11 April 2018

SUKSES MELEWATI LIMA TAHAP DALAM PERNIKAHAN

vebma.com

Ketika sepasang pengantin mengucapkan ijab-qabul itu artinya kedua belah pihak sudah menguatkan hati untuk mengikat perjanjian yang sangat berat (mitsaqan-ghalizhan). Saat itulah suami istri harus saling mengetahui dan memahami apa kewajiban dan hak masing-masing pasangan.
Sungguh itu tak semudah diucapkan atau dituliskan. Perlu perjuangan yang sangat panjang dan berliku yang terpampang nyata di hadapan. Pernikahan tidak cukup dibiarkan berjalan apa adanya, tapi harus dimanage.

BAGAIMANA MERAWAT CINTA DALAM KELUARGA?
Tujuan hidup berkeluarga adalah untuk mendapat keberkahan dari Allah SWT. 
Cukupkah ingin bahagia dalam pernikahan?
Benarkah tujuan menikah itu untuk bahagia? 
Lalu bagaimana bila ternyata kebahagiaan yang diraih bukan bahagia yang diberkahi? 
Bisa-bisa malah mencelakakan kita. 

Makanya Sakinah Mawaddah Warahmah yang ingin kita raih harus berada dalam bingkai keberkahan dari Allah SWT.
Untuk mendapatkan keberkahan itu maka ada SATU SYARAT MUTLAK yaitu kita harus selalu berada pada garis ketaatan kepada Rabb kita, termasuk dalam berumah tangga, berinteraksi dengan suami/istri dalam keseharian kita.   

MU’ASYARAH BIL MA’RUF
Ada dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu:
  1. Menemani dan mempergauli mereka dengan cara yang ma’ruf yang mereka kenal dan disukai hati mereka, serta tidak dianggap munkar oleh sara’, tradisi dan kesopanan (Muhammad Abduh).

Penekanannya pada “disukai hati mereka”. Kapan interaksi kita dikatakan ma’ruf? Ketika interaksi yang kita lakukan menyenangkan hati istri/suami kita sepanjang tidak bertentangan dengan sara’ dan tradisi. Bukan apa yang kita mau. Bukan “terserah gue dong mau ngapain?” Bedakan “maunya saya dengan apa yang disukai istri/suami saya”. Bagaimana untuk mengetahui apakah itu disukai atau tidak? So, tanyakan pada pasangan kita.

  2. Mereka mempersempit nafkah dan menyakitinya dengan perkataan atau perbuatan, banyak cemberut dan bermuka masam ketika bertemu mereka, semua itu menafikan pergaulan secara ma’ruf (M. Abduh).
Ada beberapa kategori yang termasuk tidak berbuat ma’ruf yaitu mempersempit nafkah dan menyakiti dengan kata dan atau perbuatan. Bedakan antara mempersempit nafkah dengan “benar-benar sempit nafkahnya”. Suami dikatakan mempersempit nafkah jika dia punya penghasilan besar tapi yang diberikan kepada istrinya untuk nafkah hanya sedikit.

Menyakiti dengan perkataan ini menyebabkan pecahnya tangis istri. Sakit hati karena omongan dan perbuatan. Istri menangis karena merasa tersakiti hatinya oleh perkataan suaminya dan suaminya tidak menyadarinya. Kalau sudah menyakiti hati istrinya itulah jarak yang terbentang antara akal/logika laki-laki dan perasaan perempuan.
Contohnya:
Istri : “ Engkau telah mengeluarkan  kata-kata yang telah menyakiti hatiku
Suami : “ Mek diomongi ngono wae kok nangis, tersinggung...” (Cuma dibilang begitu aja kok menangis dan tersinggung)

Dalam survey yang dilakukan oleh para konselor pernikahan pihak yang paling banyak merasakan ketidakpuasan dalam pernikahan adalah perempuan/istri. Dan itu diperkuat oleh data Kemenag 70% perceraian di Indonesia adalah gugat cerai dari pihak istri. Kenapa perempuan banyak yang menggugat cerai suaminya? Sebenarnya para istri yang menggugat cerai suaminya di Pengadilan Agama diantaranya sudah ditalak di rumah oleh suaminya.
Mengapa banyak istri yang tidak puas? Karena mereka lebih banyak merasakan dengan hatinya. 

Mu’asyarah Bil Ma’ruf mengandung makna saling (resiprokal). Suami tidak boleh melakukan sesuatu yang tidak disukai istri, begitu pula sebaliknya. Jadi kalau ingin mendapatkan keberkahan dari Allah harus mentaati aturan Allah dari segala aspeknya.

Tinjauan dari sisi konseling pernikahan
Ada berbagai macam teori/rujukan dalam berumah tangga. Namun ada satu teori/tinjauan tentang tahap-tahap pernikahan menurut Dawn J. Lipthrott.
Dawn melakukan survey/penelitian kepada banyak pasangan dalam jangka waktu yang sangat lama (longitudinal research).

Secara umum tahap-tahap berumah tangga dibagi menjadi 5. Tentu tidak sama antara orang yang satu dengan yang lainnya dan tidak semua mengalami hal yang serupa, waktunya juga bisa berbeda-beda.

1. ROMANTIC LOVE : I LOVE YOU FULL
Para pengantin baru sampai usia pernikahan 3-5 tahun. Berada pada masa ini semua serba indah, menyenangkan, rasanya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Merupakan masa /suasana bulam madu, tapi waktunya tidak lama, rata-rata 3-5 tahun saja. Karena terbatas maka masa-masa itu maka harus dioptimalkan, karena tidak akan terulang lagi. Bagaimana yang sudah melewati masa-masa tersebut? Berarti kan sudah lewat dan sudah terlambat? Tidak ada kata terlambat karena kita bertugas mempersiapkan anak-anak kita untuk menikah.Kita jelaskan kepada mereka terutama yang beranjak remaja bahwa nantinya mereka akan melalui tahap-tahap seperti itu dalam rumah tangga.

Romantic Love bisa “dikredit” oleh mereka yang mengawali pernikahannya dengan pacaran karena suasana jatuh cinta orang pacaran setara dengan Romantic Love yang menggebu-gebu. Misal: pacaran 3 tahun maka jatahnya tinggal 2 tahun, pacara 5 tahun jatahnya habis sehingga tak lama kemudian pasutri ini banyak berantemnya. Suasana Romatic Love ini akan berubah ketika istri sudah hamil.

2. DISSAPOINTMENT OR DISTRESS : 
    "KOK TERNYATA BEGITU"
Fase dimana pasangan suami istri sering bertengkar, saling kecewa, penuh dengan konflik saling kecewa dan tidak mampu menyelesaikan masalah. Seiring waktu dan kenyataan-kenyaan hidup yang harus terus dihadapi, perlahan-lahan suasana Romantic Love berangsur-angsur menghilang. Biasanya mulai tahun ketiga sudah berangsur-angsur menghilang hingga 5 tahun usia pernikahan sempurna hilangnya fase Romantic Love. Kalau sebelumnya apa-apa selalu berdua maka pada tahun ketiga mereka mulai makan pada jam yang berbeda, tidur pada jam yang berbeda KECUALI bagi yang bisa mempertahankan. Selapis demi selapis kepribadian pasangan mulai terungkap.

Kalau pada masa Romantic Love kekurangan pasangan sebagai sesuatu hal yang sangat bisa ditoleransi, tapi mulai memasuki fase kedua ini mulai terkuaklah aslinya masing-masing (ketok asline). Mulailah muncul rasa kecewa, bahkan sampai ada yang merasa tertipu oleh pasangannya, bahkan sampai ada yang merasa telah digendam oleh calon suami/istrinya. Padahal sebenarnya saat sebelumnya karena cinta yang menggebu bisa sampai menutup mata hatinya, yang kurang baik namapak baik, ibarat kata “gula jawa rasa coklat”. 

Saat-saat fase Dissapointment/Distress ini masing-masing pihak harus menyediakan diri untuk memiliki kesabaran yang luar biasa, menahan ego, amarah, bersedia minta maaf dan memaafkan pasangan.
Bila segala kekecewaan, ketidakpuasan, amarah bisa diredakan maka tidak akan berlama-lama di fase kedua ini.

Berapa lama di fase kedua? Tergantung kedewasaan kita. Kalau pasutri bersikap childish, masing-masing mempertahankan egonya maka bisa jadi mereka akan berlama-lama di fase kedua ini. Tapi yang harus diingat, fase kedua ini merupakan fase yang harus segera dilewati secepat mungkin.
Bagaimana caranya?
Hadirkan suasana fase ketiga berikut

3. KNOWLEDGE AND AWARENESS
Ini merupakan fase pembelajaran. Begitu ada perasaan kecewa, tidak nyaman, mulai terjadi konflik maka masing-masing harus segera belajar, terutama belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya. Ini merupakan tahap pengenalan yang lebih baik terhadap pasangan kita. Istilahnya NITENI. 

Bagi pasangan yang dulunya tidak pacaran maka fase ini merupakan masa ta’aruf kedua. Saat ini kita belajar mengenali kondisi pasangan dengan lebih detail, membuka diri untuk belajar, melakukan perenungan-perenungan tentang bagaimana menjadi suami/istri yang baik. Bisa dengan membaca buku, diskusi, ikut seminar, banyak bertanya kepada orang yang berilmu atau kepada mereka yang lebih berpengalaman, dll.

Setelah itu akan mendapatkan insight tentang bagaimana seharusnya peran masing-masing. Bila fase ketiga dapat dilalui dengan baik maka masuk fase keempat.



4. TRANSFORMATION
Pada tahap ini pasutri mentransformasikan pengenalan-pengenalan di fase ketiga menuju pada penerimaan. Bisa menerima kondisi pasangan. Perceraian banyak terjadi pada fase kedua. Ini diperkuat dari data Kemenag RI yang menyatakan bahwa perceraian di Indonesia terbanyak pada usia pernikahan di bawah 5 tahun. Itu artinya ketika fase Romantic Love habis, masuk ke fase Dissapointment/Distress pasangan suami istri tidak bisa mengelola konflik dengan baik lalu memilih jalan perceraian. Mereka tidak sabar dalam berproses.

Ketika pasangan mampu secara bersama-sama menghadapi konflik, saling belajar dan menerima pasangan apa adanya, genten sing ngalah (bergantian yang mengalah) maka mereka akan sampai pada fase kelima yaitu Real Love Aku mencintamu siapapun dirimu”.

5. REAL LOVE : I LOVE YOU WHO YOU ARE
Pernikahan itu dari fase cinta yang menggebu-gebu (Romantic Love) menuju cita yang dewasa, cinta yang mendalam (Real Love). Dari cinta menuju cinta, dari cinta yang romantis menuju cinta yang sesungguhnya. Ini adalah tahap KESEJIWAAN antara suami dan istri.

Mengapa dalam sebuah keluarga yang bagus komunikasinya masih sering terjadi masalah? Ya karena belum ada kondisi kesejiwaan ini. Bila telah memiliki kesejiwaan maka tanpa komunikasi/ngobrol pun sudah saling mengerti isi hati pasangan. Mengerti hanya dengan melihat bahasa tubuhnya, sorot matanya, senyumannya.

Komunikasi penting tapi bukan segalanya. The most important thing dalam hubungan suami istri adalah ketercapaian suasana kesejiwaan ini.

Real Love ini tidak usah menunggu saat usia kita tua. Usia muda pun bisa mencapainya. Bawalah Real Love ini sampai menua hingga sang Maha Memiliki Hidup memanggil kita. Tetaplah berada dalam suasana saling menicntai istri/suami kita. Capailah suasana persahabatan antara suami-istri, sehingga betah berlama-lama mendengar cerita (yang sama dan berulang-ulang).
Secepat mungkin mari kita capai fase ke – 5 ini. MUMPUNG MASIH MUDA....:)

Itulah ringkasan ilmu yang saya dapat dari Pak Cahyadi Takariawan atau biasa akrab disapa Pak Cah, seorang konselor dan trainer di Jogja Family Center. Beliau juga penulis buku “Wonderful Family”.

Pada hari Sabtu 7 April 2018 beliu berkenan sharing ilmunya bersama para orangtua/walimurid KBIT-TKIT Al Ummah Gresik dalam acara Workshop Keluarga Samara dengan tema “Merawat Keberkahan Cinta Dalam Keluarga. Acara ini diselenggarakan oleh Komite Sekolah Al Ummah.

Beliau hadir bersama istri tercinta, Ibu Ida Nur Laila, seorang inspirator keluarga dan pendidikan anak. Ilmu dari beliau, insya Allah akan tayang di postingan berikutnya.
Stay tune yaa....

26 komentar:

  1. Ini bagus banget materinya. Saya baru tau yang romantic love itu kalo dipake pacaran, waktu pacarannya mengurangi romantic love setelah pernikahan. Jazakillah khayr mba atas sharenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penjelasan dari Pak Cah begitu mbak, tapi kalo di logika bener juga yaa... makanya dalam Islam pacaran juga dilarang karena mendekati zina. Wallahu alam bishowab

      Hapus
  2. Alhamdulillah.. Terima kasih.. Jadi nambah ilmu nih saya.. Ngalami tapi nggak tau fasenya.. Hahaha.. Benar benar.. Awam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mas Eko, saya juga baru ngeh bahwa kami juga sudah melewatinya hihihi

      Hapus
  3. Saya tahun ini sudah 16 tahun menikah Mbak..Dan sepertinya berada diantara tahap ketiga atau empat yaaa..hahaha

    Terima kasih sharingnya, ditunggu postingan lanjutannya:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga semakin samawa ya mbak

      Hapus
  4. Saya pernah datang ke salah satu seminar tentang pernikahan. Katanya, pernikahan itu ibarat lari marathon. Jangan terburu-buru kayak lagi lari sprint. KAlau terburu-buru malah nanti di tengah jalan udah capek duluan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener juga itu Chie, pernikahan bukan hal yang harus dikejar sedemikian rupa, tapi sesuatu yang harus dinikmati penuh dengan rasa syukur

      Hapus
  5. Dari ulasan yang mbak sampaikan, bener banget nih. Secara saya sudah mengalami dan melewatinya di tiap tahapan sehingga berada di tahun ke enam pernikahan.:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga semakin mendapat keberkahan pernikahan dari Allah SWT.

      Hapus
  6. saya sudah 7 tahun menikah, setiap hari yang saya lalui adalah tahap pembelajar, belajar mulu tiap hari biar nggak mengulang kesalahan yang sama hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiada hari tanpa belajar ya mbak, karena memang dari sanalah kita banyak tahu berbagai hal

      Hapus
  7. Cinta-ilfil-terus cinta banget. Noted :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. gelombang cinta begitu dasyatnya...ihiiirrr

      Hapus
  8. Aku dan suami sdh menikah lebih dr 16 tahun dan semakin kesini Alhamdulillah semakin paham apa keinginan masing2 jd terkadang ngga perlu ngomong pun tp sdh tanggap apa mksdnya. Yg pasti pernikahan itu hrs ada komitmen diantara keduanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, alhamdulillah sudah masuk tahap kesejiwaan ini mbak

      Hapus
  9. Ditunggu tulisan selanjutnya.
    Baca tulisannya Ust Cahyadi itu asyik ya mbak, ngalir, nggak bikin kening berkerut.

    Kalau masalah, lebih banyak perempuan yang menggugat perceraian, kata teman saya, karena lebih mudah prosesnya kalau yang menggugat perempuan mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh gitu ya mbak... lebih ke proses yang lebih cepat yaa...lain kalo PNS ya mungkin agak panjang dan berbelit

      Hapus
  10. wah keren banget nih informasinya buat yang baru menikah 2 tahun kayak aku. selama ini aku kayaknya masih dalam fase kok dia begini dan harus banyak bersabar. heu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa saling menerima kekurangan masing-masing ya mbak, dan terus belajar...semoga semakin SAMAWA

      Hapus
  11. Wah ilmunya dalem bangettt Mba. Makasih ya. Pernikahan saya baru 3,5 tahun ama suami. Semoga barokah smp syurgaNya nanti ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin...turut mendoakan Bunda... Semoga Allah SWT memberikan keluarga yang penuh barakah

      Hapus
  12. Cakep ilmunya. Kudu diulang2 nih bacanya.
    Biasanya artikel2 begini yg baca sepihak aja, yaitu istri. Jadilah si istri pengen gitu mesra2 ama suami, tapi suaminya udah geli sendiri hahahaha (bukan pengalaman pribadi)
    Saya dan suami juga pernah ikut seminarnya Ust Cahyadi dan istri. Subhanallah mereka itu ya, bisa jadi support system bagi masing2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya juga ya Mbak, kebanyakan suami enggan bahas-bahas beginian, makanya saya juga salut kepada para suami yang concern pada hal-hal begini

      Hapus
  13. Itu lah fase-fase yang harus di hadapai nanti dipernikahan.. Semoga secepatnya mengalami fase-fase tersebut, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Turut mendoakan semoga Allah SWT mengijabah doa Mas Idris untuk segera menyempurnakan separuh agama. :)

      Hapus