17 November 2017

"AKU NGGAK MAU IBU TUA"

Topik ini hangat di awal-awal Agustus lalu, namun baru sempat menuliskannya sekarang. Hangatnya hanya di rumah kami aja lhoo, nggak hangat di medsos. Emang siapa saaiiiaaahh....
Topik apaan sih?
Lucu-lucu gimana gitu... Lucu tapi banyak hikmah yang bisa dipetik. Eh tapi bisa jadi menurut point of view orang lain ini sesuatu yang nggak lucu lho... Ah, sutralah.

Jadi pada bulan-bulan itu Athiyah sering banget bilang, “Aku nggak mau Ibu tua”.
Yuupp...Athiyah nggak mau ibunya menjadi tua. Doa dari anak nih, biar ibunya awet muda, ehm ehm...
Tentunya saat ngomong seperti itu bisa dipastikan mukanya tidak lempeng-lempeng aja, tapi dengan wajah agak melas dan menghiba dan bahkan mau nangis. Eh, sempat nangis juga lho dia gara-gara ini... Maafkan ibunya yang kadang sableng ini ya Nduuk...
Gimana sih kok bisa Athiyah ngomong seperti itu...?
Gini nih ceritanya... (gelar tikar dulu, barangkali ada yang mau ndengerin si emak bercerita...)
Eh, sudah pada tahu belum yaa kalau di tahun ini, iyyaa tahun 2017 ini tepatnya pada bulan Agustus lalu usiaku sudah memasuki usia 40 tahun. Nggak kerasa juga ya, ternyata 40 tahun sudah Allah SWT memberikan nafas kehidupan kepadaku. Alhamdulillah Ya Allah atas segala karunia-Mu.
Ya Allah, tunjukkanlah aku untuk selalu mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku. Jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang selalu dpat berbuat amal sholeh yang Engkau ridhai. Berikanlah kebaikan kepadaku dan kepada seluruh keluargaku. Jadikanlah aku sebagai hamba-Mu yang selalu bertaubat kepada Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

Di usia 40 tahun ini beberapa helai uban sudah menghiasi mahkota hitamku. Ah, ini mengingatkanku bahwa usiaku tidak lagi muda, tapi sudah beranjak menuju ke masa dewasa madya (menurut ilmu psikologi perkembangan). Ada juga yang menyebut usia setengah baya atau paruh baya. Athiyah itu, kadang-kadang suka mainin rambut ibunya, kadang disisirin, dikuncirin bahkan katanya mau dikepang. Jangan ditanya tentang hasil “kerjanya” yaa, sudah bisa dibayangkan tho...

Suatu ketika, dia melihat beberapa helai rambut putih di kepalaku, dan dia pun bertanya:

Ath : “Kok rambut Ibuk ada putihnya?”
Aku : (Jawabnya ngasal aja) “Itu berarti Ibu sudah tua”
Ath : “Kalo Ibuk tua nanti gimana?”
Aku : “Gimana apanya?”
Ath : “Ibuk jadi nenek...?”
Aku : “Iyalah Ibuk jadi nenek. Kalo Ibu tua Ibu nggak kuat lagi bekerja, nggak kuat cuci-cuci, masak, bersih-bersih rumah, nggak bisa gendong-gendong adik lagi.”
Ath : “Aku mau digendong Ibuk”
Aku : “Yaa kalo Ibu sudah tua kan nggak kuat gendong adik.”
Aku pun berakting seolah-olah jadi perempuan tua renta. Dengan nada suara yang parau dan terbata-bata aku pun berkata kepada Athiyah:
Aku : “Athiyah anakkuu...toloongg Ibui Naakk... ambilkaan minuuummm. Ibu sudah nggak kuat berjalaan...”
Athiyah pun nampak tertegun dengan wajah yang sedih...
Aku pun melanjutkan aktingku...
Aku : “Athiyaah... Ibu sudah tuaa, nggak bisa cuci baju, nanti kamu yang cuci baju yaaa...”
Ath : “Ibuk jangan gituu...” (sambil menghambur memelukku dan menangis).
Setelah Athiyah tenang baru deh aku bicara lagi
Aku : “Kenapa adik nggak mau Ibu tua?
Ath : “Soalnya aku nggak mau ibu tua”
Aku : “Nanti Ibu akan tua, semua orang akan tua. Adik juga nantiiii juga jadi tua”
Ath : “Kalo Ibu tua nanti siapa yang bikinin aku susu?”
Aku : “Ya adik sendiri harus latihan bikin susu”
Ath : “Trus siapa yang mandiin aku, ambilin makanku....siapa?
Aku : “ya adik sendiri harus latihan mandiri, ambil makan sendiri, makan sendiri nggak usah didulang (disuapin), mandi sendiri. Adik kan sudah bisa mandi sendiri, makan sendiri. Kenapa harus Ibu?”
Ath : “Aku mau sama Ibuk...”
Aku : “Makanya kalo adik nggak mau Ibu tua, biar rambutnya ibu nggak ada putihnya adik nggak boleh marah-marah. Kalo adik marah-marah nanti rambutnya ibu tambah banyak putihnya lhoo”
(aku mulai memberikan informasi yang tidak nyambung nih, jangan ditiru ya bu ibu...)
Ath : “Kalo aku nggak marah-marah sama mberesin mainan ibu nggak jadi tua...?”
Aku : “Iya, makanya adik nggak boleh marah-marah, kalo habis mainan diberesin...”

Rupanya topik “Ibu menjadi tua” sangat efektif untuk menghentikan perilaku negatif Athiyah saat itu, namun logika yang diberikan salah. Misalnya saja ketika Athiyah teriak-teriak karena marah, maka saat aku bilang  “Kalo adik marah-marah nanti Ibu jadi tua lho” itu efektif saat itu. Atau ketika pagi hari saat mau berangkat ke sekolah agak rewel ketika aku mengatakan “kalimat ajaib” itu maka Athiyah pun segera mengakhiri kerewelannya. Pun ketika perilaku yang lain saat sulit makan, dan aktivitas lain cukup dengan mengatakan “kalimat mantra” itu semua akan beres.

Hingga suatu saat...

Ath : “Kok rambut Ibu masih ada putihnya? Aku kan sudah nggak marah-marah?”
Aku : “Iyaa, nanti Ibu minum obat awet muda”
Ath : “Ibu cepetan minum obat awet muda yaa...biar nggak tua”
Hari berikutnya, sambil berbisik Athiyah berkata:
Ath : “Ibu sudah minum obat awet muda ta?”
Ibu : “Lho iya ibu lupa belum beli obatnya.”
Ath : “Ibu cepet beli obatnya yaa... aku nggak mau Ibuk tua, bair nggak ada rambut putihnya”

Sampai beberapa kali Athiyah mengecek apakah ibunya sudah minum obat awet muda atau belum hingga lama-lama topik itu memudar sendiri seiring beralihnya perhatian Athiyah terhadap hal tersebut dan aku sebagai pemicunya juga tidak pernah membahas topik itu lagi.

Eh kirain sudah lupa topik tentang "Aku nggak mau Ibu tua", ternyata kemarin sebelum publish postingan ini Athiyah bertanya:

Ath  : "Bu, nanti kalo Bapak dan Ibu sudah tua bisa nyetir mobil sama nyetir sepeda motor apa enggak?"
Aku  : "Ya masih bisa laah... Emang kenapa?"
Ath  : "Nanti kalau nggak bisa ya berdoa aja, gini doanya Ya Allah semoga bisa nyetir mobil dan naik sepeda motor. Yang yetir mobil untuk Bapak, yang naik sepeda motor Ibuk."

Hehehe...sampai segitu mikirnya Athiyah.
We do love you, Athiyah...


2 komentar:

  1. Lucu amat adik Athiyah :) ingat aku masih kecil saat SD klo aku takut ibu meninggal persislah ibuku lakuin ancaman kyk mba :D yg bikin aku takut kehilangan ibu dan akhirnya setelah aku gede ibu bener2 pergi dan ketakutanku nyata membuat sedikit luka dalam hatiku ehehhehe..alhamdulilah sekarang sdh bangkit dan bisa menerima kepergian ibu *malah curhat :D

    BalasHapus