Alhamdulillahi Robbil
‘Alamiin...
Telah sampailah kita di
bulan Ramadhan ini. Bulan yang penuh dengan keutamaan bagi umat Islam di
seluruh penjuru dunia. Sebuah bulan yang menjadi ajang mengasah diri, tidak
hanya menahan lapar dan dahaga tapi juga mensyaratkan ketegaran jiwa untuk
menahan segala perilaku tercela.
![]() |
Tampak depan Masjid KH. Ahmad Dahlan Gresik |
Pada malam pertama
bulan Ramadhan 2018 ini, kami sekeluarga melaksanakan sholat tarawih di Masjid
KH. Ahmad Dahlan Gresik yang berlokasi di Jalan Raya Gresik-Lamongan, Desa
Banjarsari Kecamatan Cerme, tepat di sebelah barat Terminal Bunder Gresik.
Meski belum selesai
100% dalam pengerjaannya namun masjid ini sudah bisa digunakan oleh warga
muslim di Gresik dan sekitarnya, juga oleh siapapun umat Islam yang hendak
beribadah di masjid ini. Antara lain menara setinggi 35 meter yang masih dalam
proses pengerjaan.
Masjid yang dibangun
oleh Keluarga Almarhum H. Bisri Ilyas seorang pengusaha property ternama dari
Kota Gresik ini dibangun di atas dua lantai. Area masjid sangat luas. Ketika
memarkir kendaraan kami di area parkir yang juga cukup luas ini, nampaklah
bangunan masjid yang cantik dengan warna dominan putih abu-abu.
Di halaman masjid
nampak beberapa pohon kurma yang belum lama ditanam, lengkap dengan penyangga
dari besi. Konon katanya ada 17 pohon kurma. Semalam belum sempat ngitung sih
hehehe...
![]() |
Pohon kurma di halaman masjid |
Di sisi kiri masjid ada
tempat wudhu wanita, sedangkan tempat wudhu pria ada di sisi kanan masjid.
Nggak perlu bingung atau takut salah masuk toilet atau tempat wudhu karena
sudah sangat jelas ada tandanya.
![]() |
Tempat wudhu dan toilet wanita |
Karena baru pertama
kesini, sempat agak bingung juga dimana tempat sholat untuk jamaah putri. Di
lantai satu setelah melewati beberapa pilar yang tinggi dan megah serta semacam
kolam dengan lantai dasar biru yang belum selesai dikerjakan, nampaklah ruang
sholat untuk jamaah putra yang dibatasi dengan dinding kaca tebal. Tempat yang
ber-AC ini nampak tidak terlalu luas dengan pintu geser.
![]() |
Ruang sholat utama jamaah pria |
Namun ada tiga area di
tiga sisi luar ruang sholat utama ini yang bisa digunakan untuk sholat jika
jamaah putra tidak tertampung di dalam ruangan utama tersebut, apalagi pada
bulan Ramadhan yang selalu dibanjiri oleh jamaah yang berlomba-lomba meraih
pahala di hadapan Rabb-Nya.
![]() |
Serambi yang bisa digunakan untuk sholat |
Di bagian belakang sisi
kiri dari ruang sholat utama untuk jamaah putra ini, ada ruang khusus yang
dibatasi dengan tirai kain warna hijau dan putih yang dilipit-lipit. Saat itu
ada empat orang jamaah putri yang sedang duduk menghadap kiblat. Aku kira disitulah
tempat sholat jamaah putri. Sempat sekilas terlintas dalam benakku, kok sempit
amat ya. Ternyata kegalauanku “terbaca” oleh bapak-bapak yang saat itu ada di
sekitar tempat itu, mungkin salah satu takmir di masjid ini (ih aku sok tau
xixixi). Beliau bilang ke aku, “Maaf, ini untuk jamaah manula, untuk ibu-ibu
ada di lantai dua” katanya sembari mengarahkanku dan anak-anak ke tangga menuju
lantai dua.
![]() |
Area khusus jamaah manula wanita |
Kami pun langsung
menuju ke lantai dua. Kebetulan kami datang awal. Sebelum adzan sholat Isya’
berkumandang kami sudah tiba di masjid ini. Dari lantai dua ini nampak jelas
lampu ganting hias yang besar dan indah.
![]() |
Lampu hias di masjid |
Sejenak menyesuaikan
diri dengan suasana masjid ini. Berkumandanglah suara adzan Isya yang
dilanjutkan dengan sholat sunah dan sholat Isya berjamaah. Setelah ada jeda
waktu untuk sholat Rawatib, takmir masjid pun memberikan beberapa pengumuman
terkait dengan kegiatan masjid KH. Ahmad Dahlan selama bulan Ramadhan ini.
Dilanjutkan dengan
tausyiah Ramadhan oleh Bapak Taufiqullah A. Ahmady sebagai Ketua Dewan Pembina
Takmir Masjid, beliaunya juga Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gresik.
Pada saat tausyiah akan
dimulai, tak disangka-sangka ada sesuatu yang menyebabkan batal wudhuku. Nggak
perlu aku sebutkan tho apa itu...
Bergegaslah aku keluar ruangan menuju tempat wudhu. Setelah turun tangga menuju
ke lantai satu, o la laa... mengapa di sekitar tangga banyak jamaah laki-laki
duduk disitu? Ya iyalah, mereka kan jamaah sholat juga kan...
Aduh, aku sempat
bingung nih, mosok ya aku harus berjalan melewati para laki-laki itu. Asli
bingung banget. Sempat terpikir sekilas aku nggak jadi wudhu aja ah, malu kan
harus melewati depan jamaah laki-laki yang duduk berjejer. Tapi itu artinya aku
nggak bisa sholat jamaah tarawih di masjid ini dong...
Sempat juga terpikir
mosok ya aku salah jalan ini tadi. Segera teringat kecerdasan spatial-ku yang agak-agak parah. Tapi
otakku yang lain bilang, “Kamu enggak salah jalan kok” sambil aku tengok kanan
kiri barangkali ada jalan lain selain disitu. Terus gimana dong?
Di tengah confuse-nya diriku, aku pun bertanya
pada salah satu jamaah yang terdekat dengan tangga. Pertanyaanku pun sebenarnya
hanya untuk memastikan kata-kata sisi otakku yang lain tadi.
“Mas,
maaf kalo mau ke tempat wudhu lewat mana
ya?”
“Ya
lewat sini, Mbak” (sambil tangannya menunjukkan bahwa
memang aku harus lewat depannya dan jamaah putra yang lain).
“Waduh,
harus lewati semua ini?” (Kataku seolah tak percaya. Kayak
pertanyaan apa aja, ini hanya melewati orang-orang pria bukan melewati kenyataan
hidup yang rumit J #ngelantur)
“Nggak
apa-apa nih Mas harus melewati mereka ini? Apa nggak ada jalan lain?”
tanyaku masih tidak yakin. Berharap mas-nya menunjukkan jalan kebenaran yang
lain yang tidak harus melewati para pria non muhrim yang sedang khusyu’
mendengarkan tausyiah.
“Nggak apa-apa Mbak, emang lewat sini,” Masnya pun berusaha
meyakinkanku yang nampak nggak yakin.
Ya sutralah, mau gimana
lagi. Dengan sangat malu dan sungkan sambil membungkukkan badan, aku pun
melewati semuanya #eh melewati barisan jamaah laki-laki yang ada disitu. Alamat
deh, baliknya pun melewati situ lagi. Bener-bener nggak ada jalan lain nih.
Moga-moga pengalamanku
ini mendapatkan atensi dari pihak pengelola masjid, mengingat malam-malam
Ramadhan masih satu bulan ke depan dan kemungkinan wanita-wanita yang di lantai
dua yang kebetulan batal wudhunya di tengah “perjalanan” bisa menuju tempat
wudhu dengan nyaman.
Ya barangkali ada ide
untuk memberikan tali pembatas (macam di bank itu) di area sekitar tangga untuk
lewat jamaah putri yang naik atau turun agar tidak tidak ditempati untuk sholat
atau duduk-duduk para jamaah beda jenis kelamin.
TEMPAT JAMAAH PUTRI
Seperti telah aku
sampaikan di atas, bahwa tempat sholat jamaah putri ada di lantai dua. Seperti
tempat jamaah putra, tempat sholatnya pun dibatasi dengan dinding kaca karena
ruangan ini ber-AC. Bedanya kalau di lantai satu pintunya model pintu geser,
kalau yang di lantai dua model pintu tarik-dorong.
Tapi semalam AC-nya
tidak terasa dingin. Terasa nggak ber-AC sih. Berasa suhu ruang aja. Tapi nggak
panas juga. Kata suami AC di lantai satu terasa dingin. Maklum juga sih masjid
baru dan baru pertama dipakai tarawih, mungkin takmir masjid juga belum
mengetahui kondisi ini.
![]() |
Tempat jamaah wanita |
Tempat yang ber-AC ini
juga tidak terlalu luas, tidak bisa menampung semua jamaah wanita yang hadir
malam tadi. Tapi masih ada area kosong di tiga sisi ruang utama yang lumayan
luasnya bisa dimanfaatkan untuk sholat juga. Ada standing AC-nya juga kok.
![]() |
Sisi kanan tempat sholat utama |
![]() |
Lampu indah di atas tangga |
Setelah tausyiah berakhir,
didirikan sholat tarawih 8 rakaat dilanjut sholat witir 3 rakaat. Setelah selesai seluruh
rangkaian ibadah di masjid ini, kami tak ingin buru-buru pulang. Suami pun
masih terlihat asyik berbincang dengan beberapa jamaah yang masih berada di
masjid. Nampak dari lantai dua yang memang “tembus” ke lantai satu.
KAMAR MANDI WANITA
Tempatnya terpisah
antara tempat wudhu dan toilet/kamar mandi. Untuk tempat wudhu lumayan banyak
krannya. Airnya pun lancar. Namun yang aku nggak paham mengapa ada semacam
badukan di depan setiap kran. Apa itu fungsinya untuk duduk saat wudhu atau
untuk ancik-ancik saat wudhu. Kalau untuk ancik-ancik kok ya ketinggian malah
takut jatuh. Kalau untuk duduk bisa-bisa baju basah juga.
![]() |
Salah satu tempat wudhu |
Untuk kamar mandi ada 4
buah dengan shower di masing-masing kamar. Selain itu ada 2 toilet dengan WC
jongkok serta 2 toilet dengan WC duduk. Jadi tinggal pilih mana yang nyaman
buat Anda.
![]() |
Kamar mandi dan toilet |
Ini Athiyah nggak mau
ketinggalan minta foto sebelum pulang.
Meajidnya terlihat modern dan nyaman ya.
BalasHapusiya mba :)
Hapusmasih baru juga masjidnya.
iya mba :)
Hapusmasih baru juga masjidnya.
Itu tempat sholatnya gak pakai karpet ya, Mbak? Kalau saya kayaknya harus bawa sajadah. Suka masuk angin kalau langsung duduk di lantai :D
BalasHapusIya Chie nggak pakai karpet, kalau saya kadang malah suka nggak pakai sajadah, adeeemm....hehehe
HapusSubhanAllah...
BalasHapusKeren banget designnya, kapan yach bisa kesitu? dah g punya kerabat mau belum bisa lihat secara langsung, coba punya saudara / kerabat bisa lihat kesitu kali yach....
Hmmmm, keren abis masjidnya.
Semoga bisa berkunjung ke masjid ini ya mba...
HapusAssalamualaikum Ukhti,,
BalasHapusSaya sekeluarga tadi mampir ke Masjid KH Ahmad Dahlan ini,, Subhanallah.. bagus sekali bangunannya,,
Setelah sholat,kami pun berfoto2,saking asyiknya sampai tidak ingat kalau kacamata suami saya tertinggal di tempat wudhu,,
Baru tersadar saat sudah masuk tol,
Mungkin Akhi dan Ukhti ada no telp takmir masjid,boleh diinfo ya,,
Terimakasih
Wassalamualaikum
Waalaikumsalam wr.wb.
HapusMohon maaf ukhti, saya tidak punya nomer takmir masjidnya. Maafkan...
Alhamdulillah lampu hias karya kami bisa di publikasikan...barangkali ada yang minat bisa hubungi kami ph/wa :081227192500 , follow instagram kami @kerajinankuningantembaga
BalasHapus