana? Yaa beli mie ayam lah, masak mau cuci piring disana...

15 November 2016

KAMPUNG KEMASAN, CAGAR BUDAYA KOTA GRESIK



Pada suatu sore  di Minggu kedua bulan November, aku mengajak putri sulungku untuk melihat-lihat salah satu warisan budaya di Kota Pudak ini, yaitu Kampung Kemasan.  Meski sudah 10 tahun tinggal di Gresik, aku belum pernah sekalipun bertandang ke Kampung Kemasan ini. Memang aku belum tahu lokasinya, namun sering dengar juga disebut-sebut tentang Kampung Kemasan. Ternyata kalau hanya lewat daerah sekitar situ sudah cukup sering, tapi memasuki area ini yang baru sekali ini. 

09 November 2016

KALAU MARAH, IBU NGGAK MASUK SURGA LHO...



Siapa sih yang tidak ingin menjadi orangtua yang dicintai, disayangi dan dirindukan oleh anak-anaknya?
Apakah selama ini kita sudah merasa dirindukan oleh anak-anak kita? Atau justru anak-anak merasa kurang nyaman ketika orangtuanya ada di dekatnya? Apakah anak justru merasa senang bila kita ada di kegiatan di luar rumah sehingga mereka merasa bebas melakukan sesuatu di rumah?

Tentu kita harus cari tahu jawabannya...
Mungkin untuk orangtua yang anaknya masih balita, justru anak-anak tidak mau jauh dari pelukan orangtua. Tapi ketika anak-anak sudah menginjak usia remaja apakah mereka masih ingin selalu ada di dekat orangtuanya, atau justru merasa nyaman bila jauh dari pengawasan orangtua.

Perlu effort yang tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan bukan?
Untuk itu marilah kita terus dan terus belajar menjadi orangtua.
Tema itulah yang diangkat dalam TALKSHOW PARENTING NASIONAL 2017 yang diselenggarakan oleh Komite Sekolah Al Ummah Gresik. Bertempat di Graha Sarana PT. Petrokimia pada hari Sabtu, 8 April 2017. Acara dihadiri oleh sebagian besar wali murud dari Sekolah Al Ummah, guru-guru PG/TK serta para orangtua yang concern terhadap pengasuhan putra putri mereka.

Talkshow ini menghadirkan Ustadz Bendri Jaisyurrahman seorang muballigh, Konselor Anak, Keluarga dan Pernikahan, serta pendiri Aliansi Cinta Keluarga Indonesia.

Well... inilah beberapa rangkuman yang bisa saya tulis dari acara tersebut, semoga bermanfaat bagi diri saya sendiri dan siapapun yang berkenan membacanya.

Merupakan hal yang tidak mengherankan jika saat ini sebagian anak-anak justru lebih betah berlama-lama berada di luar rumah. Mereka lebih asyik nongkrong di cafe, mall, play station, warnet bahkan di warung kopi. Tak sedikit dari mereka yang pulang larut malam bahkan ada yang terlibat dalam tawuran.
Atau sebagian anak-anak ada di dalam rumah tapi bersikap menjadi antisosial, sibuk dengan gadgetnya dan jarang berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain padahal mereka berada dalam satu rumah. 

Pertanyaan besarnya adalah: DIMANA ORANGTUA MEREKA?

Hal-hal seperti itulah yang seyogyanya membawa kita untuk mengevaluasi diri apakah selama ini kita justru menjadi orangtua yang “dijauhi” oleh anak-anak kita sendiri.
Tidak sedikit orangtua yang merasa dirindukan oleh anak-anaknya, atau merasa ke GR-an sudah menjadi orangtua terbaik bagi anak-anaknya. Pernahkah sebagai orangtua bertanya kepada anak-anaknya misalnya, “Nak, menurutmu mama/papa itu orangnya gimana?”
Apakah anak akan menjawab, “Mama bawel, cerewet... Papa sukanya marah-marah melulu...”
Nah lho kann...

Pernah aku tanyakan hal serupa kepada si sulungku, eh jawabannya, “Ibu pelit, masak kalau anaknya minta sesuatu nggak dibelikan” atau “Masak aku disuruh belajar terus, kan pusing... Coba Ibu sendiri yang jadi aku...”
Nah berbekal jawaban itu kita bisa memberikan perhatian lebih ke anak serta menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan jawabannya, tapi bukan untuk membela dirinya yaa...

Untuk si bungsu sering aku tanya, “Dik, kalau ibu marah, adik suka nggak?”
Jawabannya, “Aku nggak suka Ibu marah, aku nggak mau sama Ibu!!!" atau "Ibu nakal kalo marah"...Dengan ekspresi ketus dan apa adanya dia menjawab, padahal saat itu aku dalam kondisi tidak sedang marah.
Bisalah dicoba untuk pertanyaan-pertanyaan lain dan mungkin kita akan tercengang dibuatnya.


Dalam mendidik dan mengasuh anak sudah menjadi kewajiban bagi kedua orangtua, baik ayah maupun ibu. Namun seringkali di masyarakat kita masih saja ada yang beranggapan bahwa ayah bertugas mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga sementara ibu bertugas mendidik dan mengasuh anak.

Pandangan tersebut ternyata perlu dikoreksi. Al Qur,an sudah memberikan panduan bagaimana menjadi orangtua hebat. Kalau berbicara tentang peran orangtua dalam Al Qur’an dialog yang terjadi antara anak dan orangtua justru yang paling banyak disebut adalah peran ayah dibanding peran ibu.

Ketika bicara tentang anak, ada 14 dialog antara ayah dan anak mulai dialog Nabi Ibrahim as – Ismail as, Ya’kub as- Yusuf as, Syaikh Madyan - anak perempuannya, Daud as – Sulaiman as,Ibrahim as dengan ayahnya, Ya’kub as dengan anaknya serta dialog Lukman dengan anaknya. Sementara dialog antara ibu dengan anak hanya ada 2 saja yaitu dialog antara Maryam dengan janinnya dan dialog antara Ibu Musa dengan anak perempuannya.

MISI ORANGTUA : MENGIKAT HATI ANAK
Ibu lebih banyak berperan sebagai “al wadud/al mawaddah” yaitu kecenderungan anak untuk ingin selalu menempel karena kasih sayang yang kuat. Inilah ibu yang sedang menjalankan fungsi pengasuhan yang biasa disebut sebagai fase emosional bonding. Ciri anak yang terikat dengan orangtuanya, merindukan kehadiran orangtua sehingga mereka akan banyak tergantung dengan orangtua. Ikatan emosi/batin seperti ini akan sangat berpengaruh bagi anak di masa depannya ketika ia menjalani masa-masa sulit meskipun orangtua tidak berada di sisinya. Dan yang harus diingat bahwa orangtua tidak mungkin selamanya akan mendampingi anak-anaknya. Anak juga lebih mandiri, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi serta menggapai cita-citanya. Nah emotional bounding yang kuat inilah yang berperan sebagai pengarah.

Sebaliknya, ketika anak tidak mempunyai emosional bonding yang baik dengan orangtuanya maka dia akan tidak mudah percaya pada orangtuanya dan lebih suka mendengar apa yang dikatakan oleh temannya, meskipun itu tidak baik baginya. Nah, disinilah saat pengaruh buruk dari luar masuk dengan mudah.
 
Makanya pada fase usia 0 – 2 tahun merupakan fase pengikatan (fase emosional bonding). Dalam Al Qur’an sangat jelas bahwa Allah memerintahkan seorang ibu untuk menyusui anaknya dengan ASI. Bukan hanya ASI yang diberikan tapi yang tidak kalah pentingnya adalah belaian yang dibutuhkan oleh sang anak. Tentu tidak hanya ibu saja yang berperan. Sang ayah pun juga harus turut menjadi aktor utama dalam keterlibatan pengasuhan anak.
Bila ada pengasuh lain babysitter atau ART misalnya, maka orangtua harus tetap mengupayakan agar orangtua tetap menjadi tokoh utama. Ini bertujuan agar ikatan yang terjalin bukan dengan babbysitter atau ART tapi tetap pada orangtuanya.

Dalam fase 0 – 2 tahun ini orangtua harus mengerahkan segala energinya baik suara, bahasa tubuh dan ekspresi muka agar terekam kuat dalam memori si anak sehingga akan memunculkan ikatan hati. Pendengaran, penglihatan dan hati harus dipenuhi haknya. Anak harus sering mendengar suara orangtuanya, anak harus sering melihat wajah orangtuanya dan anak harus merasakan bahwa dia mendapatkan kasih sayang penuh dari orangtuanya.

SINDROME "MOMMY IS MY ENEMY"
Ini merupakan kecenderungan anak yang bermusuhan dengan ibunya di usia ABG. Mereka cenderung bicara kasar dan tidak sopan pada ibunya. Ustadz Bendri mencontohkan sebuah kasus gadis X yang berperilaku sangat kasar pada ibunya, kata-kata kotor selalu diumpatkan pada ibunya. Gadis X pernah bercerita pada ustadz Bendri (cerita ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan para working mom) bahwa sejak usia satu tahun ia minum ASI perah karena ibunya sering ada tugas ke luar negeri. Ibunya berpesan pada ART di rumah itu agar selalu memberikan ASI (bukan susu formula) kepada anaknya. Tak lupa ia pun berpesan bila stok ASI hampir habis sang ART harus lapor ke sang ibu agar sang ibu bisa memerah ASI-nya dan akan dikirimkan. Sang ibu berprinsip agar anaknya harus mendapatkan ASI full selama dua tahun.

Gadis X bilang bahwa dia memang minum ASI full selama dua tahun tapi diberikan selalu dari botol. “Emangnya gue anak botolan...” itu ungkapan yang keluar dari mulutnya dengan penuh rasa kesal.

Dari peristiwa tersebut dapat digarisbawahi bahwa masih ada para ibu yang salah paham mengenai konsep ASI. Tidak hanya tercukupi ASI ke mulut anak tapi lebih dari itu anak juga butuh tercukupi belaian orangtua. Dengan seringnya tak memberikan ASI langsung dari puting dapat menyebabkan anak sehat fisiknya namun jiwanya kosong. 

Bagaimana jika ibu ada kendala dalam pemberian ASI seperti ibu bekerja, ASI kering (tidak mau keluar), si ibu sedang hamil lagi atau karena alasan medis sehingga tidak disarankan menyusui maka si anak baduta (bawah dua tahun) harus tetap sering ditempelkan pada puting sang ibu walau tiak nenen (menyusu). Hal ini bertujuan agar anak tercukupi belaian atau sentuhan sang ibu.

BUAH DARI ORANGTUA YANG DIRINDUKAN
Ketika anak-anak sudah memiliki ikatan emosional yang kuat dengan orangtuanya maka inilah hasilnya: 

  1. Anak berusaha taat meski beda keinginan.
  2. Anak tetap hormat meski dimarahi.
  3. Anak tidak menyimpan rahasia kepada orangtuanya.
  4. Orangtua dijadikan rujukan dalam nilai dan prinsip.
  5. Anak tidak betah keluyuran di luar.
  6. Orangtua dijadikan referensi dalam mencari jodoh
  PENTINGNYA KEDEKATAN AYAH DENGAN ANAK PEREMPUANNYA
Di Indonesia angka perceraian sudah sangat tinggi. 70 persen istri yang menggugat cerai suami. Kenapa? Setelah ditelisik lebih dalam ternyata hal ini lebih disebabkan oleh tidak adanya atau tipisnya emosional bonding antara ayah dengan anak perempuannya. Anak perempuan yang dekat dengan ayahnya berpengaruh terhadap 2 hal, yaitu :
  1. Tidak mudah jatuh cinta kepada sembarang lelaki saat ABG.
  2. Tidak mudah menggugat cerai suami jika sedang berkonflik. Saat berkonflik dengan sang suami dia akan curhat ke ayahnya bukan ke laki-laki lain. inilah pentingnya father bonding
Bagaimana jika terlambat melakukan emotional bonding di usia 0-2 tahun?
Tidak ada kata terlambat.
Emosional bonding masih bisa diciptakan.
Caranya dengan "peka membaca"  goldent moment. Apa itu GOLDEN MOMENT? yaitu suatu keadaan dimana anak benar-benar memerlukan kehadiran kita sebagai orangtua. ini bisa terjadi tanpa sengaja tapi bisa juga direkayasa.

Contohnya dikala anak sedang sedih dan membutuhkan kita atau pada saat anak menunjukkan prestasinya. hadirlah dengan sepenuh jiwa raga pada saat-saat itu. Jangan hanya hadir secara fisik saja.
Ketika anak sedang sedih, jadilah tempat curhatnya, jangan biarkan orang lain merebut posisi itu. Ketika anak sedang sdih sementara orangtua tidak peka maka hatinya akan semakin rapuh. Dia semakin tidak percaya pada orangtuanya dan akan mencari sosok lain yang bisa mendengarkan dia. Akan semakin berbahaya bila yang dijadikan sosok curahan hatinya adalah sosok yang tidak tepat.

Begitu juga ketika anak menunjukkan prestasinya. Misalnya ketika dia tampil dalam pentas sekolahnya seperti menyanyi, baca puisi, menari atau bahkan hanya sebagai pemeran figuran dalam drama sekolah. Meskipun kesannya remeh dan biasa tapi ini sangat penting bagi kebanggaan dirinya di hadapan orangtuanya. Berikanlah tepuk tangan yang tulus dan penuh rasa bangga pada anak. Jangan sampai tidak hadir pada acara-acara penting bagi anak demi terciptanya emosional bonding.

Ketika emosional bonding sudah terwujud dengan kuat maka sesungguhnya kita telah mendampingi anak-anak kita tercinta meski kita telah tiada.


02 November 2016

FOTO KELUARGA DALAM PHOTOBOOTH



Pingin banget sebenarnya punya foto keluarga. Fotonya di studio foto terus ditata dengan apik...lalu..lalu... dipajang dengan ukuran gedhedi ruang tamu. Eh tapi, dari dulu Cuma berencana sampai sekarang  nggak pernah dieksekusi. Mulai dari punya anak satu sampai sekarang anak sudah dua belum pernah foto keluarga di studio foto.


Hmm..itu artinya foto keluarga belum menjadi kebutuhan primer bagi keluarga kami, apalagi mas bojo nggak hobi foto-foto gitu.

Bagaimanapun foto keluarga itu penting. Itu menurutku. Meski nggak harus foto khusus di studio foto sih...seperti keluarga kami ini. Eh iya, kalau foto keluarga di studio foto minimal kostum juga harus disiapkan biar serasi gitu antar anggota keluarga. Dan juga harus menyiapkan waktu khusus untuk take picture-nya. Dan ini yang pasti nggak boleh ketinggalan, siapkan dana khusus untuk ini.