27 Mei 2020

MERAYAKAN IDUL FITRI DI TENGAH PANDEMI


merayakan-idul-fitri-di-tengah-pandemi

Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah yang jatuh pada tanggal 24 Mei 2020 berlangsung di tengah pandemi. Tentu ini membuat suasana lebaran jadi sangat jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Berbagai tradisi yang mewarnainya pun kini tiada lagi.

Dengan adanya larangan mudik kamipun tidak mudik. Sebagai warga negara yang baik kita pun harus patuh pada peraturan yang diberikan oleh pemerintah. Ini semua dilakukan demi putusnya mata rantai penyebaran virus corona. Sangat disayangkan ternyata masih ada yang mengabaikan peraturan itu.


Biasanya dalam suasana suka cita saat Idul Fitri kita bisa berkumpul bersama keluarga besar, bisa berpelukan dan cipika cipiki dengan saudara atau sahabat sesama jenis. Semua itu tidak bisa kita lakukan lagi karena harus melakukan phisycal distancing, bahkan berjabat tangan pun lebih baik tidak dilakukan.


Kita harus menerima kondisi ini dengan rasa ikhlas dan penuh pengertian bersama dengan harapan pandemi ini segera berlalu. Ikhlas untuk tetap bertahan di dalam rumah jika tidak ada hal yang sangat penting yang harus dilakukan di luar rumah, seperti bekerja yang tidak bisa dilakukan dengan WFH atau dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok.

Inilah sekelumit cerita keluarga kami saat lebaran kali ini.

Sholat Idul Fitri di rumah saja  


Pada awalnya suami mengajak sholat Id di rumah kami sendiri di GKB, tapi ternyata di rumah ibu mertua tidak ada yang menjadi imam dan khatibnya. Akhirnya pagi-pagi sekali sekitar jam 5.30 wib kami pun berangkat ke rumah Ibu.

Setengah jam kemudian kami pun tiba. Kami pun menunggu anggota keluarga lain yang mempersiapkan diri. Kami pun melakukan takbiran bersama terlebih dahulu hingga jam 06.20 saatnya sholat Id dimulai.

sholat-idul-fitri-di-tengah-pandemi


Suami yang menjadi imam sekaligus khatib sholat Id kali ini. Semua berjalan lancar karena suami sudah terbiasa juga menjadi khatib sholat Jumat di kantornya. Meski begitu, malam sebelumnya nampak dia mempersiapkan materi yang akan disampaikan, seperti biasa dilakukannya sebelum menjadi khatib pada sholat Jumat.

merayakan-idul-fitri-di-tengah-pandemi


Dalam khutbahnya disampaikan bahwa kita harus bisa mengambil hikmah dibalik pandemi ini karena tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia. Seperti dalam firmannya dalam Q.S. Sad 38:27 yang artinya :
“ Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah.”
Jelas bahwa dalam firman-Nya disebutkan semua yang diciptakan Allah itu mempunyai manfaat, bahkan penyakit dan virus corona ini. Maka dari itu kita sebagai manusia yang diciptakan menjadi makhluk sempurna yang dikaruniai akal, hati dan nafsu sehingga kita harus memanfaatkan karunia itu dengan baik, termasuk dalam situasi pandemi seperti sekarang ini.

Dalam Q.S Ali Imron ayat 191 disebutkan 
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk dan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
Selain itu, kita harus selalu optimis bahwa pandemi ini akan segera berakhir. Kita harus bisa menjadi pelopor bagi keluarga, orang-orang di lingkaran terdekat kita untuk mematuhi anjuran WHO mengenai standar kesehatan di tengah krisis penyebaran covid19 ini seperti : makan makanan yang sehat dan bernutrisi, tidak minum alkohol (bagi muslim ini wajib banget), mengurangi minuman manis, tidak merokok, berolahraga, tidak berkerumun (social distancing), menjaga jarak fisik (phisycal distancing), menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar, rajin cuci tangan dengan cara yang benar atau menyediakan handsanitizer, dan melakukan penyemprotan rutin dengan desinfektan.


Halal Bihalal dan Silaturahmi Online


Meski tidak bisa saling bertemu langsung, namun jalinan silaturahmi tidak boleh renggang. Hari gini banyak cara untuk tetap bersilaturahmi dengan para sesepuh dan saudara-saudara dari keluarga besar. Kali ini masku yang tinggal di Tangerang berinisiatif nge-zoom bareng dan sekaligus menjadi host admin halal bihalal/silaturahmi online antar keluarga melalui aplikasi zoom.

Ada 3 jadwal silaturahmi via zoom kali ini. Semua dikoordinasikan lewat gruap WA keluarga. Aku nge-zoom nya pakai handphone karena nggak bawa laptop ke rumah ibu, lumayan jadi anget hapenya hihihi...

Nah inilah jadwal nge-zoom yang bisa dimulai dengan tepat waktu:

Pertama, jam 08.00 wib dengan keluarga inti yaitu Bapak, Ibu, Mas dan keluarga, aku sekeluarga dan adik yang kebetulan lagi suspend kontrak kerjanya sebagai flight attendance di Saudi Arabian Airlines karena pandemi.

merayakan-idul-fitri-di-tengah-pandemi
zoom bersama Bapak, Ibu, Mas dan Adik serta keponakan





































Kedua, jam 09.00 wib dengan keluarga/anak, cucu, buyut almarhum Mbah Tawar/Mbah Djeminem (kelurga Ibu dari Ponorogo)

silaturahmi-online-di-tengah-pandemi
zomm bersama keluarga besar Ponorogo

Ketiga, jam 09.00 wib dengan keluarga/anak, cucu, buyut almarhum Mbah Uceng Kartosudjono/Mbah Sudjinem (kelurga Bapak dari Trenggalek)

silaturahmi-idul-fitri-di-tengah-pandemi
zoom dengan keluarga besar Trenggalek

Alhamdulillah, semua berjalan gayeng, guyonan dan senang bisa berkomunikasi meski tidak langsung. Sebagian saudara belum bisa bergabung. Lumayan bisa menjadi ajang untuk melepas kangen bersama keluarga. Yang paling membahagiakan tentu mengetahui semuanya sehat wal afiat.

Satu hal yang melegakan juga yaitu di lingkungan terdekat mereka masing-masing sudah banyak yang menyadari bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertamu (unjung-ungjung, badan, riyayan) seperti layaknya tradisi lebaran sebelumnya.

Sebelumnya aku sempat khawatir jika banyak tamu ke rumah seperti lebaran biasanya mengingat Bapak termasuk orang yang dituakan. Bagaimanapun juga usia Bapak dan Ibu termasuk resiko tinggi. Bapak berusia 74 tahun dan Ibuk berusia 64 tahun.

Adikku cerita bahwa sehari sebelum lebaran ada mobil ambulan yang keliling desa sambil mengingatkan untuk tidak menerima tamu di dalam rumah. Ternyata banyak warga yang memahami hal tersebut dan mematuhinya.

Menyediakan Makanan Khas Lebaran


Pada malam lebaran aku pun sudah menyiapkan dua menu, yang pedes dan yang tidak pedes, tapi semuanya berbahan dasar ayam hihihi... sebenarnya di kulkas persediaan ikan, udang, cumi sudah ada tapi kalau semua dimasak siapa yang makan? Malah bersisa nanti. Mending dimasak hari berikutnya biar nggak bosen.

Kali ini aku memasak menu ayam bumbu rujak dan opor ayam. Meski nggak bisa mudik tapi aku tetap ingin menghadirkan masakan Ibuk di rumah. Setiap hari raya Idul Fitri, Ibuk selalu menyuguhkan ayam bumbu rujak, kering tempe dan juga ada soto atau rawon.

Jadi beberapa hari sebelumnya aku sudah telepon Ibuk da mencatat resep masakannya, maklum aku agak roaming kalau urusan masak memasak. Ini dia hasilnya, meski masih tidak sesedap masakan Ibuk tapi aku cukup puas.

ayam-bumbu-rujak-untuk-hari-raya-idul-fitri-di-tengah-pandemi
ayam bumbu rujak

Dan di rumah Ibu mertua sudah tersedia menu lontong bumbu request dari suami. Ini makanan favorit suami, terutama setiap lebaran. Isinya ada tahu, tempe, udang dan cecek. Saat memasak diberi deplokan kelapa. Aku sendiri belum pernah masak ini. Rasanya mantap nih..

lontong-bumbu-untuk-menu-di-hari-raya-idul-fitri-di-tengah-pandemi


Hari kedua lebaran, kami makan bandeng asap sambel kacang. Bandeng asapnya dikasih adik ipar kemarin. Makan gini aja sudah menghabiskan dua piring nasi. Barakallah. Hari kedua juga penuh kehangatan, ayam bumbu rujak dan opor yang dihangatkan hahaha...

menu-masakan-hari-raya-idul-fitri-di-tengah-pandemi
bandeng asap sambal kacang

Untuk kue lebaran, seperti tahun-tahun sebelumnya saya nggak pesan kue lebaran apapun. Alhamdulillah selalu mendapat kiriman parcel yang isinya bisa untuk suguhan di meja. Lagian setiap tahun kami pasti mudik, jadi rumah kosong. Belum lagi saat balik pasti dibawain ibu macam-macam kue lebaran, belum lagi kue atau makanan ringan yang dikasih saudara.

Itulah cerita kami saat lebaran di tengah pandemi. Kami tidak bersilaturahmi ke rumah saudara dan tetangga. Cukup dengan saling memafkan secara online atau lewat media sosial. Semoga ini tidak mengurangi makna Idul Fitri.

Dalam kondisi pandemi seperti ini kita terima semua ini sebagai takdir dari Allah. Tak perlu menyalahkan siapapun.

Semoga momen Hari Raya Idul Fitri ini sebagi momen kembali menjadi manusia yang senantiasa dalam berbuat kebaikan.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan kita termasuk dalam orang-orang yang mendapatkan kemenangan.

Mohon maaf lahir dan batin.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Shiyamana wa shiyamakum

Dari kami sekeluarga.

27 komentar:

  1. Masya Allah.. indah sekali cerita Idul Fitri di keluarga mbak Reni tahun ini, Mbak.. meski shalat ied di rumah dan silaturahim secara online, tapi semuanya sudah maklum dan masih bisa senyum dan ketawa bahagia. Hehehe.
    Salam buat keluarga ya, Mbak.. semoga kita bisa bersua kembali dengan Ramadhan dan Idul Fitri di tahun depan. Aamiin.

    BalasHapus
  2. Bersyukur ada dunia digital ya, Mbak. Meskipun rasanya berbeda, tetapi setidaknya tetap bisa saling berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat

    BalasHapus
  3. Kami juga sholat Ied di rumah saja bareng keluarga mbak, kemudian video call deh bersama keluarga besar sambil makan nastar, bikin kue sendiri, makan sendiri ahahaha

    BalasHapus
  4. Taqabbal ya kariim...

    Idul Fitri tahun ini memang terasa beda ya, Mbak. Tapi, ya kita ambil sisi positifnya aja, daripada terus mengeluhkan keadaan. Semoga tahun depan, kita bisa merasakan Idul Fitri dengan suasana yang jauh lebih bersahabat. Aamiin...

    BalasHapus
  5. Meskipun tahun ini cuma bisa lebaran sambil zoom dengan keluarga lainnya tapi tetap bersyukur ya Mba karena semuanya sehat

    Semoga pandemi segera berakhir ya mba

    BalasHapus
  6. Waduh masakannya buat aku kepengen mbak. Apalagi tahun ini aku enggak dapat kiriman opor ayam dari tetangga hihi. Semoga pandemi berlalu dan Idul Fitri berikutnya bisa lebih bahagia ya mbak.

    BalasHapus
  7. Benar pakai silaturahminya dengan virtual walaupun keadaan lebaran ini berbeda tapi makanan lebaran harus sederhana namun tak lupa kue lebaran

    BalasHapus
  8. lebaran kali ini sedikit berbeda dengan lebaran tahun tahun sebelumnya yaaa, belum bisa pulang kampung dan kumpul dengan orang orang trekasih, semoga kndisi ini bisa segera membaik dan berlalu

    BalasHapus
  9. Wah menu lebarannya benar-benar menggoda.

    Sama mbak, karena saya gak bisa mudik jadi silaturahminya juga online. Semoga tahun depan shalat Iednya bisa di masjid dan kita bisa bersilaturahmi langsung ke seluruh keluarga besar kita

    BalasHapus
  10. Digital memungkinkan bisa silaturahmi virtual ya. Kebayang gak sih kalo hidup pas belum ada internet dan aplikasi semacam Zoom.

    BalasHapus
  11. Sama mbak, kemarin idul fitri ku juga gitu..
    Shalat ied di rumah dan silaturahmi virtual...
    Tapi tetap ada hidangan khas lebaran

    BalasHapus
  12. Ayam bumbu rujak, enak kayanya. Masyaallah Idulfitri tetap istimewa dan penuh arti, ya, meski enggak bisa ketemu langsung, bisa silaturahmi secara online. Moga Ramadan dan Idulfitri tahun depan bisa beraktivitas seperti semula tanpa kekhawatiran adanya Covid-19

    BalasHapus
  13. Seru sekali cerita lebarannya mbak, apalagi lihat potret-potret kegembiraan dari semua anggota keluarga. Silaturahim tetap terjalin walau jarak memisahkan. Selamat idul fitri, mohon maaf lahir batin

    BalasHapus
  14. Iya banget ya, Lebaran tahun ini bea banget dari tahun-tahun sebelomnya. ari yang gak bisa mudik dan ketemu keluarga, hingga shalat ied yang dilakukan di rumah aja. Tapinya untungnya masih bisa silaturahmi, walopun secara online. Semoga tahun depan pandemi sudah bener2 usai. Kita jadi bisa silaturahmi dan shalat ied secara normal lagi

    BalasHapus
  15. Seru banget Mba cerita lebarannya, memang jadi sejarah ya momen lebaran tahun ini. Alhamdulillah semoga berkah

    BalasHapus
  16. Mohon maaf lahir batin juga ya mba.


    Bakalan jadi kenangan banget ini, tahun tahun di mana pandemi ini melanda dunia dan Ramadan juga Idul Fitri jadi hadir dengan kemasan yang berbeda.

    BalasHapus
  17. Selamat Idul Fitri juga ya mba. Mohon maaf lahir dan batin. Menu bandeng asapnya bikin ngiler nih mba. Hehehe

    BalasHapus
  18. Meski menjadi khatib untuk keluarga sendiri, persiapan harus tetap bagus ya Mbak. Salut sekali dengan silaturahmi virtual keluarga. Kompak dan tampak sekali bahagianya. Saya tidak melakukan itu karena keluarga kurang dekat.

    BalasHapus
  19. Merayakan Lebaran online tetap seru yah mba. itu Bapak bahagia sekali yah wajahnya 😍, senangnya masih ada orang tua mba. Setuju dengan isi khutbahnya mba, semua ada hikmahnya. Semoga kita bisa terus bersyukur 😇

    BalasHapus
  20. wah senangnya ya mba bisa merayakan hari lebaran bersama keluarga meski harus sholat di rumah, saya jauh-jauhan sama keluarga, sedih banget mba apalagi ibu tinggal sendirian. tapi tak apa-apa semoga pandeminya segera berkahir dna biar bisa pulang cepat ketemu ibu. mohon maaf lahir bathin ya ka, mau opornya ehheeh

    BalasHapus
  21. Seru banget lebarannya kak ya walaupun di rumah aja, sedih rasanya ga bisa mudik, Alhamdulillah ya masih bisa silaturahmi online, kemaren aku sholat masih di lapangan tapi memang dikasi jarak, kalo masakannya cuma bikin opor nih. Kumplit bgt itu hidangan lebaran nya kak.

    BalasHapus
  22. Ngga pernah nyangka bakal ada perintah/anjuran sholat ied di rumah. Beneran kayak mimpi tapi harus ditaati. Plus ngga kebayang akan ada katanya mudik juga. Alhamdulillah nya zaman skrg teknologi berkembang pesat.

    BalasHapus
  23. Lebaran tahun ini gak diduga bener-bener berbeda dari tahun-tahun sebelumnya ya mbak. Akupun sholat ied dirumah dan silaturahmi online. Waktu malam takbiran dirumah, jujur masih gak percaya dan mikir 'beneran nih besok lebarannya dirumah aja?' hihihi... Tapi semoga situasi ini segera membaik ya mbak, dan semoga kita bisa bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan, aamiin..

    BalasHapus
  24. Mohon maaf lahir dan batin yah mba.

    Samaan nih kita semua merasakan seperti ini yah mba.. Bakal jadi kenangan tersendiri lebaran tahun ini karna si korona ini. Walaupun jarak memisahkan tetapi komunikasi ttp lancar yah mba.

    BalasHapus
  25. tetap seru ya, mbak momen lebarannya meski secara online. saya jadi penasaran nih sama masakan ayam bumbu rujaknya soalnya baru tahu menu ini

    BalasHapus
  26. jauh sebelum ramadhan, saya dah bayangin gimana nanti pas lebaran. jd dah bilang ortu kalau sampai gak bisa pulang, gak perlu sedih yaaa. alhamdulillah sudah terlalui masa haru biru itu, ternyata kami tegar yaaa melalui lebaran istimewa ini

    BalasHapus
  27. Aku ga masak mba karena ga ada yang datang juga udah malas karena selama ramadan aku masak tiap hari full bisa 2-3 kali wkwkwk..dan akhirnya silaturahmi online sih kalau aku

    BalasHapus