31 Januari 2018

REUNI

Akhir-akhir ini nampaknya kata REUNI lagi naik daun. Mulai reuni SD, SMP, sampai reuni teman-teman kampus. Ada pula reuni keluarga bahkan reuni mantan walimurid TK yang baru setahun atau dua tahun pisah pun digelar.

Istilah reuni pun macam-macam, seperti temu kangen, lepas kangen, ngumpulne balung pisah, mengumpulkan yang terserak dan sebagainya. Dalam reuni tentu akan memutar ulang kenangan-kenangan lama yang masih terekam dengan manis (atau pahit juga) di salah satu bagian otak kita yang dinamakan hipocampus. Tentu dong kalau kita datang reuni pastinya (atau seharusnya) dalam keadaan senang. Kalau nggak senang ngapain juga datang reuni? Emangnya mau membangkitkan luka hati? Rugi banget deh...
semua tersenyum saat reuni
Reuni pun ada dampaknya lho, bisa positif atau negatif. Yaa...begitulah hidup. Selalu ada dua sisi yang bertolak belakang. Dampak positifnya banyak seperti menyambung dan memperkuat silaturahmi, melepas kangen dengan teman-teman baik yang akrab, kurang akrab maupun yang sok akrab (eits...), rasa bersyukur yang lebih banyak karena mungkin ada sebagian teman yang kurang “seberuntung” kita untuk saat ini yang selanjutnya tentu akan meningkatkan self esteem kita, mengenal keluarga teman-teman lama kita (kalau reuninya bawa pasangan atau keluarga), kemungkinan terjalin kerjasama dalam pekerjaan atau mendapat informasi tentang banyak hal, dan masih banyak lagi.
Jangan dikira dampak negatifnya nggak sehebat dampak positifnya lho...  Sebagian acara reuni berhasil dengan sukses membuat pasangan cemburu, lalu bertengkar tak berkesudahan bahkan ada pasangan yang berpisah gara-gara reuni doang... Ada pula yang datang reuni karena ingin menunjukkan betapa sukses dia sekarang, bekerja di perusahaan bonafid dengan gaji melangit... (duuh... ), ada pula yang datang reuni karena kangen mantan, atau penasaran dengan mantan yang dulu pernah mutusin, penasaran sama suami atau istrinya mantan kayak gimana... (emang ada yang begitu? Itu sih pikiran sotoy saya aja sih)

Maraknya acara reuni yang digelar semakin booming setelah perkembangan teknologi gadget yang luar biasa. Dengan berbagai aplikasi di ponsel mulai dari Whatsapp, Grup FB, Line, BBM dan sebagainya teman-teman lama yang sudah jauh berpisah kini pun bisa bertemu kembali dalam jalinan sebuah “grup”. Mulailah pembicaraan yang menguak masa lalu mulai dari hal yang lucu, konyol, menyedihkan bahkan hal yang memalukan menjadi topik obrolan yang seakan tiada habisnya. Kini yang jauh menjadi dekat, dan kalimat buruknya adalah “yang dekat malah terasa jauh”. Ihh, jangan sampek lah yaw tapi ya gimana lagi, ada anak, istri/suami disisi tapi malah asyik “ngobrol” dengan teman-teman di dumay. Belum lagi kalau terlihat senyum-senyum sendiri, masih mending senyum bahkan ada yang tiba-tiba ngakak sendiri... ngeselin kan jadinya kalau kita disebelahnya.

Mungkin bagi sebagian orang reuni adalah acara yang ditunggu-tunggu. Bagaimana enggak? Dengan reuni kita bisa silaturahmi kembali dengan teman-teman lama. Siapapun dan bagaimanapun mereka adalah bagian sejarah dalam hidup kita. Jalinan pertemanan yang dihiasi canda, tawa, sedih, semangat dan berbagai rasa yang campur aduk tentu akan mencuatkan rasa kangen setelah sekian lama terpisah jarak dan waktu. Ternyata berkomunikasi di dumay tidaklah cukup, ada rasa yang kuat untuk bertemu secara fisik dan di alam nyata #eh

Untuk itulah acar reuni diselenggarakan. Selain untuk mengobati rasa rindu (bukan rindu dendam lhoo...) tidak sedikit pula reuni yang dibungkus dengan berbagai acara yang sarat akan manfaat, so reuni tidak melulu ber ha ha hi hi, ngobrol ngalor ngidul, makan-makan atau kangen-kangenan doang.
Nah, pada akhir tahun 2017 yang lalu, tepatnya tanggal 23 Desember 2017 aku mengikuti dua reuni sekaligus dalam sehari. Sebenarnya sih tiga reuni, tapi reuni yang pertama skip deh karena kena traffic jam yang lumayan.

Dengan mengantongi ijin dari suami berangkatlah aku ke kota dingin Malang, kota yang penuh dengan berjuta kenangan. Kutinggalkan putri bungsuku bersama suamiku, ia menangis melepas kepergianku di Terminal Osowilangun (dengan sedikit drama tentunya). Suami nggak bisa nganter karena Sabtu masih ngantor. Sementara Athiyah tentu diajak ke kantor Bapaknya. Untungnya fine-fine aja, karena Athiyah juga termasuk agak sering sih dibawa ke kantornya kalau aku lagi nggak bisa handle Athiyah karena ada tugas atau lainnya.

Perjalanan Gresik-Malang normalnya hanya memakan waktu 2,5 jam sampai 3 jam-an, namun harus kutempuh selama 6 jam. Naik bus umum, non patas, non AC. Ternyata bus jurusan Gresik-Malang dari Terminal Osowilangun nggak ada bis patas-nya. Sempat nanya kepada orang disana, pakai seragam sih, lupa seragam apa kayaknya kernet deh, eh malah aku dijutekin pas aku nanya, “Pak, bis patas ke Malang jam berapa ya?” Eh dijawab dengan ketus, “Nggak ada mbak yang patas disini”. Padahal aku nanyanya dengan tersenyum manis lho, kurang apa coba. Mungkin wajahku pantes diketusin kali yaa.. melas banget ih...

Lumayan nunggu agak lama bisnya, sehingga begitu bis datang langsung diserbu para penumpang, aku pun bergegas membawa tas pakaianku setengah berlari menuju pintu bis diiringi tangisan Athiyah. Jantung serasa mau copot ya kalau lihat anak nangis pingin ikut. Untungnya aku masih dapat tempat duduk. Coba kalau nggak dapat, nggak kebayang deh betapa betapa remuk kaki dan pinggangku. Sudah lama nggak naik bus umum, sekalinya naik wiih...mantap nian, panas, penuh sesak dan satu yang paling nggak nahan (maaf) bau ketiak ibu-ibu yang duduk disebelahku. Hal itu membuatku harus mencari cara agar terhindar dari aromanya tanpa membuat si ibu tersinggung. Bener deh, untuk bau yang satu ini aku paling enggak bisa nahan, kepala langsung puyeng dan perut tiba-tiba mules. Masih mending bau kent*t deh (maaf).

Satu-satunya yang bisa membunuh rasa bosan selama di perjalanan ya handphone yang di tangan. Masih bisa kontak-kontak dengan suami, bercanda dengan teman-teman di grup whatsapp, baca blog teman-teman, de el el. Untungnya sudah siap power bank yang full charged sehingga nggak khawatir HP mati.


Lega juga akhirnya ketika bus yang kutumpangi sudah sampai di terminal Arjosari. Kenangan-kenangan beberapa belas tahun yang lalu ketika mondar mandir di terminal ini pun terkuak kembali. Aku sudah ditunggu oleh sahabatku, kami sudah janjian sebelumnya. Suami istri ini adalah sahabatku sejak kuliah. Namun yang menjemput aku hanya suaminya karena istrinya masih sibuk menyiapkan masakan di rumah. Terima kasih sudah menjemputku, nggak bisa bayangin juga kalo dari terminal Arjosari ke kampus naik angkot lagi, bisa-bisa jam tiga sore baru sampai kampus karena dimana-mana macet, maklum lagi musim liburan.

Baca juga : Eksotisme Batu Flower Garden di Coban Rais 

REUNI ALUMNI UNMUH MALANG
Reuni ini menghadirkan Bapak Prof. Malik Fajar mantan rektor UMM dan mantan Mendiknas RI. Hadir juga mantan Menteri Pertahanan Timor Leste, Julio Thomas Pinto yang juga alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM. Reuni universitas ini diselenggarakan di Dome UMM. Karena masih di jalan kena macet aku pun nggak bisa mengikuti acara ini. Hanya dapat kiriman foto dari adik kelas yang mengikuti acara ini. Setelah reuni universitas selesai dilanjutkan reuni masing-masing fakultas. Salah satu tujuannya selain membangun silaturahmi dengan alumni, acara ini bertujuan untuk dilakukan tracer study.

REUNI FAKULTAS PSIKOLOGI UMM
Reuni Fakultas Psikologi UMM ini dihadiri oleh segenap dosen, dekan, wadek dan alumni. Senang banget rasanya mencium tangan dosenku yang telah mencurahkan ilmunya pada kami semua. Ada rasa haru ketika bertemu dengan beliau bapak ibu para dosen. Ah, jadi serasa mahasiswa lagi kalau gini. Entah mengapa para dosenku ini wajahnya tidak berubah, tetap seperti dua puluh tahun yang lalu alias awet muda. Ada Bu Dr. Iswinarti, Psikolog yang terkenal dengan sebagai Pakar Permainan Tradisional Anak yaitu dengan Metode BERLIAN (Bermain-Experiental-Learning-ANak), yaitu sebuah metode pembelajaran  melalui media bermain dengan cara merefleksikan pengalaman anak saat bermain dengan tujuan agar terjadi transformasi nilai-nilai permainan ke dalam kehidupan sehari-hari anak). Ada pula Bu Dr. Diah Karmiyati, Psikolog, Bu Dr. Nida Hasanati, Psikolog yang kalem, Bu Dr. Suminarti Fasikhah, Psikolog yang pernah dekat dengan saya di Laboratorium Fakultas Psikologi dimana saya sempat bernaung menjadi staf beliau.
Bersama para dosen kesayangan, Bu Dr. Iswinarti, Bu Dr. Diah Karmiyati, Bu Dr. Nida Hasanati, dan Bu Dr. Suminarti
Retno, Nandi, Zahro, aku
Bersama dosen favorit Bpk Dr. Yudi Suharsono, Psikolog
Angkatan 96 yang hadir
Acara reuni banyak diisi dengan sharing pengalaman para alumni di masing-masing bidang pekerjaan yang telah ditekuninya, dilanjutkan dengan pemilihan ketua Alumni Fapsi UMM. Terpilihlah sahabatku yang tadi menjemputku di Terminal Arjosari yaitu Junaidi Yusuf sebagai Ketua Alumni Psikologi UMM tahun 2017-2020.

REUNI IMM KOMISARIAT PSIKOLOGI DAN SEMINAR NASIONAL

Selesai acara reuni fakultas, masih di tempat yang sama, digelar pula acara Reuni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Psikologi UMM. Acara reuni IMM Komisariat Restorasi ini digelar bersamaan dengan acara Seminar Nasional dengan tema: "Psikologi Menjawab Tantangan Kerja Jaman Now". Acaranya berlangsung meriah dengan Keynote Speaker Bapak Rektor UMM Drs. H. Fauzan, M.Pd yang sekaligus didaulat untuk membuka acara.



Selebihnya pemateri dari para alumni IMM yang telah berkecimpung dalam bidangnya masing-masing. Ada yang dari bidang Psikologi Industri seperti Mas Aprianto Prambudi, S.Psi, Mas Junaidi Yusuf, S.Psi, Mas Donny Usman, Psikolog. Dari bidang Psikologi Pendidikan ada Mas Prof. Dr. MA. Muazar Habibi, S.Psi, M.Psych, M.Pd (Pendiri dan owner Lentera Hati Boarding School Mataram, asesor dan guru besar), Novia Argarini, S.Psi (Kepala Sekolah TK Al Hikmah Surabaya), Sri Retno Yuliani, S.Psi (Kepala SLB River Kids Malang), dan masih banyak lagi. Dari pihak dosen, IMM menggandeng Pak Yudi Suharsono, S.Psi, M.Psi (Kepala Biro Kemahasiswaan UMM) sebagai pembicara.



Jangan ditanya bagaimana senangnya bertemu dengan kawan lama, kawan seperjuangan di ikatan. Tak banyak yang dibicarakan tentang kenangan-kenangan masa lalu karena tidak jarang di grup WA kenangan-kenangan itu sudah tertuliskan. Justru yang ada kami mengulas hal-hal yang kini dijalani dan kemungkinan-kemungkinan ke depan yang mungkin bisa tergapai. Kami banyak belajar dari senior-senior yang sudah sukses di bidangnya masing-masing. Mendapatkan sharing pengalaman dari mereka tentu menggugah semangat dalam berkarya. Reuni IMM ini memang bagaikan mengumpulkan yang terserak, meski sebagian besar waktu yang ada bersifat formal karena dibalut dalam sebuah acara seminar namun kami pun memanfaatkan waktu yang ada untuk bicara secara personal. Tapi ya memang berasa kurang, karena hanya kepada beberapa orang saja itu bisa dilakukan.
Bersama yunior, Kukuh dan Cicik
Hampir semua senior ada yang mewakili di tiap angkatan masing-masing, tentunya senior-senior yang pernah aktif di ikatan dan terjangkau oleh WA, serta yang berdomisili di pulau Jawa dan sekitarnya eh... tapi ada juga lho yang dari luar Jawa, seperti dari Mataram, Pontianak, dan Jambi (kalau yang ini nih junior).
Meski ada beberapa kawan yang awalnya sudah berniat datang bahkan sudah membooking tiket pesawat tapi karena sesuatu dan lain hal beliau tidak bisa hadir. Acara ini pun cukup memberi warna pada ikatan yang sekarang diemban oleh adik-adik yang memiliki daya juang yang luar biasa untuk suksesnya acara ini.

Inilah asyiknya bisa berkomunikasi secara langsung, face to face dengan kawan lama dan kawan baru. Bertemu mereka serasa memiliki energi yang berbeda ketimbang hanya lewat chat-chat di WA. Bertemu para senior aku belajar berbagai makna kearifan hidup, kesuksesan dan perjuangan yang tanpa kenal lelah. Berjumpa para yunior mengajarkan pentingnya untuk terus menggelorakan semangat mencapai masa depan.
Keluarga besar Alumni IMM Psikologi
Dari acara ini pula tercetus sebuah ide untuk membukukan berbagai pengalaman selama berjuang di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam setiap periode kepengurusan. Sebuah sejarah harus dibukukan agar cerita heroiknya tidak lekang dimakan waktu. Semoga hal tersebut bisa segera terwujud, mengingat kesibukan setiap alumni yang luar biasa.

Terima kasih tak terhingga buat kedua sahabatku Retno dan Juned yang telah “menampungku” selama acara reuni ini. Tak lupa sebelum balik ke Gresik, traktiran Bakso Kota Cak Man pun menutup pertemuan kami di Malang saat itu. Alhamdulillah, suamiku dan Athiyah bisa menjemput di saat yang tepat. Allah lah Maha Pengatur semuanya.
Fastabiqul Khoirot...!!!

Jayalah IMM, Jaya !!!

2 komentar:

  1. aku jarang mba ikutan reuni hehehe biasanya reuni ya sama sobat tertentu biasanya ya chat di group doank hahaha

    BalasHapus
  2. Saya udah lama banget gak reuni tapi tiap kali reuni ya biasa aja. Maksudnya gak ada yang namanya CLBK atau minder karena khawatir ditanya kerjaan atau apa gitu. Semua temen juga kayak biasa aja. Ya mungkin karena semua niatnya emang buat seseruan kali, ya. Jadi gak ada hal aneh setelah reuni :D

    BalasHapus