25 November 2017

RUMAH WARNA-WARNI JODIPAN, COLORFULL OF LIFE

Ketika berkunjung ke Kampung Warna Warni Jodipan ini tak terbayangkan olehku kalau kampung ini dulunya merupakan kampung yang kumuh. Bagaimana tidak? Ketika disana yang aku lihat adalah rumah-rumah warga yang dicat rapi dengan warna warni yang beraneka rupa. Bukan hanya tembok rumahnya saja yang dicat rapi tapi atap rumah dan tiang pun turut dicat. Bisa dikata nggak ada satu jengkal pun yang terlewatkan oleh sapuan cat penuh warna. Bahkan dindingnya pun digambar-gambar beraneka pola dan corak yang semakin meramaikan suasana kampung.
Konon katanya ada lebih dari 15 warna yang tertuang pada sekitar 100 rumah warga, sehingga nampaklah sebuah perkampungan yang colorfull dan ceria. Jadinya nggak heran bila Kampung Warna Warni Jodipan ini banyak dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
Sebelum masuk Kampung Warna Warni kita beli tiket dulu dua ribu perak saja, murah bangeett. Sebenarnya tiket itu diperuntukkan bagi dana kebersihan. Setelah dapat tiket kami masuk melalui Jl. Ir. H. Juanda Gang 1A. Kami pun melewati gang yang penuh warna, mulai paving, dinding dan hiasan semacam pregola semuanya full of color. Warna-warna yang ceria menambah semangat dan keceriaan para pengunjung untuk terus menelusuri perkampungan ini.
gang cantik
rame-rame
Semakin penasaran kami dengan sesuatu yang ada di dalam kampung unik ini. Aku merasa sedang berada di negeri dongeng yang penuh warna. Jadi nggak salah kalau para pengunjung seneng banget ber selfie ria di kampung ini.
Disini kami berkeliling menyusuri rumah-rumah penduduk yang full of color dengan melewati gang-gang sempit, bahkan kadang lokasinya naik dan kadang juga turun. Bagi yang bawa anak kecil lumayan lah kalau harus menggendongnya, dijamin akan berkeringat dua kali lipat. Athiyah sempat minta gendong, untung pas medannya menurun, kalau medan yang naik wis nyeraah, maksudnya aku serahkan ke yang punya body lebih kuat, siapa lagi kalau bukan bapaknya... :D :D
Awalnya aku pikir rumah-rumah yang ada disini sengaja dibuat untuk tujuan wisata. Eh ternyata salah. Semua rumah yang ada disana memang asli rumah penduduk sana dan ada penghuni aslinya. Mereka pun beraktivitas seperti biasa. Dalam benakku sempat bertanya-tanya gimana ya perasaan mereka ketika banyak wisatawan datang dan melihati rumah-rumah mereka, termasuk aktivitas-aktivitas mereka? Hihihi.... aku aja kepo dengan aktivitas mereka di dalam rumah. Pada awalnya mungkin terasa aneh atau nggak nyaman gitu yaa, mosok diliatin orang-orang tak dikenal hehehe...tapi mungkin kini mereka sudah terbiasa dengan ratusan wisatawan yang datang terutaman ketika weekend. Jadi mereka sudah siap mental untuk “dilihat-lihat” yaa...
Beberapa diantara penduduk berjualan makanan dan minuman ringan di depan rumahnya. Sayangnya aku nggak ada waktu untuk sekedar ngobrol dan berbincang dengan mereka karena Athiyah sudah lari-lari kesana kemari.

BERBAGAI SPOT MENARIK DI KAMPUNG WARNA WARNI JODIPAN

FLOWER HALLWAY
Flower Hallway atau Lorong Bunga ini adah spot cantik yang didalamnya berhiaskan bunga-bunga penuh warna. Meski bukan bunga hidup siih... mungkin akan semakin seksi kalu bunganya bunga beneran kali yaa...
Bunga-bunga cantik bergelantungan

                                                                                                
                                           
UMBRELLA ALLEY

Umbrella Alley atau Gang Payung ini sudah bisa ditebak sesuai namanya kan yaaa.... ada beberapa payung yang dipasang bergelantung dengan teratur sehingga apik dipandang. Payungnya nggak banyak sih tapi cukup memberi warna. Ah ini fotonya umbrella alley nya kok nggak pas gini sih

LORONG KUKUSAN
Kalo spot ini aku sendiri yang memberi nama hehehe.... soalnya nggak tahu namanya apa.
Ada beberapa kukusan (benda yang berbentuk kerucut terbuat dari bambu yang sudah dipipihkan kemudian dianyam berfungsi untuk menanak nasi pada jaman dahulu, iyaa...sebelum ada rice cooker itu lhoo)

3D TRICK ART
Di rumah-rumah penduduk ini, pada dinding luarnya juga banyak yang dilukis dengan lukisan teknik tiga dimensi, atau kerennya sekarang 3D Trick Art. Pengunjung bebas berfoto di semua lukisan tersebut.
Lihat nih, Athiyah mau difoto di lukisan ini, tapi karena nggak sampai harus diangkat oleh Mbak Salsa



Ah sayangnya aku nggak ada yang motoin disini, semua sudah pada ngacir sendiri-sendiri. Aku berdua sama Athiyah saja.

FIELD
Ada lapangan juga di Kampung Warna Warni ini meski tidak terlalu luas. Ada beberapa orang jualan makanan kecil dan mainan disini. Di tembok yang berada di sebelah lapangan ini pun penuh dengan lukisan tiga dimensi.

BOTTLE WALL
Ini aku juga yang menamainya, biar gampang gitu ngingetnya. Maaf pada pihak pengelola kalau tidak berkenan. Jadi, di tepi bantaran sungai ini ada tembok atau tebing (plengsengan istilah Jawanya) yang agak tinggi dan disana dibuatlah beberapa tulisan seperti : JODIPAN, KAMPUNG WARNA WARNI, AREMA dan beberapa yang lain. Uniknya tulisan tiga dimensi itu dibuat dari botol bekas minuman kemasan yang dicat warna warni dan dipadukan menjadi bentuk tulisan. Cantiikk bangeet. Awalnya nggak nyangka kalau itu terbuat dari botol bekas.



PRAY ROOM
Ketika waktu sholat tiba, nggak perlulah nunut sholat di rumah penduduk karena sudah ada musholaa di perkampungan ini.

TOILET
Untuk urusan BAK dan BAB pun sudah diperhatikan. Disediakan toilet yang bercat pink ini dengan hiasan gelang-gelang.

AREA PARKIR
Untuk parkir memang agak susah di sekitas sini. Jalannya yang tidak terlalu lebar membuat lalu lintas di jalan utama kampung warna warni terkesan agak semrawut. Area parkir pun tidak terlalu luas dan saat kami kesana lapangan parkirnya masih terkesan seadanya. Mungkin ini yang perlu dipikirkan juga oleh pihak pengelola atau pihak pemkab sehingga kenyamanan pengunjung lebih terjaga.
AREA PARKIR
Selain beberapa spot di atas, di sepanjang jalan juga terdapat banyak hiasan-hiasan sehingga kampung ini kelihatan meriah. Ada lampion, hiasan kertas yang dibuat memanjang dengan berbagai bentuk dan lain sebagainya.
LAMPION-LAMPION

LOKASI KAMPUNG WARNA WARNI
Kampung Warna Warni terletak di bantaran Sungai Brantas, di bawah jembatan Embong Brantas (jembatan rel kereta api) dan pasar loak. Tepatnya di RT 6, 7, 8 RW 2 Kampung Juanda Kelurahan Jodipan Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Lanscape kampung ini begitu eksentrik bila dilihat dari jembatan.

So, untuk destinasi wisata yang antimainstream, Kampung Warna Warni Jodipan ini bisa dimasukkan dalam salah satu agenda wisata lhooo...

1 komentar:

  1. Sebetulnya konsep mengecat seluruh kampung jadi warna-warni itu memang konsep yang menarik. Tetapi karena aku melihat jemuran baju bergelantungan di sana sini, maka keindahannya jadi berkurang. Aku tidak menyalahkan mereka, sebab menjemur sembarangan itu bagian dari budaya. Wisata seharusnya menghargai budaya, bukan menghapusnya.
    Dan tentang area parkir yang kurang nyaman, itu juga wajar. Karena mereka memang tidak menyiapkan kampung mereka jadi kampung wisata. Coba kalau mereka sungguh niat membuat kampung ini jadi kampung wisata, mereka pasti akan memperbaiki area parkir mereka dan bahkan memasang taman bermain segala di sana.

    BalasHapus