11 April 2017

AYO... BERSAMA KITA LAWAN HOAX



Acara BINCANG TOKOH NASIONAL  dalam rangka Peringatan hari Pers Nasional 2017 yang dikemas dalam bentuk talkshow ini menghadirkan para narasumber yang pakar di bidangnya. Ada 4 narasumber yang dihadirkan dalam acara kali ini seperti yang telah saya sebutkan pada tulisan saya sebelumnya di  DEKLARASI GRESIK MELAWAN HOAX


Namun sayang ada 2 narasumber yang berhalangan hadir karena ada kepentingan dan tugas negara yang jauh lebih penting. Dirjen Imigrasi Bapak Ronny F. Sompie berhalangan hadir karena ada tugas negara mewakili Menkumham di kancah Internasional. Beliau menugaskan Bapak Zaeroji, S.Sos, MH (Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian) untuk sharing di acara ini.


Begitupun Bapak Brigjen Pol Boy Rafli Anwar (Kadiv Humas POLRI) berhalangan hadir dan menugaskan Brigjen Pol Drs. Rikwanto, SH, M.Hum (Kapuspenmas Divisi Humas POLRI)


Kesempatan pertama Bapak Zaeroji, S.Sos, MH menyampaikan beberapa informasi antara lain pengguna internet di Indonesia terbanyak berprofesi sebagai pekerja dan wiraswasta. 60% pengguna internet bermukim di Pulau jawa.


Dari segi jenis kelamin, pengguna terbanyak adalah kaum pria sebanyak 52,2%, sementara wanita 47,5%. Sementara itu, content media sosial yang sering dikunjungi pengguna internet di Indonesia adalah Facebook (54%)

Narasumber kedua adalah Bapak Brigjen Pol Drs. Rikwanto, SH, M.Hum. Beliau memaparkan dampak positif dan negatif penggunaan medsos. Adapun dampak positif penggunaan media sosial antara lain

  1. Mudah dalam memperoleh informasi data
  2. Memberi kemudahan dalam proses penyebaran informasi secara cepat dan tepat sasaran
  3. Memperluas jaringan pertemanan
  4. Seseorang akan termotivasi untuk belajar mengembangkan diri
  5. Membuat anak dan remaja menjadi lebih bersahabat, perhatian dan empati
  6. Memudahkan seseorang untuk sharing atau berbagi
  7. Bisa dijadikan tempat iklan bagi seseorang yang melakukan usaha online
  8. Menjadi wadah mengembangkan ketrampilan sosial. 
So, Manfaatkanlah media sosial dengan baik untuk kepentingan pribadi maupun organisasi dan jangan terjebak pada perilaku negatif media sosial.


Masih menurut Bapak Brigjen Pol Drs. Rikwanto, SH, M.Hum, perang saat ini bukan perang SIMETRI tapi perang ASIMETRI atau ASIMETRI WAR.
 

Apa itu ASIMETRI WAR?

ASIMETRIS WAR merupakan metode peperangan gaya baru secara non militer tetapi memiliki daya hancur yang tidak kalah hebat bahkan dampaknya lebih dasyat dari perang militer.


SASARAN ASIMETRIS WAR

  1. Membelokkan sistem sebuah negara sesuai arah kepentingan kolonialismu/kapitalisme
  2. Melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyatnya
  3. Menghancurkan “FOOD SECURITY” (ketahanan pangan) dan “ENERGI SECURITY” (jaminan pasokan dan ketahanan energi) sebuah bangsa. Selanjutnya menciptakan ketergantungan negara terhadap “FOOD & ENERGY SECURITY”

PENYEBARAN BERITA HOAX

  1. INTOLERANCE : Penyebaran permusuhan dalam bentuk informasi hoaxdan meme yang dapat memicu konflik
  2. RADIKALISME PRO KEKERASAN : Penyebaran paham radikal melalui propaganda kelompok teroris dengan memanfaatkan isu SARA
  3. CYBERCRIME : Pornografi, judi online, prostitusi online,dll.

Saat ini banyak orang yang menjadikan berita hoax sebagai MATA PENCAHARIAN dan tidak peduli pada dampakyang ditimbulkan. Dengan memanfaatkan moment seperti pilkada, kasus-kasus yang menonjol,konflik di masyarakat mereka mengambil keuntungan yang besar secara materiil.



PERAN POLRI

  1. PERSUASIF : Pendekatan kepada kelompok yang memiliki kepentingan tertentu
  2. PREVENTIF : Mengawal, memonitor, dan mendeteksi setiap kegiatan atau isu yang berpotensi memicu pertikaian
  3. PENEGAKAN HUKUM : menindak setiap pelanggaran berdasarkan UU yang berlaku

Prof. Henri Subiakto sebagai narasumber ketiga menjelaskan tentang DEFINISI HOAX. Hoax merupakan penyebaran informasi yang faktanya dipalsukan dengan tujuan untuk membuat orang menjadi dis-informasi, bingung, marah. Sementara pembuat berita hoax tidak jelas siapa, sumbernya pun tidak jelas dn masyarakat kesulitan (tidak bisa) mengklarifikasi berita tersebut.



Menurut beliau, harus dibedakan antara salah bicara, salah berita dan framing. Ketiganya bukan hoax karena faktanya masih ada. Dikategorikan hoax jika memang faktanya sengaja dipalsukan dengan tujuan tertentu, membikin resah dan membuat orang benci pada yang lain.



Hoax banyak menyebar di sosial media. Mengapa di sosmed? Karena sosmed itu sangat dekat dengan kehidupan kita.

Media abal-abal yang memproduksi hoax ternyata memperoleh keuntungan ekonomis yang sangat besar.  Ada yang menyebutkan 300 juta-500 juta per bulan hanya dari jualan hoax. Ciri khas media abal-abal pembuat hoax adalah mereka tidak memiliki kantor  yang jelas, dan tidak berbadan hukum.


Kalau hal—hal seperti ini dibiarkan, bukan hanya cara pikir masyarakat yang berkonflik satu dengan yang lain tapi media-media industri konvensional akan hancur karena media abal-abal yang dibangun untuk “memproduks” berita hoax tidak perlu bayar pajak (karena nggak ada kantornya), tidak perlu menggaji wartawan tapi cukup membayar dua atau tiga orang untuk copy paste aja.

Tak heran ketika kita kadang (ada yang sering) melihat seseorang yang sepertinya berprofesi sebagai wartawan tapi tidak “ngapa-ngapain” (tidak melaksanakan tugas jurnalistik) dan biasa disebut “wartawan CNN (Cuma Nengak-Nengok)” yang kerjanya hanya copas sana sini.

Kominfo diberi kewenangan oleh UU ITE  Pasal 40 ayat 2A dan 2B yang intinya bahwa pemerintah wajib mencegah informasi elektronik dan dokumen elektronik yang muatannya melanggar UU, selain itu pemerintah berwenang untuk memutus akses informasi elektronik dan dokumen elektronik yang muatannya melanggar UU. Dengan demikian Kominfo diberi kewenangan untuk nge-block situs-situs yang muatannya melanggar UU. Dan kebanyakan situs-situs yang seperti itu menagmbil nama yang “berbau-bau” muslim.  Hal ini dikarenakan media yang paling laku adalah media yang berjargon muslim. Bisa dimaklumi sih, karena pasarnya paling banyak warga muslim.

Narasumber keempat adalah Ketua Dewan Pers Bapak Yosef Adi Prasetya. Beliau menyampaikan bahwa awal munculnya hoax kalau dicermati mulai banyak muncul ketika pilihan legislatif danpilihan presiden pada ahun 2014. Media menjadi terbelah dan ada kubu-kubuan. “Ada TV Biru dan TV Merah”. Mereka menciptakan persepsi dalam pemberitaan mereka karena pemilik media juga ikut berpolitik, dengan membuat partai dan “menyeret” medianya untuk keperluan kampanye.

Tidak hanya itu, banyak wartawan yang putus asa menjalani pekerjaan jurnalistik dan memilih menjadi joki politik, masuk menjadi pasangan calon, tim sukses, pembuat pidato, merancang strategi kampanye dan banyak diantara mereka yang mejadi caleg. Oleh karena itu pada tahun 2014 Dewan Pers membuat surat edaran yang isinya meminta kepada para wartawan yang memilih menjadi tim sukses, joki politik, menjadi caleguntuk mundur secara permanen dari dunia jurnalistik, atau cuti sementara dari pekerjaan sebagai wartawan.

 Pada kondisi itu, teknologi BBM sudah mulai kuno dan beralih ke WhatsApp yang digunakan menjadi alternatif ketika orang tidak percaya lagi kepada media mainstream. Orang pun lebih percaya pada berita-berita dari grup WA dan medsos yang lain padahal berita yang dishare disana belum tentu benar dan valid, termasuk berita-berita hoax mulai membanjiri medsos.

Dewan Pers menghimbau kepada para wartawan untuk menekuni betul-betul pekerjaan sebagai wartawan dan menghindarkan diri dari praktek-praktek terselubung menjadi pemeras.

Acara berlangsung dengan seru dan semarak, peserta pun bertahan sampai acara berakihir.
Selamat Hari Pers Nasional  


 

3 komentar:

  1. ah bener banget yuk sama2 membasmi HOAX :/ berita2 HOAX kek gini ga cuman bikin khawatir akan tetapi juga bikin perpecahan

    BalasHapus
  2. heuuu dari nyebar hoax bisa untung ratusan juta? kasihan yang jadi korban

    BalasHapus
  3. Yupss... terlalu banyak hoax di negeri ini

    BalasHapus