14 Juli 2021

IMPLIKASI FILOSOFI PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA PADA GURU

pict. from ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id

Dunia pendidikan nasional tidak akan pernah lepas dari salah satu sosok yang sangat berjasa dalam bidang pendidikan yaitu Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara. 

Beliau dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden Soekarno pada tahun 1959 dan ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Bahkan sebagai penghormatan terhadap beliau maka tanggal lahir beliau ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beliau lahir pada tanggal 2 Mei 1889.

Pemikiran-pemikirannya dalam dunia pendidikan sangat luar biasa, dan tidak akan pernah hilang ditelan jaman. Berikut ini implikasi filosofri pendidikan Ki Hajar Dewantara bagi seorang guru.

Pertama : Pendidikan dan Kebudayaan

Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan. Pendidikan dan kebudayaan merupakan satu kesatuan. Untuk mencapai kebudayaan dan peradaban bangsa yang dicita-citakan maka pendidikan merupakan landasan pembentukan peradaban bangsa. Dengan kata lain, pekerjaan kita sebagai pendidik/guru bukan hanya pekerjaan melayani saat anak belajar di sekolah, memberikan tugas-tugas pembelajaran, transfer ilmu pengetahuan, berupaya agar nilai siswa hasilnya baik, dan sebagainya. Tapi lebih dari itu bahwa pekerjaan kita sebagai guru merupakan pekerjaan untuk menjemput kebudayaan yang kita cita-citakan. Ini sungguh luar biasa karena ini adalah pekerjaan untuk membangun sebuah peradaban. Untuk itu sebagai pendidik/guru kita harus melakukan upaya terbaik, dengan sekuat tenaga dan pikiran untuk kita curahkan pada proses pendidikan anak-anak bangsa.


Kedua : Pendidikan dan kebudayaan adalah hal yang dinamis

Pendidikan dan kebudayaan adalah hal yang dinamis, selalu berubah dan bergerak sesuai kodrat alam dan kodrat zaman. Pendidikan tidak boleh statis karena pendidikan harus dapat menjawab tuntutan zaman. Kita sebagai guru juga harus berani berubah. Kita tidak boleh merasa nyaman dengan apa yang sudah kita lakukan terhadap anak didik kita. Kita harus selalu mencari hal yang baru, belajar hal yang baru untuk kita persembahkan kepada anak didik kita. Kita harus menjadi guru yang transformatif, bergerak dan tidak menjadi guru jadul. Zaman sudah berubah. Guru pun harus memberikan pelayanan pendidikan sesuai tuntutan zaman.


Ketiga : Guru itu menuntun

Guru menuntun segala kodrat yang ada pada anak. untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan dan Pendidik yang memandang anak dengan rasa hormat. Semua yang kita lakukan di bidang pendidikan harus berorientasi penuh pada anak/siswa. Ki Hajar Dewantara menyebutkan asas dari Taman Siswa yaitu “Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak, tidak untuk meminta suatu hak namun untuk berhamba pada sang anak”.

Ini artinya bahwa orientasi pada anak adalah hal yang paling utama dan esensial bagi kita para pendidik. Asas tersebut sungguh menggetarkan hati, betapa untuk mendidik sebuah generasi memerlukan ketulusan hati tanpa pamrih dan berupaya melakukan semua yang terbaik demi anak didik menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, tangguh dan bijaksana.


Keempat : Cipta, Karsa dan Karya

Pendidikan adalah perubahan budi pekerti

Budi = cipta, rasa, karsa (pikiran, rasa, kemauan)

Pekerti = tenaga/raga

Dalam filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, perubahan cipta, rasa dan karsa harus seimbang. Sebagai pendidik/guru kita mempunyai peran yang sangat besar dalam membantu mereka untuk olah cipta (menajamkan pikiran), olah rasa (menghaluskan rasa), olah karsa (memperkuat kemauan) dan olah raga (menyehatkan jasmani). Pendidikan itu harus holistik dan seimbang. Jika kita sebagai guru melakukan pendidikan yang seimbang maka akan dapat menghadirkan generasi yang penuh dengan kebijaksanaan


Kelima : Berpihak pada anak

Pendidikan harus memenuhi tumbuh kembang anak. Anak tidak ada yang sama, bahkan kembar identik sekalipun. Anak-anak berkembang sesuai keunikannya sendiri. Mereka pun memiliki kemampuan yang berbeda, kecepatan belajar yang berbeda pula. Sebagai pendidik/guru, maka harus benar-benar memahami hal tersebut. Mereka tidak bisa dipaksakan untuk menguasai semua kompetensi yang ada. Kitalah sebagai gurunya yang harus mampu memunculkan keunikan pribadi yang menjadi bakatnya untuk kemudian dikembangkan menjadi suatu kelebihan yang membawa manfaat bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Kita fasilitasi mereka untuk mengoptimalkan potensinya sesuai dengan keunikannya masing-masing.


Keenam : Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani

Guru sebagai aktor, motivator, fasilitator bagi peserta didiknya. Pembelajaran bermakna akan tercipta jika iklim kelas kondusif dan peserta didik dapat belajar sesuai minat dan bakatnya tanpa adanya intimidasi. Hal tersebut dikemukakan sesuai konsep merdeka belajar". Pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan dan pengajaran yaitu sesuai dengan slogan pendidikan di Indonesia. Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Artinya di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan. Contoh sederhana yaitu sebagai guru, kita harus mencontohkan attitude yang baik di depan atasan, rekan, siswa dan orang tua siswa. Guru memberi semangat, menjadi motivator untuk siswa-siswinya. Guru mendorong kepada siswa-siswinya dapat berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar