09 Maret 2021

SEPENGGAL KISAH DIBALIK JAS MERAH, ABADI PERJUANGAN KAMI

Kenangan menciptakan pengalaman, Pengalaman menciptakan kekuatan 

milad imm 57


Tulisan sederhana ini sebenarnya sudah aku tulis sejak pertengahan tahun 2019. Ketika itu di grup whatsapp Fokal IMM Komisariat Psikologi dicanangkan akan membuat sebuah buku antologi yang ditulis oleh para alumni. Tulisan bisa berupa cerita ringan atau pengalaman berorganisasi di IMM. Namun, hal tersebut belum bisa terealisasi karena beberapa kendala. Bahkan tulisan ini sudah saya kirim ke tim yang sudah dibentuk untuk menggarap buku tersebut.

Nah, daripada mubadzir coretan saya ini akhirnya saya publish saja di blog ini hehehe... untuk mengenang masa lalu sekalian menyambut Milad IMM yang ke-57...

Yuk, dibaca tulisan ringan ini..


Menjadi civitas akademika di perguruan tinggi terbesar di Jawa Timur ini adalah kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri. Memantapkan hati untuk berafiliasi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah pilihan yang harus disyukuri.

Berbagai pelajaran kehidupan yang tak kami terima di bangku kuliah dapat kami serap dari sini, sehingga kami tidak hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang_kuliah pulang), atau menjadi mahasiswa kunang-kunang (kuliah nangkring­_kuliah nangkring). Kami sudah terbiasa menjadi mahasiswa kura kura (kuliah rapat_kuliah rapat) J J

Karena jarangnya berada di kost-an, teman-teman kost pun tak jarang protes. Bagaimana tidak? Dari pagi hingga malam ngampus melulu. Nyaris kamar kost yang luasnya tiga meter kali tiga meter itu pun hanya sebagai tempat tidur di malam hari. Bahkan ibu kost pun sempat curiga karena hal tersebut. Tapi setelah diberikan penjelasan, sang ibu kost pun bisa memakluminya tentu dengan beberapa pesan yang kami iyakan.

Sebegitu sibuknyakah kami? Atau hanya sekedar cari kesibukan?

Sibuk atau tidak yang pasti kami tahu bahwa semua yang kami lakukan di kampus bukanlah hal yang sia-sia. Memang sebagian dari kami tidak hanya berjuang di ikatan, tapi juga aktif di organisasi kampus lain baik intra maupun ekstra kampus.

Penulis sendiri misalnya, disaat yang hampir bersamaan mengemban amanah di SEFA (Senat Fakultas) sebagai bendahara umum dengan Ketua SEFA kala itu Kakanda Junaidi Yusuf. Teman-teman yang lain juga aktif di BEM. Selain itu, penulis juga mengikuti aktivitas di Tapak Suci, SEF (Student English Forum) dan menjadi salah satu asisten di Laboratorium Psikologi.

tapak suci unmuh malang
Bersama teman-teman di Tapak Suci

Apakah kami bisa fokus di ikatan? Bagaimana dengan kuliah dan tugas-tugas yang tidak sedikit?

Time management dan self management jawabannya. Dan itulah salah satu life skill yang kami pelajari secara alamiah. Buktinya kami bisa lulus dengan cumlaude.

Apakah tidak ada yang dikorbankan?

Tentu tidak sedikit yang harus kami korbankan. Kami jadi jarang pulang kampung, dan ini juga tidak jarang menuai protes dari ayah bunda kami. Kami juga banyak kehilangan kebersamaan dengan teman-teman kost, waktu dolan kami dan masih banyak lagi.

Tapi semua itu tidak ada yang sia-sia.

Semuanya berjalan seiring dengan usia kami yang sedang bergejolak menuju kematangan dan berproses menemukan jati diri. Saat itu kami hanya berharap spirit mahasiswa yang kami punya mampu mewarnai gerakan mahasiswa yang sangat dinamis.

 

Semua berawal dari sini...

imm psikologi umm
Rapat Formatur Musykom X IMM Psikologi


Hasil keputusan Musykom X IMM Komisariat Psikologi kala itu memutuskan kami berada di puncak kepemimpinan. Suatu hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Adapun kepengurusan periode 1998-1999 adalah sebagai berikut:

Ketua I          : Reni Dwi Astuti

Ketua II        : Azwar Djakfar

Sekretaris     : Sri Retno Yuliani

Bendahara   : Kurnia Dwi Yulistyorini

 

KETUA BIDANG DAN SEKRETARIS BIDANG

Kabid Kader            : Parjono

Sekbid Kader           : Lukman Fathoni

Kabid Hikmah         : Yeri Abdillah

Sekbid Hikmah       : Deni Trisna

Kabid Organisasi    : Iin Dwi Lestari

Sekbid                      : Himmatul Ulya

Kabid Iptek              : Imam Affandi

Sekbid                      : Novi Rifqiyanti

Kabid Sosmas          : Himmatul Ulya

Sekbid                      : Budi Setiawan

Kabid Immawati     : Sofiana Nurul Khasanah

Sekbid                      : Anita Rahmawati

 

Selain keenam bidang tersebut, kami membentuk Lembaga Semi Otonom (LSO) yaitu LSO FSP (Forum Studi Psikologi), LSO Seni Budaya.

Beruntunglah kami memiliki kader-kader yang solid, kompak, penuh dedikasi dan progresif. Memang tak semudah membalik telapak tangan untuk membentuk kader yang militan. Kemauan dari kader saja tidaklah cukup. Semuanya turut berperan dan saling bersinergi.


imm komisariat psikologi umm

            Dalam perjalanan periode kepengurusan 1998-1999, sempat mengalami perubahan yaitu Kabid Iptek mengundurkan diri dan diganti dengan Immawati Cicik Noviana.

            Dukungan penuh dari senior kami rasakan sebagai amunisi yang turut menggerakkan kapal periode ini. Terima kasih untuk perjuangan abadi yang tak kan pernah hilang dari memori kami. Salam hormat buat kakanda-kakanda  terhebat, empat serangkai : M.A. Muazar Habibie, Junaedi Yusuf, Edi Sucipto dan Barry Aditya. We ‘re rightfully proud of you...

            Sungguh romantika ketika itu mengisahkan alur cerita yang tak akan habis untuk dikenang. Tak hanya perjuangan yang abadi untuk IMM, bahkan diantara mereka menemukan cinta sejatinya di ikatan ini.

            Ada juga diantara kami yang berhasil merajut tali cinta meski harus kandas di ruang hampa. Sementara saya sendiri masih jomblo, tapi meski jomblo saya bahagia lhoo... JOJOBA. Itu pula yang jadi “slogan” para jomblowan dan jomblowati. Mengapa saya jomblo? Itu semua kembali ke prinsip saya bahwa saya tidak akan pernah berpacaran selama kuliah. Saya ingin fokus ke kuliah dan kegiatan organisasi tanpa harus diribetkan oleh urusan hati.

        Apakah itu artinya aku nggak pernah suka sama makhluk yang namanya cowok? Jawabannya ya pasti pernah lah, kan masih normal jadi cewek... tapi aku cukupkan untuk di dalam hati saja, karena sudah punya komitmen dengan diri sendiri. Apakah nggak ada yang naksir aku? Ada kali hahaha tapi sepertinya takut mau ngomong atau mau nembak wkwkwk...pede aja lagi. LOL

        Pada saat itu, di lingkungan  IMM UMM “pacaran” adalah suatu hal yang ditabukan. Kader yang pacaran “kurang” mendapat tempat sehingga beberapa dari mereka yang pacaran “terpaksa” melakukannya secara diam-diam. Bagi mereka yang pacaran secara “terbuka” harus siap “tersisih” untuk sementara. Entahlah, gimana awal ceritanya sehingga hal itu bisa menjadi kesepakatan yang tak tertulis.

            Tidak hanya itu, tabu juga nonton film di bioskop bagi para kader. Kesan “kurang baik” akan tersemat pada kader yang suka nonton film di bioskop. Sehingga mereka pun akan diam-diam kalau nonton film di bioskop. Entahlah, apa karena saat itu belum ada film bermutu di Indonesia sehingga ada aturan tak tertulis seperti itu.

           

Penguatan Tim di Komisariat

Salah satu program besar kami saat itu adalah penguatan tim di komisariat. Berkaca dari pengalaman periode sebelumnya, kami mempunyai PR besar untuk mengorganisir, menggerakkan dan memotivasi kembali semangat kader-kader terutama kader yang di bawah kami untuk bisa bergerak dan memunculkan potensinya masing-masing.

Menjadikan seluruh tim kepengurusan IMM Komisariat Psikologi 1998-1999 menjadi solid adalah janji kami. Kami juga berusaha menyatukan kembali kader-kader yang mengambang, berusaha untuk mewadahi aspirasi mereka dengan segala daya dan upaya.

Untuk itu setiap bidang kami dorong untuk mewujudkan berbagai program/kegiatan yang bisa mengakomodasi dan memfasilitasi kebutuhan kader. Tidak hanya itu, kami juga berusaha untuk menjadikan kegiatan atau aksi yang kami lakukan bisa menarik minat mereka yang belum tergabung dalam IMM.

Diskusi-diskusi panjang dengan para senior sering kami lakukan, untuk merumuskan model dan formulasi kaderisasi baik dalam forum resmi maupun tidak resmi. Kami sangat menyadari bahwa tipologi karakter mahasiswa dan kultur yang melatarbelakangi sangat beragam. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi kami sebagai pengurus di ikatan. Apalagi tak sedikit dari mereka setelah pengkaderan formal pelan-pelan menghilang dan lepas dari ikatan.

Kami pun memaksimalkan berbagai potensi kader yang ada. Program pengembangan potensi akademik kami maksimalkan dengan berbagai program keilmuan.

Pergeseran pola pikir dan tingkah laku mahasiswa yang mulai apatis dengan beberapa aktivitas organisasi ektra maupun intra menjadi pemikiran tersendiri bagi kami. Pemahaman akan pentingnya berorganisasi kami sosialisasikan dengan memberikan hal yang dibutuhkan oleh mahasiswa.

Memang kami harus berusaha menyelami cara berpikir mahasiswa kala itu sehingga IMM bisa diterima oleh mereka. Termasuk dalam hal rekruitmen anggota baru dengan segala macam karakteristik, hobi dan minat. Pendekatan yang sifatnya dari hati ke hati dan tidak kaku yang kami lakukan sehingga mereka bergabung di IMM karena mereka butuh IMM.

Pendampingan/follow up pun kami lakukan terhadap anggota baru yang berhasil kami rekrut. Kami memetakan kader-kader yang sudah ada dalam proses ini, meski dalam pelaksanaannya tidak selalu berjalan lancar. Bahkan ada guyonan diantara kami “sambil menyelam minur air” artinya sambil melakukan pendampingan sambil cari-cari gebetan... ups... namanya juga anak muda. Tapi kayaknya ini hanya berlaku untuk para immawan hahaha... Bahkan ada sebutan “kader penyayang immawati”. Tapi itu semua hanya joke-joke segar yang mewarnai hari-hari kami di IMM biar enggak garing.


imm komisariat psikologi
Nita, ?, Cicik, Ani, Wahyu, Aku, Angga, Mei, Teguh (cowok)

Namun dalam periode kepemimpinan ini, kami belum berhasil mengupayakan kantor komisariat di luar kampus sebagai pusat koordinasi. Kami banyak memanfaatkan Student Center Lantai IV sebagai tempat untuk berkonsolidasi. Indahnya waktu itu, kita mesti harus bertemu karena belum ada yang punyai gawai seperti sekarang. Tak ada medsos sehingga selebaran, spanduk dan banner menjadi pilihan untuk share informasi atau kegiatan.

Kami belum mampu mengembangkan tradisi “membaca” di antara kader kami. Kami tidak ingin kader kami “hanya” menjadi kader pragmatis tanpa muatan intelektual. Untuk itulah kami galakkan Kajian Rutin yang membahas berbagai hal, mulai dari disiplin ilmu Psikologi, kajian keagamaan, sosial budaya dan seni. Semuanya kami lakukan untuk meningkatkan tradisi intelektual sesuai dengan tuntutan zaman global.

Kami menyadari bahwa dalam proses pengkaderan ini masih banyak kelemahan. Pengkaderan merupakan proses yang dilakukan secara bertahap untuk memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki oleh para anggota, melatih sikap, memperkuat karakter, memperluas wawasan dan mengembangkan kecakapan hidup. Sungguh tugas yang tidak ringan...

 

Sekilas tentang kami...

Duo R, Dimana Ada Reni Disitu Ada Retno

fokal imm

Kami berdua kenal sejak awal kami masuk di kampus putih yang beralamat di Jalan Tlogomas 246 ini. Kami semakin dekat setelah mengikuti DAD IMM. Dan di tahun berikutnya saat periode Mas Edi Sucipto saya menjadi Kabid Kader, dan Retno menjadi Kabid Immawati.

Sebagai sekretaris di IMM, dia banyak memberikan ide-ide “smart” meski terkadang gaya manjanya membuat kami tertawa dan tak jarang tergerak untuk menggodanya.

Kami begitu dekat. Tak jarang kami saling curhat tentang hal-hal pribadi. Dan itu semakin mendekatkan hati kami. Kami bagaikan saudara perempuan yang terpisah dari lahir dan bertemu setelah kami sama-sama kuliah. Words can’t describe how thankful I am...

Pada periode kami juga, administrasi organisasi kami tertibkan. Kami membuat buku biodata seluruh anggota yang pernah mengikuti DAD di IMM Psikologi lengkap dengan pas fotonya, meski hanya dengan tulisan tangan. Bukan sebuah prestasi besar sih, tapi bagi kami begitu berharga. Dengan harapan data-data anggota IMM dapat terkumpul dan terdata dengan rapi sehingga memudahkan untuk menggali data ketika mereka menjadi alumni.

 

fokal imm psikologi
Aku, Retno, Suaidah


Teletubbies Yang Fenomenal dan Trio Kwek Kwek Yang Nggak Pernah Mati Gaya

Tahu kan Teletubbies?

Di IMM Psikologi juga ada sekelompok kader yang saking eratnya persaudaraan mereka hingga mereka mentahbiskan dirinya sebagai Teletubbies. Merekalah kader-kader andalan Komisariat Psikologi. Tapi Teletubbies versi ini anggotanya ada lima orang. Ada Azwar, Parjono, Yerry, Deni dan Zaenal.

Mereka selalu kompak dalam setiap agenda kegiatan, meski tak jarang berselisih pendapat. Terkadang mereka nampak kekanakan, manja dan mengadu pada mbak-mbaknya ini.  Kami pun dengan sabar mendengar keluh kesah mereka. Kami sudah seperti kakak-adik yang bersama-sama menjalani suka dan duka.

Semangat mereka luar biasa, loyalitasnya tak perlu diragukan lagi, meski ada diantara mereka yang masih angin-anginan dan jarang hadir di berbagai konsolidasi internal dan beberapa aksi kegiatan. Siapa dia? Biar mereka berlima yang menjawabnya. Namun dengan kesabaran dan upaya dari seluruh pimpinan dan senior, kader tersebut bisa kembali bersama menyatukan gerak dan langkah di ikatan.

Ah sayang, nggak punya foto mereka berlima dalam satu frame...

imm psikologi umm
Wahyu, Retno, Aku, Deni, Azwar


            Immawan yang berkaos biru itu, siapa yang tidak kenal? Suaranya yang cadas menggelegar menggambarkan semangatnya yang selalu berkobar. Menyalakan api semangat dalam ikatan. Sense of humor yang dimilikinya tak jarang membuat perut kami sampai kaku dibuatnya. Bukan kaku karena lapar tapi kaku karena terpingkal. Selalu ada aja ide untuk membuat banyolan-banyolan yang membuat kisah kami semakin penuh dengan keceriaan. Dialah Immawan Azwar Djakfar. Thanks Bro, That’s very kind of you...

Ada juga Trio Kwek-Kwek... entah siapa yang memberi julukan ini pada kami bertiga, Aku, Retno dan Iin. Sepertinya para anggota teletubbies yang menjuluki kami. Dan kenapa pula nama itu diberikan kepada kami. Yang jelas itu semua sebagai bukti kerekatan kami yang telah disatukan oleh ikatan hati.

 

The Indefatigable Man

Kader adalah ujung tombak dan tulang punggung bagi keberlangsungan ikatan ini. Eksistensi organisasi IMM ini akan tetap terjaga bila kader berdaya dan berjalan pada relnya.

Bidang Kader dibawah pimpinan Immawan Parjono memiliki tugas yang tidak ringan. Peran yang besar harus dijalankan untuk memantapkan kinerja pengkaderan. Mulai dari mencari bibit-bibit baru hingga menebalkan rasa cinta dan rasa memiliki terhadap ikatan bagi kader yang sudah ada.

Bidang kader pun mendapat support penuh dari pimpinan harian dan bidang-bidang lainnya dalam mendampingi dan membina kader agar lebih mature dan involved di ikatan. Kami sering mendiskusikan bagaimana strategi dan pengembangan kaderisasi di IMM Psikologi.

Maunya kami, pasca DAD semua anggota dapat terlibat secara aktif di pergerakan. Namun pada kenyataannya, lebih banyak yang pasif dan kurang peduli. 

Kami pun terus menganalisa dan mencari penyebab hal itu terjadi, hingga mencari solusi terbaik. Immawan Parjono dengan dedikasinya yang luar biasa, energinya yang seperti tak ada habisnya dia curahkan untuk ikatan. Dengan tubuh mungilnya dan dedikasinya yang luar biasa telah menggoreskan kisah tersendiri di IMM Psikologi. Proud of you, Bro...

imm psikologi

Masih teringat jelas saat dia ngos-ngosan, berpeluh keringat, wara-wiri kesana kemari mengurus berbagai hal demi kelancaran sebuah acara. Dan semangat ini juga diwarisi oleh salah satu kader yang juga luar biasa semangatnya, meski sedikit “lebih lembut” dialah Immawan Kukuh Pranadi. Dan keduanya pun terpilih sebagai ketua komisariat di periode yang berbeda.

Ada satu kader lagi dibawahnya Kukuh Pranadi, yaitu Lukman asal Ngawi. Dia menjadi kabid kader saat Kukuh menjadi ketua komisariat. Dan akhirnya pun menjadi ketua komisariat. Aku pernah pinjam sepeda Lukman untuk penelitian saat skripsi. Dan aku membuat sepedanya rusak karena aku mengalami kecelakaan yang menyebabkan aku harus bedrest selama satu bulan. Aku kecelakaan bersama Wahyu Retno yang ikut aku saat penelitian. Maafkan ya dik, kamu harus terluka saat itu... Satu hal yang aku ingat, Ibu dan kakak Wahyu sampai datang ke Trenggalek untuk menjengukku, padahal aku yang telah dengan tidak sengaka mencelakakan putrinya. Terima kasih juga buat Kanda senior Muazar Habibi, Edi Sucipto dan Junaedi Yusuf yang bahu membahu membantu pasca kecelakaan itu, termasuk membawa sepeda motor Lukman ke bengkel. Habis berapa ya waktu itu, aku lupa nanya...hihihi...

fokal imm
Kukuh (duduk), Anita, Wahyu, Retno, Aku


Program-Program Unggulan

Ada beberapa program unggulan yang sifatnya insidental. Program-program ini lebih mengarah pada penguatan sisi keilmuan para kader dan mahasiswa umum.

1.   Kunjungan Industri ke PT. Semen Gresik (sekarang Semen Indonesia)

Kunjungan industri yang kami selenggarakan ini sebagai upaya untuk menambah bekal keilmuan dalam dunia Psikologi Industri. Selama di kampus mahasiswa sudah mendapatkan materi kuliah yang berkenaan dengan berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya manusia, namun itu  hanya sebatas teori saja. 

Dengan kegiatan ini, IMM Psikologi hadir untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa sebagai kader IMM agar dapat mengetahui secara langsung bagaimana sebenarnya manajemen sumber daya manusia dalam dunia industri itu dijalankan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi atau kontroling.

Kunjungan industri kali dilaksanakan pada waktu yang bersamaan, yaitu ke PT. Semen Gresik dan PT Petrokimia Gresik. Karena dua kunjungan dilaksanakan secara bersamaan, kami selaku pengurus komisariat pun dibagi menjadi dua untuk mendampingi peserta. Saya, Parjono, Iin, Wahyu Retno, Fani, Eli ke PT Semen Gresik.

Gresik saat itu adalah kota yang masih asing bagi saya. Eh, sekarang malah saya yang jadi orang Gresik 

 

kegiatan imm psikologi umm
Wajahnya masih culun hihihi


2.   Kunjungan Industri ke PT. Petrokimia Gresik

 

Yang bertugas mendampingi peserta kunjungan industri ke PT Petrokimia Gresik antara lain Mas Edi Sucipto, Azwar, Zaenal, Retno, Himatul Ulya, Tuti Rahmi.

program kerja imm

Alhamdulillah acara ini berjalan dengan sukses. Ketua Panitianya saat itu Immawan Budi (berkaos merah).

fokal imm

 

3.   Kunjungan Studi ke RSJ Lawang

Kunjungan ini bertujuan untuk melihat proses penanganan psikologis di RSJ Lawang Malang. Lebih jauh lagi, kami bisa mengetahui bagaimana tugas dan peran psikolog di ranah Psikologi klinis ini. 

Kami diajak keliling mengunjungi bangsal-bangsal yang ada disana. Kami jadi tahu prosedur penanganan pasien dengan gangguan jiwa yang berbeda-beda sesuai dengan berat ringannya atau macam gangguan jiwanya.

Sayangnya, saya nggak punya foto-foto saat di RSJ Lawang.

Ini adalah foto kebersamaan kami setelah dari RSJ Lawang.

imm psikologi

 

4.   Seminar Nasional Disintegrasi Bangsa

Kasus kerusuhan Mei 1998 tak luput dari perhatian kami di IMM Komisariat Psikologi. Maraknya aksi demonstran, situasi politik yang penuh dinamika hingga mengarah kepada perpecahan di dalam bangsa Indonesia adalah hal yang menarik untuk dikupas dalam kaca mata psikologi.

Krisis ekonomi, politik, sosial dan budaya kala itu ditandai dengan protes besar-besaran yang dilakukan oleh para mahasiswa hampir di seluruh Indonesia. Kerusuhan dan penjarahan yang membabi buta merupakan fenomena yang layak untuk dikaji secara akademis. 

Untuk itulah, kami bersama dengan para senior mencetuskan kegiatan Seminar Nasional Disintegrasi Bangsa. Ini adalah gawe besar kami kala itu karena berskala nasional. Kerja yang tidak ringan. Kami pun bagi tugas, mulia dari senior, pimpinan harian dan para kader di bawah kami. Semua mendapatkan tugas untuk mensukseskan acara ini.

Pembicara yang kami undang antara lain Bapak Darmanto Jatman Guru Besar Emeritus di Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang, seorang budayawan, filosof dan penyair Indonesia.

Pembicara lainnya Bapak Sarlito Wirawan Sarwono, psikolog dan guru besar dari Universitas Indonesia yang mendalami bidang psikologi sosial. Sedangkan pembicara lokal, kami mengundang Ibu Tridaya Kisni.

 

program kerja imm

Acara ini dikomandani oleh Kabid Hikmah Immawan Yeri Abdillah, seorang immawan yang kala itu terobsesi oleh ketampanan aktor Bucek Deep. Dia pun menyebut dirinya sebagai Yerry Deep :D #tepokjidat

Pernah juga dia pedekate dengan mahasiswa baru, tapi ceritanya tak berbuah manis alias layu sebelum berkembang.

imm psikologi

Ada hal yang membuat tertawa geli saat mempersiapkan seminar nasional, yaitu saat pencarian dana. Saat itu dana yang kami punya masih sangat minim, tapi entah bagaimana ceritanya untuk mencari dana dengan mengirim proposal ke berbagai perusahaan besar, panitia menyewa mobil. 

Bayangin aja, uang masih minim tapi malah rental mobil. Terus kita berangkat bareng-bareng keliling mencari dana. Kayaknya untuk rental mobil kami patungan deh... sesuatu yang nggak efisien banget kaan... Belum lagi kami masih harus nyari-nyari alamat perusahaan tujuan kami, hingga tak jarang kami harus bolak-balik karena salah jalan. Coba dulu ada GPS, pasti ceritanya lain. 

Tapi semua lelah, peluh dan kerja keras terbayar sudah dengan suksesnya acara Seminar Nasional ini. Sang ketua sempat hampir linglung dibuatnya...

Good job, Boy...

 

5.   Dialog Remaja

Acara berikutnya yang berskala regional kami gelar. Energi besar dan pemikiran kami curahkan lagi pada acara ini. Kali ini Immawati Sri Retno Yuliani yang menjadi ketuanya. Tim yang solid kala itu ada Azwar, Parjono, Sofiana Nurul Khasanah, Kukuh Pranadi, Teguh Iman Santoso, M. Faiq, Anang, Iin, Nurul Arofah  dan yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Dinamika kehidupan di usia remaja yang begitu variatif, tidak stabil, bergejolak dan penuh tantangan telah mencuri perhatian kami kala itu. Pergeseran nilai yang terjadi di tengah-tengah masyarakat tentu berpengaruh pada kehidupan remaja sebagai sumber daya manusia yang potensial. Harus ada komunikasi dua arah antara orang dewasa dan remaja sehingga tercipta sinergi yang memberdayakan.

Untuk itulah kami menyelenggarakan Dialog Remaja dengan menghadirkan pembicara inti Kak Kresno Mulyadi, SpKJ. Acara ini diikuti tidak hanya oleh mahasiswa psikologi tapi juga siswa siswi setingkat SMA.

program kerja imm
Iin, Nurul, Faiq, Kukuh, Aku, Sofie, Parjono
Teguh, Anang (atas)


6.  
Seminar Psikologi Islam

Seminar ini terlaksana berkat kerjasama dengan FOSIMAMUPSI (Forum Silaturahmi Mahasiswa Muslim Psikologi). Seminar yang menghadirkan Bapak Hanna Djumhana Bastaman (Universitas Indonesia) ini mendapatkan antusiasme yang sangat besar di kalangan mahasiswa psikologi. Beliau adalah orang yang intens dan sangat serius mengkaji keterkaitan antara psikologi dan Islam

Seminar ini mengupas tuntas peran psikologi Islam dalam mengatasi persoalan-persoalan kejiwaan di masyarakat. 

Ini adalah moment saat menjemput Bapak Hanna Djumhana Bastaman di Hotel Montana Malang

program kerja imm psikologi


Ingatlah... Niat Telah Diikrarkan

Selain berbagai kegiatan yang telah menjadi program dalam komisariat, kami juga aktif mengikuti agenda kegiatan yang diselenggarakan pihak di luar komisariat, IMM Komisariat Psikologi mengirimkan kadernya pada acara Seminar Fosimamupsi di Jombang. Saat itu kami mengutus kader-kader terbaik seperti Immawan Azwar, Yeri, Deni, Zaenal dan Immawati Cicik, Tuti Rahmi, Fitri dan Suaedah.

Selain itu, kami juga mengirimkan Kabid Kader untuk mengikuti Latihan Instruktur Dasar (LID) di Surabaya dengan harapan agar dapat lebih memahami seluk beluk perkaderan dengan baik, mampu mentransfer wawasan keilmuan dan mampu memberikan penguatan nilai-nilai ideologi organisasi dengan suri tauladan yang baik seperti yang menjadi semboyan IMM : Anggun dalam moral, Unggul dalam Intelektual.

Lebih jauh lagi diharapkan dengan mengikuti kegiatan tersebut tentunya mampu mencetak instruktur yang handal, kreatif dan inovatif dalam merumuskan dan menjalankan sistem perkaderan di tingkat dasar (Darul Arqom Dasar).

Berbagai aksi mahasiswa saat harus turun ke jalan juga kami ikuti. Sebagai elemen dari gerakan mahasiswa kita pun tergerak untuk melakukan perubahan.

 

Nggak mau dianggap sebagai anak emas

IMM sebagai anak yang lahir dari rahim Muhammadiyah, menjadi organisasi otonom Muhammadiyah yang sudah sewajarnya mendapatkan dukungan penuh dari “orangtuanya”. IMM sempat dijuluki sebagai anak emas di UMM, sehingga fasilitas pun tersedia untuk berbagai kegiatan yang menunjang kesuksesan roda organisasinya.

Tapi itu semua tidak serta merta membuat kami kader yang manja. Kami juga mencoba berdiri di atas kaki sendiri dengan berbagai upaya. Salah satunya dengan mengadakan bazar buku tunggal yang  bekerjasama dengan beberapa penerbit.

Bergantian kami menjaga stand di sela-sela jam kuliah kami, bahkan beberapa kami rela meninggalkan jam kuliah. Beberapa hari kami harus berkutat dengan “jualan” kami.

program kerja imm
Respati, ?, Wiwik, Aku, Fani, Ely, Fitri


Selain itu, pada moment wisuda kami juga menggelar “dagangan” baik itu berupa produk makanan, jilbab, pakaian dan yang lainnya.

 

Berjalan beriring seirama...

Kami tidak hanya hidup di dalam IMM Komisariat Psikologi saja. Kami tidak mau bagaikan katak dalam tempurung. Silaturahmi dengan komisariat lain pun intens kami lakukan. Juga dengan pengurus IMM di level atas, seperti di tingkat korkom, dan cabang. 

Konsolidasi gerakan pun intens kami lakukan, termasuk menjalin keakraban diantara mereka. Meski friksi tetap terjadi. Sinergi antara pimpinan di komisariat, korkom dan cabang tentu sangat diperlukan untuk mencapai tujuan IMM yaitu Mengusahakan terbentuknya Akademisi Islam yang Berakhlak Mulia dalam rangka mencapai Tujuan Muhammadiyah.

 

fokal imm umm
Mbak Inung, Mbak Atis, Aku, Mas Rofiq, Rino (alm), Iswanto, ?, Syahna


fokal imm umm

MUSYKOM XI IMM KOMISARIAT PSIKOLOGI

Pergantian kepemimpinan untuk melanjutkan perjuangan dalam berfastabiqul khoirot adalah suatu proses yang harus dilakukan untuk memilih pemimpin yang terbaik yang akan membawa IMM Komisariat Psikologi menjadi lebih maju dan berkinerja maksimal.

Bertempat di aula BAU Kampus 3 UMM yang sekaligus menjadi saksi sejarah diserahkannya tongkat estafet kepemimpinan di Komisariat Psikologi tahun 1999. LPJ (Laporan Pertanggungjawaban) dari berbagai program kerja yang menjadi tanggung jawab kami diterima oleh para seluruh anggota ikatan.

program kerja imm
Wiwik, Jono, Uul, Retno, Aku, Ririn

program kerja imm
Mas Edi, Iin, Ririn, Aku, Sofie, Retno, Tuti, Ina


Abadi Perjuangan Kami...

Masih panjang perjalanan IMM ini untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan mulianya. Seringkali IMM disibukkan pada permasalahan internal organisasi yang tak kunjung usai. Konflik antar kader masih sering ditemui, sehingga menghambat laju pergerakan ikatan.

Jangankan untuk merambah pada tataran praksis gerakan nyata di tiga ranah dalam Trilogi IMM  yakni keislaman, kemahasiswaan dan kemasyarakatan, gerakan IMM yang belum bisa mandiri dengan sepenuhnya dan masih sebatas wacana intelektual semata masih menjadi PR besar yang memerlukan langkah-langkah strategis.

Tapi kita harus selalu optimis bahwa semakin hari IMM semakin diakui dengan kualitas kader-kader yang ada di dalamnya. Merekalah yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan Muhammadiyah.

JAYALAH IMM...JAYA

 

           

           

           

           

  

6 komentar:

  1. Balasan
    1. wkwkwkwk...komen e sampek triple ngono mas

      Hapus
  2. Masya Allah.. perjalanannya di IMM luar biasa Ayunda yang satu ini. Pantas saja sekarang mb Reni juga luar biasa sebagai ibu, guru, dan peran-peran lain yang diemban.
    Bangga bisa mengenal Mbak Reni 😍

    BalasHapus
  3. Assalamu'alaikum mbakyuku tercinta, ada yg perlu sy luruskan, disana dijelaskan bahwa cak Lukman Ngawi menjadi Kabid organisasi saat sy jd ketua komisariat, itu kebalik mbak hehe... Mas Lukman senior sy 1998 sedangkan sy 1999, sy yg jd kabid organisasi saat mas Lukman jd ketua Komisariat hehe..., saya bangga dan bersyukur mengenal mbak Reni yg luar biasa, salut sukses dan bahagia selalu ya mbak

    BalasHapus