23 Mei 2018

TANJUNG PAPUMA, PANTAI CANTIK NAN EKSOTIK DI KOTA SERIBU GUMUK

http://www.renidwiastuti.com/2018/05/tanjung-papuma-pantai-cantik-nan.html

There is no place like the beach
Where the land meets the sea
And the sea meets the sky
(Umar Siddiqu)
Ombak biru berkejar-kejaran seolah-olah berlomba untuk menjadi yang pertama menggapai pasir putih yang terhampar. Langit biru yang maha luas dihiasi burung-burung yang terbang tanpa beban. Seolah-olah mau berkata pada semua betapa bebasnya dia di alam raya.

Hamparan pasir putih yang luas, bersih dan landai dengan garis pantai sepanjang 25 kilometer memberi kebebasan kepada orang-orang yang berada disana untuk melakukan berbagai aktifitas favoritnya di pinggir pantai. Ada yang duduk-duduk di bawah payung tenda menikmati deburan ombak yang berkejaran tiada henti, jalan-jalan di bibir pantai atau bermain pasir seperti anak-anak kami.
http://www.renidwiastuti.com/2018/05/tanjung-papuma-pantai-cantik-nan.html
Athiyah dan Aufar asyik bermain pasir 
http://www.renidwiastuti.com/2018/05/tanjung-papuma-pantai-cantik-nan.html
Anak-anak tetap asyik bermain meski matahari panas menyengat
Keindahan panorama pasir putihnya yang memiliki luas sekitar 35 hektar ini sayang banget kalau sampai terlewatkan begitu saja. Bener-bener membius banget suasana disini. Saat itu matahari lumayan menyengat karena kami tiba disana sekitar pukul setengah tiga sore.

Penasaran kami sedang dimana saat itu?
Yaa... itulah saat-saat kami menikmati keindahan Pantai Papuma, salah satu pantai yang menjadi primadona wisata bagi masyarakat Jember. Pantai yang berada di Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan ini berjarak 45 km dari kota Jember. Kami kesana bersama-sama famili, kebetulan saat itu kami sedang silaturahmi ke rumah adik ipar di Mangli.

Oh ya, perjalanan menuju pantai Tajung Papuma begitu menyenangkan. Selain karena kita sudah lama nggak pergi ke pantai, pemandangan di sepanjang perjalanan sungguh menawan. Bagus banget untuk berfoto-foto ria. Tapi sayang aku tidak bisa mengabadikan keindahan itu karena sebagian dari kami ingin segera sampai di pantai dan bisa berlama-lama disana mengingat waktu sudah semakin sore. Sekitar satu jam perjalanan yang harus kami tempuh dari Mangli.


Ketika perjalanan semakin dekat dengan tujuan yaitu di Wuluhan, sudah banyak ditemukan penunjuk jalan menuju pantai Tanjung Papuma.
Perjalanan agak sedikit “menegangkan” karena harus melewati jalan yang berkelok dan menanjak. Namun itu hanya sekitar 300 meter saja. Jadi kalau hendak ke pantai Tanjung Papuma harus benar-benar diperhatikan kondisi kendaraannya. Kami sempat berpapasan dengan mobil sedan yang mogok di tengah jalan. Untungnya kendaraan yang membawa kami dalam kondisi baik sehingga sampai di pantai tanjung Papuma dengan lancar dan aman.

Sesampainya di pantai nampaklah eksotisme pantai yang pasir putihnya membentuk tanjung ini mengalahkan sengatan sang surya yang menerpa kulit kami. Sejauh mata memandang nampaklah pantai yang cantik dengan air laut yang biru berhiaskan batu-batu karang yang besar di sisi selatan yang merupakan ciri khas dari pantai Tanjung Papuma. Kalau dihitung ada tujuh batu karang raksasa yang masing-masing memiliki nama. Ternyata pantai Papuma itu merupakan singkatan dari pantai Pasir Putih Malikan.

Tentu tak akan aku lewatkan berfoto dengan latar belakang batu-batu karang yang berdiri kokoh di tengah lautan.
http://www.renidwiastuti.com/2018/05/tanjung-papuma-pantai-cantik-nan.html

http://www.renidwiastuti.com/2018/05/tanjung-papuma-pantai-cantik-nan.html
Athiyah bermain pasir
Tak hanya pasir putih, birunya laut dan kokohnya batu karang yang mampu menguras seluruh perhatian kami. Batu-batuan beraneka warna dan bentuk dengan jumlah yang tidak sedikit terhampar disisi barat pantai menyempurnakan panorama pantai yang merupakan bagian dari pesisir laut selatan.
http://www.renidwiastuti.com/2018/05/tanjung-papuma-pantai-cantik-nan.html

Seperti layaknya kehidupan yang naik dan turun, ombak di pantai ini pun kadang besar dan kadang kecil. Ketika ombak besar datang menghantam karang, kita harus waspada. Ketika ombak kecil menyapu pasir putih, nampaklah air laut yang berkilau di bawah cahaya sang mentari. Sungguh lukisan alam yang tiada terkira.
http://www.renidwiastuti.com/2018/05/tanjung-papuma-pantai-cantik-nan.html
Pesona kilau air di pantai
Nampak pula perahu nelayan yang bersandar di tepi pantai, berjajar dengan rapi. Memang pantai Papuma ini juga dijadikan tempat mendarat bagi para nelayan setelah mencari ikan di tengah lautan. Ini pun menjadikan pemandangan yang harus aku abadikan di kamera ponselku.
http://www.renidwiastuti.com/2018/05/tanjung-papuma-pantai-cantik-nan.html
Perahu nelayan yang bersandar
Saat kami kesana lumayan ramai juga pengunjungnya, namun tak sampai berjubel di pantai sehingga kami masih bisa dengan leluasa menikmati keindahan pantai. Mereka banyak yang mandi di pantai, berenang atau sekedar bermain air. Kita sebagai pengunjung pun harus memperhatikan beberapa peraturan yang sudah dibuat oleh pihak pengelola pantai, antara lain tidak mandi di laut pada area yang dilarang. Patuhilah ini demi keamanan diri sendiri dan demi kenyamanan bersama.

Ada pula sekelompok pengunjung dengan berpelampung lengkap menyewa sebuah perahu untuk berlayar di pantai itu. Kami pun beberapa kali ditawari oleh beberapa orang untuk menyewa perahu nelayan dengan tarif Rp 10 ribu per orang. Pengunjung akan diajak melihat Pantai Watu Ulo dan Pulau Kodok. Kami juga pernah kesini jauh sebelumnya. Kami pun ditawari untuk menyewa perahu, tapi karena ada empat balita yang ikut serta kami pun menolaknya dengan halus, padahal aku pingiiiinnn.... Anak-anak pun ingin naik perahu. Beruntung ada perahu yang bersandar di pasir putih, anak-anak pun bermain di atas perahu seolah-olah sedang berlayar di tengah lautan. Ah, melihat mereka ceria, hati ini pun bahagia.
http://www.renidwiastuti.com/2018/05/tanjung-papuma-pantai-cantik-nan.html
Row...row..your boat gently down the stream....hihihi
Setelah puas menikmati keindahan pantai yang menjadi salah satu destinasi wisata Jember ini, aku pun tertarik dengan semacam bukit atau gumuk yang berada di ujung selatan pantai ini. FYI, Kabupaten Jember juga sering disebut sebagai kota seribu gumuk. Gumuk atau bukit memang merupakan kekayaan alam yang khas di kota ini, meski jumlahnya sekarang tidak sebanyak julukannya. Itu semua karena adanya penambangan gumuk. 

Nah, ternyata area yang aku maksud di atas itu bernama Siti Hinggil. Karena berada di ketinggian 50 mdpl, diperlukan ekstra tenaga untuk untuk mencapainya. Dengan menapaki anak tangga buatan yang tak sempat aku menghitung jumlahnya, sampailah aku dan beberapa saudara di Siti Hinggil sementara anak-anak aku titipkan pada beberapa saudara yang lain.


Wooww... ternyata di atas bukit ini kita bisa menyaksikan landscape wilayah pantai Tanjung Papuma. Sungguh lukisan alam yang tercipta dengan sempurna hasil karya Sang Maha Kuasa. Keindahan yang istimewa. Sejauh mata memandang, nampaklah gunung yang biru berpadu serasi dengan birunya laut yang beratapkan langit berhiaskan awan-awan putih. Keindahan itu semakin lengkap dengan hadirnya gugusan karang di kanan dan kiri bukit.

Ombak yang bergulung kemudian pecah saat membentur batu karang, tak membiarkan mata kita untuk terlena sekejap pun. Menikmati angin semilir sepoi-sepoi dengan bersantai di gazebo yang ada di puncak bukit ini merupakan pilihan terbaik untuk merefresh pikiran.

http://www.renidwiastuti.com/2018/05/tanjung-papuma-pantai-cantik-nan.html
Siti Hinggil
Salah satu yang membuat agak nyesek saat di pantai ini adalah ketika melihat perilaku beberapa pengunjung yang seenaknya saja membuang sampah. Tentulah ini mengurangi nilai keindahan sekitar pantai. Saat kami mau istirahat di gazebo yang ada di sekitar pantai, di sana pun terdapat sisa-sisa botol air kemasan, beberapa ceceran makanan bahkan ada kopi yang tumpah di tempat duduk dalam gazebo.

Setelah anak-anak puas bermain pasir  bajunya pun kotor dengan pasir (anak-anak memang kami larang untuk bermain air di pantai dengan pertimbangan ombak yang tergolong besar). Pada saat sebelum berangkat tidak kepikiran membawa baju ganti, payah kan emaknya? Memang saat itu spontan saja pergi ke pantai ini sehingga tidak ada persiapan yang matang. Tapi kami tak risau karena bisa membeli kaos di toko-toko yang ada di sekitar pantai.

Setelah mandi dan ganti baju kami pun menikmati masakan ikan bakar dan cumi-cumi asam manis di Cafe Tanjung Papuma. Tak ketinggalan es kelapa mudanya sebagai penawar dahaga. Ada beberapa menu seperti gurita bakar asam manis, udang goreng, udang bakar, dan lobster. Karena rempong nyuapin  anak-anak kami nggak sempat berfoto disini.
Selain cafe, ada banyak warung yang menjual makanan dengan harga terjangkau.
Rumah makan yang ada di sekitar pantai
Fasilitas pantai Tanjung Papuma ini semakin lengkap dengan adanya camping ground. Menurut informasi ada 3 lokasi camping ground yaitu Gebang Camping Ground, Keben Camping Ground dan Serut Camping Ground. Dengan dikhususkannya lokasi camping ground ini memudahkan pengawasan oleh pihak pengelola.

Bagi yang merencanakan pernikahan bisa juga lho prewed-nya disini. Ada Pre-Wedding Photo Session juga. Bagi pengunjung dari luar kota/pulau disediakan pemandu wisata, begitu juga bagi wisatawan mancanegara disiapkan pula penerjemahnya.

Setelah puas berlama-lama di pantai ini, kami pun bersiap pulang. Tapi ada satu bangunan yang berwarna mencolok yang mencuri perhatianku. Itulah Vihara Sri Wulan. Aku pun mendekatinya. Dengan dominasi warna merah  terdiri dari pagoda dan bangunan utama, vihara ini nampak megah. Vihara yang dibangun pada tahun 1994 ini terlihat sepi, mungkin sedang tidak ada kegiatan ibadah pada saat itu.

Keberadaan vihara ini menunjukkan betapa tinggi tingkat toleransi hidup beragama di Jember. Mengingat di sekitar pantai juga terdapat mushola. Islam dan Konghucu berdampingan secara damai, apalagi mayoritas nelayan di pesisir pantai beragama Islam.

Satu hal yang terpaksa aku lewatkan saat itu adalah tak bisa melihat sunset di senja hari. Sayang banget memang. Anak-anak sudah nampak kecapekan. Semoga bisa berkunjung kesini lagi hingga bisa menikmati panorama sunset.

Bagi pengunjung yang merencanakan bermalam di area pantai Tanjung Papuma tak perlu khawatir soal tempat menginap. Ada lebih dari 25 pondok dan cottage. Salah satunya Cottage and  Hotel Tanjung Papuma. Meski tidak semewah di hotel berbintang, tapi lumayanlah untuk istirahat dan menyaksikan sunrise di keesokan harinya.

KEARIFAN LOKAL YANG MASIH TERJAGA
Di pantai Tanjung Papuma ini kearifan lokal masih terjaga. Diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui cerita dari mulut ke mulut. Upacara ritual larung sesaji masih dilakukan, namun hanya pada waktu-waktu tertentu saja terutama bulan Suro atau Muharam. Ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat sekitar pantai. Ritual ini sebagai wujud rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya panen ikan disana dan berharap agar terus melimpah sepanjang tahun.

Besar harapan pemerintah daerah bisa lebih mengoptimalkan potensi wisata ini dengan promosi yang lebih gencar,  memperbaiki fasilitas-fasilitas yang ada termasuk memperbanyak tempat sampah di sekitar pantai serta mengadakan fasilitas yang menunjang lainnya. Dengan demikian akan lebih banyak pengunjung memilih Jember sebagai destinasi wisata favorit. Dijamin deh,  Jember makin rame, apalagi bila ditambah moda transportasi yang dapat mengantarkan pengunjung dengan mudah, cepat dan nyaman.

TIKET MASUK
Tiket masuk pantai Tanjung Papuma tidak akan membuat kantong bolong atau ATM jadi kosong karena tiketnya sangat murah. Untuk hari biasa Senin-Jumat Rp 15.000,- sedangkan pada hari libur, Sabtu dan Minggu Rp 17.500,-. Ada tiket khusus untuk wisatawan mancanegara yaitu Rp 30.000,-
Untuk biaya parkir kendaraan hanya membayar Rp 2.000,- untuk roda dua, Rp 5.000,- untuk roda 4 dan Rp 10.000,- untuk roda 6.

Nah, apa masih mikir kalau mau datang ke pantai Papuma di kota seribu gumuk ini?
Nggak usah kebanyakan mikir deh, segera rencanakan liburan bersama keluarga atau teman-teman.
Have a nice traveling yaa...

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan Blogger Jember Sueger bersama Taman Botani Sukorambi

13 komentar:

  1. yang diatas itu bagus mbak. baru soalnya.. instagramable banget tuh diatas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mas, banyak spot yang instagramable di pantai ini, tinggal explore aja

      Hapus
  2. Pertama kali aku ke pantai ini. Terkagum2 sama pemandangan lautnya..banyak sekali bukit karang di tengah lautnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Samaaa... saya pingin kesana lagi menikmati sunrise dan sunset nya...

      Hapus
  3. Ketik anak-anak asyik bermain di pantai, bunda asyik mengabadikan setiap gerak-geriknya hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...betul sekali ini, berusaha untuk mengabadikan setiap momen mereka di setiap kesempatan

      Hapus
  4. Wow .. luas juga hamparan pasirnya seoanjang 25 KM ..., asik yaa bisa ngemping dan aktivitas liburan seru disana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bisa camping dan seru-seruan di pantai ini

      Hapus
  5. Aku selalu rindu pantai, dan postingan ini pemuasnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih pujiannya mba Amanda Ratih... sukses selalu yaa

      Hapus
  6. Selalu penasaran sama pantai papuma tapi belum ada kesempatan main ke sana

    BalasHapus
  7. Jember cukup terkenal dengan pantai-pantainya yang indah dan salah satunya adalah pantai papuma dan payangan. Pantai ini masih asri karena belum terlalu banyak dikunjungi wisatawan, selain view pantainya yang indah tidak lengkap kalau tidak mendaki bukit yang berada di sekitar pantai ini, untuk menikmati keindahan alamnya yang mempesona.

    Travel Malang Jember

    BalasHapus